**
Isakan tangis itu masih terdengar mendominasi di keadaan yang hening ini. Tubuh gadis belia itu nampak bergetar seiring dengan deru napasnya yang tersengal. Entah mau sampai kapan ia menangis, Mayang pun tak tahu. Meski mata cokelatnya sudah memerah dan kelopak matanya membengkak, tapi linangan itu tak juga surut dari muaranya.
"Nona .... " lirih Jass sang bodyguard setianya seraya memegang bahu Mayang dengan perlahan.
"Jass ... aku takut ... aku takut sekali ... " keluh Mayang.
Bagaimana ia tidak takut jika karena dirinya Opa menjadi sakit parah? Bagaimana ia tidak gelisah jika saat ini kebencian Ibunya semakin menjadi-jadi kepadanya?
"Nona, berdoalah! Hanya Tuhan yang bisa membantu masalah anda," kata Jass menasehati Tuan Putrinya yang dilanda kedukaan.
"Jass ... " Mayang membenamkan tubuhnya pada d**a bidang lelaki dewasa tersebut untuk ke dua kalinya. Menangis lebih kencang lagi untuk meluapkan kerisauan hatinya.
"Sabar, Nona! Sabar! Anda gadis yang istimewa karena diberi ujian seperti ini."
"Aku tidak mau jadi istimewa, Jass. Aku ingin seperti teman-temanku lainnya."
Jasson mengeratkan pelukannya, meski ada rasa tidak enak hati karena sudah lancang menyentuh tubuh Mayang, tapi ini sekedar untuk membuat gadis itu merasa nyaman dan tenang. Tugasnya memang tidak hanya untuk melindungi fisik Mayang, tapi juga psikologisnya. Seperti janji Jasson pada seseorang, seseorang yang hanya bisa menatap Mayang dari kejauhan, seseorang yang tidak bisa menujukkan cintanya secara langsung pada Mayang dan lewat Jass-lah orang itu menjaga Mayang, melalui tangan Jass-lah ia menyentuh dan merengkuh Mayang. Seseorang yang bersembunyi dan tidak ingin diketahui wujud serta keberadaannya.
"Kenapa Mommy membenciku, Jass? Apa salahku? Jika Mommy bersikap baik denganku maka aku pun tidak akan pergi dari rumah dan Opa ... opa ... Opa tidak akan sakit seperti sekarang ini." Mayang meracau berdasarkan isi kepalanya.
Gadis itu mendongakkan wajahnya agar bisa lebih leluasa menatap wajah Jass yang selalu tenang dan tanpa ekspresi. "Jass, ini bukan salahku kan? Ini salah Mommy! Aku tidak bersalah, Jass. Kamu setuju denganku kan jika ini salah Mommy?" tanyanya, meminta pendapat Jass untuk mencari dukungan bahwa dia memang berada di posisi yang benar.
"Nona, anda memang tidak sepenuhnya bersalah. Karena memang ada suatu keadaan yang anda tidak mengerti," jawab Jass.
Lelaki itu melepas pelukannya lalu menyerongkan badannya hingga kini ia dan Mayang tengah duduk dalam posisi berhadap-hadapan.
"Apa yang tidak aku mengerti, Jass? Katakan padaku!"
"Saya pun sudah bilang, belum saatnya anda tahu, Nona."
"Lalu kapan, Jass? Aku berhak tahu kenapa aku diperlakukan seperti ini. Kamu tahu semuanya, Jass. Dan kamu menyembunyikannya dariku."
"Nona, inilah kesalahan anda. Anda tidak percaya dengan saya. Saya sudah pernah bilang pada anda, saya yang akan menjamin kebahagiaan anda suatu saat nanti. Dan pada akhirnya anda pasti akan tahu semua yang terjadi. Untuk saat ini menurutlah pada apapun yang Ibu anda katakan, Nona! Jangan pernah pergi lagi dari rumah! Percayalah pada saya! Saya tidak akan pernah meninggalkan anda," papar Jass dengan penjelasan yang cukup panjang.
"Tapi aku lebih nyaman tinggal bersama Mas Raka dan Bunda Amel, Jass. Mereka lebih memanusiakan aku dari pada Mommy."
Mendengar nama Raka disebut, Jass merasa pernapasannya tercekik oleh udara yang dihirupnya sendiri. Ada rasa tidak terima yang bercokol dalam hatinya. Selama ini hanya Jass satu-satunya lelaki yang bersama Mayang, menjaga Mayang dan melindungi Mayang. Dan kini datanglah seorang lelaki bernama Raka yang menjadi pesaingnya, yang dapat memberi kenyamanan dan perlindungan untuk Mayang dalam waktu yang sekejap. Bahkan, dengan mata kepalanya sendiri, Jass melihat keberanian Raka saat berdiri melawan Sandrina yang kejam dan otoriter.
"Dia orang asing, Nona."
"Dan aku lebih nyaman bersama orang asing, Jass."
Hanya saya yang boleh ada di sisi anda, Nona, Hanya saya saja! Pikir Jass. Keegoisan muncul pada dirinya, sifat posesif dan merasa memiliki mengusai diri Jass.
**
Sepasang suami istri yang entah apakah layak disebut pasangan atau tidak, tengah duduk di depan ruang ICU di mana orang tua mereka di rawat. Sifat mereka saling dingin satu sama lain, jarang bertegur sapa, hanya perdebatan yang kerap kali terjadi saat salah satu di antaranya mencoba untuk membuka komunikasi. Pemikiran yang selalu tidak sepaham, bahkan mereka tidur dalam kamar yang berbeda. Reyhan Soesetya dan Sandrina Arneshia Soesetya, yang terikat dalam pernikahan, tapi kehidupan mereka tak seperti layaknya suami istri yang membangun rumah tangga.
"Seharusnya kau tidak menyalahkan Mayang! Ini murni kesalahanmu," kata Reyhan dengan suara lirih. Napas lelaki itu terdengar berat, seberat dengan pikirannya yang kalut karena permasalahan anak dan ayah mertuanya.
"Dia meninggalkan rumah dan kau bilang dia tidak bersalah?" Selalu membantah. Mana mungkin Sandrina menyetujui perkataan suaminya.
"Tapi ketahuilah apa alasan Mayang meninggalkan rumah. Itu karena dirimu!"
Perdebatan terjadi, dengan suara yang pelan, tapi penuh dengan penekanan. Tanpa memandang lawan bicara satu sama lain, seolah mereka sedang beradu argumen dengan makhluk yang tak kasat mata. Masih menjadi teka-teki bagi setiap orang yang melihat pasangan ini, bagaimana dan mengapa mereka bisa menikah dengan konsep pernikahan yang tidak layak disebut dengan pernikahan.
"Aku tidak akan menghukumnya jika dia tidak mempermalukan aku."
"Kau bisa lebih lembut dalam menghukumnya, San. Mayang sudah beranjak dewasa. Dia bukan anak kecil lagi yang hanya akan menuruti setiap perkataanmu. Harus berapa kali aku bilang padamu, berikan haknya sebagai anak remaja. Biarkan dia bergaul lebih leluasa bersama teman-temannya. Dengan begitu dia tidak akan mencuri waktu seperti yang ia lakukan kemarin."
"Dia anakku! Aku yang berhak untuk berbuat apapun dengannya."
"Tapi dia juga anakku, justru aku mencintainya melebihi kau mencintai Mayang!"
Perdebatan ke dua orang tua Mayang pun terpaksa harus usai, saat Dokter keluar dari ruang perawatan Tuan Ardi Soesetya.
Mereka kompak berdiri dari tempat duduk mereka. Mendekat pada Dokter lelaki yang kini berdiri di dekat pintu ruang ICU.
"Bagaimana keadaan papi saya, Dok?" tanya Sandrina.
"Tuan Ardi masih dalam keadaan kritis, Nyonya. Banyak-banyaklah berdoa!"
Selepas dokter pergi, wajah sedih Sandrina tergurat jelas dalam paras cantiknya.
"Ini semua karena Mayang. Dan lelaki muda itu, yang sudah berani menantangku!" gerutu Sandrina emosi. Dia mengepalkan tangannya seperti hendak memukul lawannya.
"Lelaki muda siapa maksudmu?" tanya Reyhan tidak mengerti.
"Lelaki muda yang dipanggil Raka oleh Mayang. Dia berani melawanku. Dia juga yang membawa pergi Mayang dari kejaran bodyguard-ku," jawab Sandrina.
"Dia lelaki baik yang sudah bersedia melindungi Mayang. Bagaimana jika Mayang bersama orang yang salah? Anak kita itu cantik, banyak pria yang akan mengincarnya, San. Harusnya kau berterima kasih pada Raka!"
"Kau ini memang selalu saja mendebatku!"
"Karena pemikiranmu yang selalu salah!"
"Sudahlah! Aku lelah! Lebih baik kau yang menjaga Papi! Aku ada urusan!"
Sandrina sudah mencangklongkan tasnya yang mahal dan berharga puluhan juta di pundak dan bersiap untuk pergi.
"Urusan dengan teman-teman sosialitamu? Aku tidak mengerti, hal baik apa yang ada padamu! Kasihan Mayang memiliki ibu sepertimu!"
"Tutup mulutmu, Rey! Kau hanya boneka papiku! Kau tidak berhak untuk mengomentari hidupku!"
"Astagfirullah!"
Sandrina tidak menghiraukan Reyhan. Dia selalu bertindak sesuka hatinya dan semaunya sendiri. Tidak ada yang bisa melawannya. Sandrina terlalu angkuh untuk ditaklukan.
**
Raka merasa badannya sangat lelah. Selepas dari rumah sakit untuk mengantar Mayang, ia segera pergi menuju ke cafe. meski rasanya ingin istirahat, tapi dia tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja. Raka bekerja dengan tidak fokus, pikirannya selalu tertuju pada Mayang, Mayang dan Mayang. Hingga kecerobohan pun terjadi, lelaki itu tanpa sengaja menjatuhkan sebuah gelas yang dibawanya.
"Pyar .... " Benda yang terbuat dari kaca tersebut membentur ke lantai hingga hancur dan menyisakan kepingan-kepingan tajam.
Semua orang yang ada di dapur seketika itu juga menoleh ke arah Raka. Raka pun terhenyak ia tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi. Semuanya serasa begitu cepat.
"Ka, lu kenapa?" tanya Andika rekan bisnis sekaligus sahabat Raka.
"Maaf, Dik! Gue melamun," jawab Raka sambil berjongkok untuk mengambil pecahan-pecahan gelas itu dengan tangan telanjang dan menjadikannya menjadi satu.
"Tolong ambilin sapu dong!" pinta Andika pada anak buahnya.
"Aow .... " keluh Raka. Sebuah pecahan runcing menusuk jari telunjuknya hingga mengeluarkan cukup banyak darah yang menetes hingga mengotori keramik yang berwarna putih.
"Harusnya lu bersihin pake sapu bukan pakai tangan lu!" tegur Andika.
"Sha, tolong bersihkan pecahan kelas ini ya! Aku mau ngobatin tangan Raka dulu," lanjutnya memerintah Marsha, salah satu anak buah mereka.
Andika dan Raka berada pada ruangan di mana tempat mereka biasanya beristirahat. Andika membawakan kotak P3K untuk Raka. Raka terlihat duduk sambil melamun. Pikirannya benar-benar tidak konsentrasi, dia terlalu sibuk memikirkan nasib Mayang. Dia takut jika Mayang disiksa lagi oleh ibunya. Dia takut jika Mayang pergi lagi dari rumah dan bertemu dengan orang jahat.
Baru saja bertemu, gadis itu pun bukan siapa-siapa untuknya, tapi Raka tidak bisa untuk berhenti memikirkan Mayang. Rasanya Mayang seperti sudah bertahun-tahun dikenalnya. Bahkan, nasib Mayang bukan menjadi sebuah tanggung jawabnya, tapi Raka merasa wajib untuk melindungi gadis itu. Seperti sudah terjalin sebuah ikatan di antara ke duanya yang menjadikan mereka saling khawatir satu sama lainnya.
"Lu kenapa sich, Ka? Kenapa gue liat lu melamun terus sejak tadi. Ada masalah?" tanya Andika keheranan. Tidak biasanya Raka bersikap seperti ini, bahkan saat patah hati sekali pun ia masih bersikap profesional dalam bekerja.
"Gue mikirin Mayang, Dik," jawab Raka lesu.
"Eh iya, di mana Si Mayang? Dia kenapa emang?" tanya Dika sambil memasang plester pada jari Raka yang terluka.
Persahabatan Raka dan Andika sudah sangat dekat. Sejak jaman sekolah dasar mereka sudah saling mengenal dan menjadi teman akrab. Tidak ada satu pun yang mereka sembunyikan, mereka memiliki prinsip untuk saling terbuka. Membahas semua pertikaian apapun dengan kepala dingin. Mereka terbiasa membagi masalah mereka sekecil atau serumit apapun masalah itu dan mencari jalan keluar bersama.
"Mayang udah balik ke tempat orang tuanya. Justru karena itulah gue jadi kepikiran banget sama dia," jawab Raka.
"Dia balik ke tempat orang tuanya, tapi kenapa lu malah kepikiran? Dia beneran sepupu lu apa bukan sih?"
Raka menggelengkan kepalanya, "Mayang itu bukan sepupu gue, dia bukan siapa-siapa gue."
"Terus dia siapanya lu?" Andika semakin ingin tahu tentang jati diri Mayang. sejujurnya lelaki itu sudah terpikat oleh pesona keluguan Mayang sejak pertama ia bertemu dengan gadis itu.
"Jadi ceritanya begini .... "
Raka menceritakan awal mula ia bertemu dengan Mayang dan bagaimana kisah hidup Mayang yang sebenarnya. Tentang bagaimana tersiksanya Mayang yang hidup bersama dengan ibu kandungnya.
"Ya ampun ... nyokapnya Si Mayang udah kayak ibu tiri di sinetron-sinetron. Kasihan Mayang," komentar Andika setelah Raka selesai bercerita.
"Gue kepikiran banget sama dia."
"Lu ... Lu jatuh cinta sama Mayang ya, Ka?" Pertanyaan Andika ini membuat pernapasan Raka tercekat.
Jatuh cinta? Hanya dalam waktu yang sekejap? Saat ia pun baru saja putus cinta? Apakah itu mungkin?
"Gila lu, Dik! Enggak lah! Gue cuma iba aja sama Mayang. Dia itu seusia adik gue. Rasa kemanusiaan gue aja yang gak tega sama dia. Lagian gue baru putus dari Fenna," bantah Raka.
Andika tersenyum senang mendengar jawaban Raka. "Syukurlah! Karena sejujurnya gue naksir sama Mayang. Hehe ...."
Andika memilih untuk jujur pada Raka tentang perasaannya kepada Mayang.
"Ta~tapi ... tapi Mayang masih abege, Dik. Dia masih enam belas tahun." Raka nampak keberatan dengan pengakuan Andika.
"Memangnya kenapa? Cinta itu nggak mandang usia, Ka. Kalau lu nggak suka sama Mayang berarti gue boleh lah deketin dia." Andika kekeh pada niatnya untuk mengejar cinta Mayang.
"Ya deketin aja kalau ... Kalau Mayangnya mau," sungut Raka dengan nada jutek.
"Ya jelas maulah. Lu ngremehin gue, Ka? Gue gak kalah cakep kali sama lu," debat Andika ngotot.
"Iya ... Mayang-nya mau, tapi lu mesti hadapin mommy-nya yang super killer."
"Ya ... Ya kalau cinta mah seberat apapun rintangannya bakal gue hadapin lah," ujar Andika dengan semangat empat lima.
"Status kita sama Mayang itu benar-benar beda. Kayak langit sama bumi. Dia anak orang kaya, anak orang berada sedangkan kita cuma lelaki sederhana yang nggak punya apa-apa," jelas Raka seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Tapi gue yakin kok kalau gue bakalan dapetin hati Mayang."
Raka menghela napas panjang, ditatapnya dengan serius wajah Andika.
"Itu terserah lu aja, Dik. yang penting gue udah ngasih tahu lu dan wanti-wanti lu sejak awal," kata Raka seraya menepuk bahu Andika kemudian tersenyum dan meninggalkan rekannya itu.
Kalau Mayang jadian sama Andika terus gue? Huft ... Gue nggak boleh terjurumus sama rasa iba gue sama Mayang. Biar bagaimanapun bumi itu tempatnya di bawah, nggak akan bisa jangkau langit. Raka mengusap wajahnya dengan kasar sebelum akhirnya memilih untuk kembali bekerja.