18. Takut Kehilangan Opa

1748 Kata
"Mas Raka!" ucap Mayang lirih memanggil nama lelaki penyelamatnya. Iya, untuk kesekian kalinya Raka datang dan menjadi penyelamat dalam hidupnya. "Tenanglah, Mayang! Ada aku di sini," kata Raka. Raka menyembunyikan tubuh Mayang di balik punggungnya, hal yang sama seperti yang pernah ia lakukan saat melindungi Mayang dari kejaran bodyguard Sandrina ketika di pasar pagi tadi. "Siapa kamu?" tanya Sandrina. Jelas wanita itu sangat marah dengan kehadiran lelaki asing di antara dirinya dan Mayang. "Nyonya tidak perlu tahu siapa saya, tapi saya sudah tahu siapa Nyonya. Nyonya ibu yang sangat kejam pada anak kandung Nyonya sendiri!" jawab Raka dengan pemberani. Tidak ada takut sedikit pun dalam hati lelaki itu, karena Bunda Amel mengajarkan, jika kita tidak boleh takut selama apa yang kita bela adalah suatu kebenaran. "Itu bukan urusanmu! Kau lelaki asing yang tidak berhak ikut campur urusan keluargaku!" sentak Sandrina kalap. "Mayang, kemari!" perintah Sandrina. Wanita high class itu menggerakkan jari telunjuknya memberi kode agar Mayang mendekat padanya. Mayang ketakutan, dia sudah akan maju mendekat ke Sandrina, tapi Raka mencegahnya. "Ini urusan saya juga, Nyonya. Anda melakukan kekerasan fisik pada anak anda sendiri dan itu adalah tindakan pidana. Dan siapa pun orang berhak untuk memasukkan anda ke penjara termasuk saya," ancam Raka tidak main-main. Sandrina menghembuskan napas kasar. "Beraninya anak muda ini mengancamku," pikirnya. "Aku tidak takut dengan ancamanmu," kata Sandrina yang berusaha memasang wajah setenang mungkin meski emosinya sudah meledak. Dia sadar jika dirinya saat ini sedang berada di rumah sakit, dengan berteriak seperti tadi itu akan semakin mempermalukan dirinya sendiri. "Baiklah! Mumpung ini di rumah sakit, kamu ikut aku untuk visum, Mayang! Bekas pukulan ibu kamu masih terlihat jelas di kaki kamu," ujar Raka membuktikan ultimatum yang ia lontarkan. Bukannya Sandrina yang ketakutan, tapi justru Mayang. Dia menghentikan Raka saat lelaki itu sudah akan menggandeng ia untuk ikut bersamanya. Sedang Sandrina terlihat murka dengan wajah putihnya yang merah padam. "Jangan, Mas! Aku mohon! Jangan masukkan Mommy ke penjara!" pinta Mayang dengan sangat. Dia tahu maksud Raka itu baik, tapi dengan memasukkan sang ibu ke dalam hukuman sel, itu tidak akan membuatnya mendapatkan cinta yang ia inginkan selama ini. "Mommy-mu ini sangat kejam, Mayang." "Aku tahu, tapi aku mohon jangan masukkan mommy ke penjara, Mas Raka! Aku ikhlas mommy marah, karena memang aku yang salah, aku yang udah buat opa sakit kayak gini." Mayang bersimpuh di kaki Raka dengan linangan air matanya yang semakin banjir. Gadis remaja itu benar-benar ketakutan. Raka menjadi tidak tega melihat tangisan Mayang. Lelaki itu berlutut dan meraih tubuh Mayang ke dalam dekapannya. Maafin Raka, Bunda! Tapi gadis ini butuh pelukan dan kekuatan. Pikir Raka saat ia sadar jika harus kembali bersentuhan dengan Mayang. Raka mengelus rambut Mayang. Sungguh iba rasanya melihat penderitaan Mayang. "Demi Mayang, saya akan membebaskan anda, Nyonya. Namun jika saya tahu anda masih menyiksanya, saya akan benar-benar memasukkan anda ke dalam bui," ujar Raka membuat Sandrina merasa dipermalukan dan diinjak-injak harga dirinya. ** Dua orang anak manusia berbeda jenis kelamin tengah duduk bersisian di sebuah kamar. Kamar yang sudah seharian ini ditinggalkan oleh sang empunya karena kabur dari rumah. Dan kini si pemilik kembali dengan keadaan emosional yang sangat terguncang. "Hiks ... hiks .... " Suara tangis gadis cantik itu terdengar sangat dominan mengalahkan detik jarum jam yang terpasasang di tembok kamar. Sebuah boneka Teddy Bear berada dalam pelukan sang gadis hingga benda itu turut kebasahan karena lelehan air matanya. Si lelaki yang berprofesi sebagai pengawal pribadi gadis tersebut memilih tak banyak bicara. Dia biarkan Putri yang malang itu meluapkan perasaannya. Sungguh kasihan nasibmu, Nona. Pikirnya. "Jasson, apa opa akan sembuh?" tanya Mayang pada lelaki yang air mukanya terlihat selalu datar apapun perasaanya. "Opa pasti akan sembuh, Nona. Banyak-banyaklah berdoa!" jawab Jass, meski dia pun tidak yakin dengan jawabannya sendiri mengingat keadaan Opa Ardi yang memburuk, tapi menjawab dengan hal yang positif itu lebih baik untuk kesehatan mental. "Jass." Mayang menenggelamkan wajahnya di d**a bidang Jasson dengan tiba-tiba hingga membuat lelaki itu kaget dan kebingungan harus merespon seperti apa. "Aku takut sekali, Jass," keluh Mayang dengan tangisan yang kembali kencang hingga d**a Jass terasa basah karena lelehan air mata Mayang perlahan merembes masuk ke seragam hitamnya. "Ja-Jangan menangis, Nona!" Lelaki itu menggerakkan tangan kanannya. Niat hati ingin menyentuh rambut merah kecokelatan milik nona mudanya, tapi .... "Aku tidak mau kehilangan opa, Jass." Mayang menjauhkan dirinya dari tubuh Jass sembari menyeka air matanya dan kembali memeluk boneka Teddy Bear yang ada di pangkuannya. Jass segera menyingkirkan tangannya yang tadi sudah mendekat pada rambut Mayang. Bagaimana caranya agar aku bisa menghiburmu, Nona? Seperti lelaki asing itu yang sudah bisa membuat senyum merekah sempurna di bibirmu. Batin Jass nelangsa. ** Flashback on* Sore ini, rumah megah milik keluarga Ardi Soesetya terlihat sepi seperti hari-hari biasanya. Rumah yang luas bak istana yang hanya dihuni oleh empat orang dengan kesibukan masing-masing justru membuat rumah ini layaknya sebuah gedung tua yang tak berpenghuni. Kesibukkan yang sangat over dari masing-masing individu membuat mereka jarang sekali untuk bertegur sapa. Dan hanya bersisalah Mayang yang selalu merasa kesepian bak putri raja yang dipingit oleh pangerannya. Keheningan itu hilang dan lenyap selepas kembalinya Tuan Besar pemilik sepuluh perusahaan besar bernama 'Soesetya Company' yang tersebar di seluruh Indonesia. Perusahaan yang bergerak di berbagai cabang bisnis dengan keuntungan yang tidak main-main membuat keluarga Ardi Soesetya sangat tersohor di kalangan masyarakat luas. Seperti yang biasa beliau lakukan tatkala pulang dari perjalanan bisnisnya ke luar negeri. Lelaki tua tersebut selalu menjejakkan langkah kakinya pertama kali ke kamar cucu semata wayangnya. Cucu yang menjadi penyemangatnya untuk hidup hingga sekarang. Dengan membawa boneka Teddy Bear kesukaan Mayang, Opa berteriak memangil-manggil nama cucunya. Boneka itu spesial dibeli Opa sebagai oleh-oleh untuk Mayang. "Mayang ... Opa pulang, Sayang," kata Kakek dengan sangat antusias. Sebuah senyum tersungging begitu nyata hingga menciptakan kerutan di wajah beliau yang semakin terlihat jelas. Rambut putih opa dengan kaca mata hitam bertengger nyaman di hidung lelaki tersebut membuat beliau masih nampak tampan di usianya yang senja. "Mayang!" Sekali lagi opa menyerukan nama cucunya. Beliau menarik tuas pintu kamar Mayang ke bawah lalu didoronglah pintu tersebut hingga terbuka sempurna. Opa menyapukan pandangan matanya ke setiap sudut kamar Mayang yang luas dan mewah dengan cat tembok berwarna merah muda seperti warna kesukaan Mayang. Beliau menelisik di mana cucu perempuannya itu berada. "Mayang, where are you? Opa came for you, honey, (Mayang, di mana kamu? Opa datang untukmu, Sayang,)" seru Opa Ardi. Beliau melangkah maju semakin dalam masuk ke kamar Mayang. Biasanya Mayang sedang duduk di depan meja belajarnya ketika beliau masuk ke dalam kamar dan akan berlari memeluknya sesegera mungkin setelah melihat kedatangan dirinya, tapi meja itu nampak rapi tanpa ada gadis itu duduk dan belajar di hadapannya. "Mayang, kamu di mana?" Beliau masih terus mencari di mana cucunya berada. Opa Ardi membuka pintu kamar mandi, tapi tak ada juga sosok yang ia rindukan. "Di mana, Mayang?" Perasaan tidak enak seketika menyeruak dan memenuhi ruang hati Opa. Tidak mungkin jika Mayang pergi keluar rumah, beliau tahu benar jika Sandrina tidak semudah itu mengijinkan anaknya untuk pergi bebas di hari efektif seperti sekarang. Opa Ardi keluar dari kamar setelah beliau menaruh boneka yang beliau bawa di atas tempat tidur Mayang. Beliau menuju ke ruangan kerja putrinya. Baru saja Opa Ardi sampai di ambang pintu, beliau mendengar Jasson dan Sandrina sedang berbincang-bincang serius berdua. Langkah kaki Opa pun terhenti, beliau memilih untuk mengintip dan menguping pembicaraan ke duanya dari balik pintu yang sedikit terbuka. "Jadi kamu belum menemukan Mayang?" tanya Sandrina. "Belum, Nyonya," jawab Jasson singkat. Demi Mayang, Jasson rela berbohong. "Tumben sekali pekerjaanmu payah seperti ini, Jass!" maki Sandrina murka. "Bagaimana jika sampai Papi datang dan mendapati kalau Mayang pergi dari rumah? Ini akan menjadi masalah yang besar untukku," lanjutnya. Wanita yang lebih sering mengenakan pakaian serba hitam itu terlihat tengah duduk di kursi kebesarannya. Dengan bersandar pada sandaran kursi, Sandrina memijit-mijit pelipisnya untuk memberikan sedikit rasa rileks pada kepalanya yang terasa kencang. "Kapan Tuan Besar akan pulang, Nyonya?" "Besok-" "Aku sudah pulang!" seru Tuan Ardi mengagetkan Sandrina dan juga Jass. Sandrina segera berdiri dari tempat duduknya, sedangkan Jass berbalik badan menghadap boss lelakinya yang berdiri tegak dengan ekspresi khawatir dan juga marah yang berbaur menjadi satu dalam hatinya. "Pa~papi .... " Sandrina sungguh kaget melihat ayah kandungnya sudah berdiri tepat di hadapannya. Menurut jadwal seharusnya beliau baru pulang besok malam, tapi nyatanya beliau sudah tiba di Indonesia tanpa memberi kabar. Sandrina berjalan memutari meja kerjanya untuk mendekati sang ayah. Meski begitu ia berusaha untuk tersenyum walau gelagatnya tetap terlihat salah tingkah. "Kenapa Papi sudah pulang tanpa memberiku kabar terlebih dulu?" tanya Sandrina. "Aku ingin memberimu dan Mayang kejutan, tapi nyatanya aku yang terkejut," jawab Tuan Ardi kemudian menghela napas berat. "Pa~Papi .... Papi, duduklah dulu!" Sandrina menuntun ayahnya untuk duduk di sofa. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang Mayang. A~aku ... aku sudah menyuruh anak buah kita untuk mencari Mayang," papar Sandrina dengan terbata-bata. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena memang kamu tidak pernah mengkhawatirkannya, San! Sejak kapan Mayang pergi?" "Se~sejak ... Sejak semalam, Pi." "Sejak semalam hingga hari ini dia belum pulang juga? Kau tahu Mayang tidak pernah keluar rumah apalagi sendirian tanpa pengawalan dari Jasson. Pasti ada sesuatu yang kau lakukan padanya kan, San?" murka Tuan Ardi. Amarahnya tersulut, beliau benar-benar mengkhawatirkan keadaan cucu kesayangannya itu. "Aku tidak melakukan apapun, Pi," bantah Sandrina. "Jasson, kamu pasti tahu apa yang terjadi? Katakan sejujurnya padaku!" perintah Tuan Ardi dengan nada tinggi. "Nyonya Sandrina memukul kaki Nona Mayang dengan stick golf, Tuan," cerita Jass dengan tegas tanpa rasa takut. Mendengar penuturan Jass, Tuan Ardi semakin dibuat meradang, "Ya Tuhan! Kau melakukannya lagi?! Apa hati nuranimu sudah mati?" tanya Tuan Ardi pada anak semata wayangnya tersebut. "Aku melakukannya karena dia sudah mulai kurang ajar, Pi. Cucu kesayangan Papi itu sudah berani cabut saat jam pelajaran sekolah," jawab Sandrina dengan suara lantangnya. "Tapi kau bisa menegurnya dengan cara yang baik! Dia itu anakmu, Sandrina! Bukan tawananmu!" "Papi yang memintaku untuk melahirkannya! Tapi di hatiku aku tetap membencinya!" Perdebatan antara anak dan ayah itu pun tak terelakkan. Mereka sama-sama keras dan mempertahankan pendapat mereka masing-masing. Namun, benar apa kata Tuan Ardi bahwa menghukum anak itu tidak perlu memakai kekerasan. "Kau benar-benar keterlaluan! Mayang tidak berdosa atas semua yang terjadi padamu! Itu murni kesalahanmu!" bentak Tuan Ardi semakin terpancing amarahnya karena sang anak yang tidak berhenti membenci cucunya. "Jika papi tidak memaksaku untuk-" Ucapan Sandrina terhenti saat ia melihat Papinya tetiba merintih kesakitan seraya memegang dadanya. Emosinya menurun berganti rasa panik yang membuncah. Tak lama setelah itu sang ayah terjatuh pingsan dan segera dilarikan ke unit gawat darurat. Flashback off*
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN