Mayang kembali menundukkan kepalanya seperti yang selalu ia lakukan saat berkomunikasi dengan mommy-nya.
"Hm ... iya, Bun. Mas Raka kurang ajar banget sama aku," jawab Mayang dan segera memancing reaksi Raka.
"Eh Sri, jangan fitnah ya!" tegur Raka.
Mayang mengerucutkan bibirnya.
"Hayo ... Raka! Apa yang kamu lakuin sama Mayang?" tanya Bunda Amel dengan tatapan yang menusuk.
Raka segera melambaikan tangannya ke kiri dan kanan, "Demi Allah, aku nggak ngapa-ngapain Mayang, Bunda," jawab Raka membantah tuduhan yang Mayang lontarkan padanya.
"May, jelasin dong sama Bunda! Ah kamu ... Perasaan aku nggak ngapa-ngapain kamu, " omel Raka.
"Mas Raka emang kurang ajar, Bunda." Bukannya mengklarisikasi, tapi Mayang justru semakin memperkeruh suasana.
"Astagfirullah," ucap Raka sambil mengelus-elus dadanya.
"Kesel banget Ama ini bocah!" umpat Raka.
"Emang aku maksa kamu apa?" tanya Raka yang sudah emosi duluan.
"Mas Raka maksa aku untuk .... " Mayang menggantung kalimatnya, sengaja ... supaya Raka dan Bunda Amel penasaran.
Raka menggaruk-garuk kepalanya, was-was sekali jika Mayang mengatakan hal yang membuat Bunda marah padanya. Sikap salah tingkah Raka ini justru mematik Bunda Amel untuk berpikir yang tidak-tidak pada anak lelakinya tersebut.
"Kenapa Mayang? Kamu dipaksa Raka untuk?" tanya Bunda Amel tidak sabaran. Meski bertanya pada Mayang, tapi sorot mata beliau tetap fokus kepada anak lelakinya.
"Untuk .... " Mayang semakin mendramatisir keadaan.
"Astagfirullah ... sabar .... " ucap Raka kemudian menghela napas kasar.
"Untuk makan petai, Bunda," celetuk Mayang.
Huft ... plong ... Raka lega, ternyata makan petai lah yang Mayang maksud dengan kurang ajar. Raka yang tadinya marah menjadi geli mendengar jawaban gadis abege tersebut.
"Hahahaha." Raka tertawa. Selamet .. selamet ... ucapnya dalam batin.
"Astagfirullah. Bunda pikir dipaksa ngapain," kata Bunda yang ikut merasa lega. Karena jika terbukti Raka melakukan hal-hal kurang ajar alias melecehkan Mayang, maka Bunda tidak segan untuk menghukum anak lelakinya tersebut.
"Disuruh makan petai sama dipeluk-peluk, Bunda. Huwaaa .... " Mayang berakting menangis dengan mimik wajah yang dibuat sedih seperti korban pemerkosaan.
Raka menelan ludah dengan mata terbelalak. Sial! Kenapa pake diomongin? Gerutunya dalam hati.
Salah tingkah lagi. Raka memang tidak bisa tenang saat ketahuan berbuat sesuatu yang dilarang oleh Bundanya.
"Raka!" seru Bunda Amel semakin menajamkan sorot matanya dan meninggikan intonasi bicara.
"E ... Iya, Bun." Raka sudah mulai tidak bisa bicara dengan lancar.
"Bener yang dikatakan Mayang?" tanya Bunda Amel.
"Duh ... Anu ... "
"Mas Raka juga mau nyium aku, Bun. Pas mati lampu," potong Mayang membungkam mulut Raka yang baru saja akan membuka suara ... Baru bilang 'Anu' Mayang sudah Nyamber duluan seperti petasan di hari raya.
"Astagfirullah, Raka!" sentak Bunda Amel.
"Bun ... Aku cuma bercanda. Su ... Suwer ... !" sahut Raka sambil mengulurkan dua jarinya membentuk huruf 'V'.
"Mas Raka pokoknya genit banget, Bun. Beneran aku nggak boong," ucap Mayang semakin memprovokasi kemarahan Bunda Amel.
"Mayaaang ... Awas kamu!" ancam Raka sembari mengulurkan kepalan tangannya ke arah Mayang.
Mayang tidak takut. Gadis itu justru menjulurkan lidah mengejek Raka.
"Aku kan nggak beneran nyium kamu! Lagian pas mati lampu itu kamu yang meluk aku duluan! Ah Sri! Itu namanya fitnah!"
"Tapi Mas Raka balas meluk aku, terus pakai mau dicium pula," balas Mayang.
Ya Allah, polos sama oon itu bedanya tipis ya. Ngapain juga kayak gitu pakai diomongin? omel Raka dalam batin. Lelaki itu menepuk jidatnya dengan cukup kencang.
"Astagfirullah, nggak boleh gitu Raka! Bunda kan sudah bilang jaga jarak! Bunda itu takut banget kamu kebablasan terus hamilin anak orang, Raka. Itu berdosa!"
"Enggak kok, Bun. Enggak! Kalau cuma nyium sama meluk nggak akan hamil," sahut Raka.
"Eh, kamu ya!" tegur Bunda Amel yang seketika membungkam mulut Raka.
"Mohon ampun sama Allah, Raka! Jangan-jangan kamu udah pernah yang aneh-aneh sama pacar-pacar kamu ya?" tuduh Bunda Amel.
"Jelas udahlah, Bun," sambung Mayang asal bicara.
"Diam nggak lu, Sri!" sentak Raka kesal.
Mayang cekikikan, merasa senang karena berhasil membuat Raka diomeli oleh ibunya.
"Raka, salat taubat! Jangan ulangi, Nak! Istighfar!" perintah Bunda Amel.
"Iya, Bun. Maafin aku," sahut Raka memilih untuk tidak membantah.
"Bunda maunya kamu nyari istri, jangan kebanyakan gonta ganti pacar! Umurmu udah dua puluh tiga tahun, Nak."
"Mas Raka kan udah janji mau nikahin aku, Bun," sahut Mayang dengan penuh percaya diri berkata demikian.
"Kapan aku bilang gitu?" tanya Raka dengan nada protes.
"Mas Raka sukanya pelupa sich! Pas ada guntur tadi pagi. Kan aku udah bilang Mas Raka nggak bakal nikah kalau nggak sama aku," jawab Mayang.
Bunda Amel tersenyum melihat kepolosan Mayang. "Memang Mayang umur berapa?" tanya Bunda.
"Enam belas tahun, Bun," jawab Mayang kemudian tersenyum sambil garuk-garuk kepala.
"Masih kecil, Nak. Raka sudah dua puluh tiga tahun. Terpaut tujuh tahun dari usia kamu kan," kata Bunda membandingkan umur Mayang dan anaknya.
"Nggak masalah kok, Bun. Daddy aku aja terpaut delapan tahun dari Mommy," sahut Mayang. Tetap kekeh percaya kalau Raka lah jodohnya kelak.
"Jodoh hanya Allah yang tahu, Mayang. Kalau memang kamu sama Raka ditakdirkan bersama pasti dikasih jalan. Bunda hanya bisa beri kamu nasehat, Mayang. Kamu itu seorang wanita. Kamu harus bisa jaga diri kamu baik-baik. Terutama saat kamu sudah mengenal lawan jenis. Bunda pernah muda juga seperti kamu kok, Sayang. Bunda juga tahu rasanya jatuh cinta, tapi yang bunda tekankan di sini, kamu harus bisa jaga diri kamu terutama kehormatan kamu sebagai wanita, Mayang! Jangan pernah kamu lakukan apapun yang belum saatnya kamu lakukan! Kamu muslim kan?" Bunda bertanya tentang keyakinan yang dianut Mayang di akhir nasehat yang beliau berikan.
"Islam KTP, Bun," jawab Raka meledek Mayang kemudian menjulurkan lidah seperti yang tadi Mayang lakukan padanya.
Mayang mengerucutkan bibirnya. "Masih harus banyak belajar agama, Bun. Mommy nggak pernah salat, tapi Daddy salatnya rajin."
"Kenapa Daddy kamu nggak ngajarin kamu salat?" tanya Bunda Amel.
"Udah, Bun. Tapi akunya aja yang pemalas, hehe ... " Mayang tertawa kecil.
Sedang asyik berbincang dengan Bunda Amel, telepon seluler milik Jasson yang dibawa oleh Mayang berdering. Benda pipih yang Mayang letakkan pada saku celananya itu terasa bergetar dan membuat Mayang kegelian.
"Bunda, aku permisi angkat telpon sebentar ya!" Mayang meminta ijin dengan sopan seraya merogoh saku celananya untuk mengambil handphone Jasson.
"Silahkan, Mayang!" sahut Bunda Amel mengijinkan.
Mayang segera menjawab panggilan suara dari Jasson, bodyguard kesayangannya.
"Hallo ... Ada apa, Jass?" tanya Mayang.
Jasson menjawab pertanyaan Mayang. Lelaki yang selalu nampak tenang dan dingin itu memberi kabar yang membuat Mayang menjadi shock dan terpukul.
"Aku ... Aku akan segera pulang, Jass. Tu ... Tunggu aku ... !" seru Mayang dengan terbata-bata.
Gadis itu menutup panggilan dari Jass. Wajah cantiknya menjadi tegang dengan bulir air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Mayang, ada apa?" tanya Bunda Amel dan Raka nyaris bersamaan.
"Aku mau pulang, Bunda," jawab Mayang dengan terisak.
"Kenapa? Ada apa? Katakan, Mayang! Apa yang terjadi?" Bunda Amel mengangsur beberapa pertanyaan sekaligus. Beliau dan Raka sangat mencemaskan Mayang.
**
Langkah kaki gadis cantik berumur enam belas tahun berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit yang lengang. Tangisnya tak jua berhenti sejak ia menutup panggilan suara dari sang bodyguard tampan hingga ia menjejakkan kakinya di rumah sakit ini.
Di belakang sang gadis, terdengar derup langkah seorang lelaki yang setia mendampinginya sejak sehari belakangan. Langkahnya turut melebar seiring pergerakan lincah dari gadis yang didampinginya.
"Opa!" seru gadis cantik berwajah bule itu memanggil kakeknya yang kini terbaring lemah di kamar perawatan.
Selang infus terpasang di tangan kakek yang meski sudah renta, tapi masih juga terlihat gagah. Selang oksigen turut membantu Kakek untuk bernapas. Detak jantungnya pun terekam dalam alat yang bernama Elektrikardiogram.
Mata kakek terpejam dengan wajah yang pucat pasi, tidak disadarinya kedatangan cucu yang amat dirindukannya tersebut. Lelahan air mata Mayang membasahi d**a lelaki yang teramat Mayang cintai itu saat ia menempelkan tubuh mungilnya mendekap sang opa yang tak bersuara.
"Mayang udah datang, Opa. Opa bangun!" kata Mayang yang masih terus mendekap tubuh kakeknya.
"Kriet ... " Suara pintu yang terbuka disusul oleh suara hentakan heels yang terdengar tegas, setegas dengan karakter orang yang memakainya.
Mayang melepas dekapannya, ia berbalik badan menghadap orang yang kini berdiri dengan memakai setelan blazer berwarna hitam, rambut pirangnya ia sanggul dengan begitu anggun, dengan satu tangan bertolak pinggang, ia menegur sang gadis yang kini berdiri dengan menundukkan kepalanya. "Kau berani pulang, Anak kurang ajar!" Pertanyaan diakhiri dengan makian membuat Mayang seketika itu juga ketakutan.
Diam! Jangan menjawab! Itu adalah sikap yang selalu Mayang lakukan ketika mendapatkan omelan dari wanita tersebut.
Wanita tersebut? Siapa wanita tersebut?
Siapa lagi yang akan mengumpati Mayang dengan kasar seperti itu jika bukan Sandrina, sang ibu kandung yang kejam.
"Kau sudah berani kurang ajar dengan pergi dari rumah! Kau memang tidak layak menjadi anakku!" ujar Sandrina dengan suara yang pelan, tapi penuh dengan tekanan.
Jemari tangan Sandrina meraih jemari tangan Mayang secara mendadak. Gadis itu terkesiap dan mendongakkan kepalanya hingga netranya yang berwarana cokelat bertemu dengan mata ibunya.
Aura kebencian menguar saat sorot manik itu tertangkap dengan jelas oleh kornea Mayang. Wajah yang selalu nampak tidak bersahabat itu selalu terlihat menyeramkan dan membuat Mayang sekejap mungkin kembali menundukkan kepalanya.
Cengkeraman tangan Mommy Sandrina semakin menguat dan setelah itu ditariknya Mayang untuk keluar dari ruang perawatan ayahnya.
"Mommy, sakit. Mommy!" rintih Mayang saat Mommy menggeret dirinya secara paksa.
"Ini semua karena dirimu! Apa kau tahu itu, Mayang?" bentak Mommy Sandrina membuat Mayang semakin terisak.
"Maafkan aku, Mommy! Tolong lepaskan tanganku! Sakit sekali .... " Mayang memohon.
"Sakit kau bilang? Ini tidak sebanding dengan sakit yang aku rasakan saat melahirkanmu! Dasar anak tidak tahu diri!" bentak Sandrina dengan kasar lalu melepas Mayang dengan kasar pula hingga gadis itu hampir saat terjatuh, untung saja ada seseorang yang menangkap tubuh Mayang ke dalam dekapannya.