**
Di ruang tamu, Mayang dan Raka berdiri dengan jarak dua meter. JAGA JARAK AMAN! Begitu kata Bunda Amel dan mereka pun mematuhinya tanpa banyak membantah.
"Coba jelaskan pada bunda! Kenapa kalian bisa berduaan di dalam kamar?" tanya Bunda Amel yang kini duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya.
"Ceritanya panjang, Bu," jawab Mayang.
"Seberapa panjang? Satu meter, dua meter, sepuluh meter? Coba jelaskan dari awal hingga akhir! Bunda akan mendengarkannya," jelas Bunda Amel.
"Sejak semalam aku menginap di rumah ini dan tidur di kamar ibu," cerita Mayang.
"Bunda, aku membantu Mayang lari dari kejaran bodyguard ibunya," sambung Raka.
"Lari dari kejaran bodyguard? Iya, Bunda tahu kamu pasti anak orang kaya, dari penampilanmu saja sudah terlihat." Bunda Amel mengomentari Mayang. Lalu memperhatikan gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Aku kasihan sama dia, Bun. Dia ketakutan banget tadi malam," kata Raka dengan iba.
"Kamu kabur dari rumah, Mayang?" tanya Bunda Amel. Beliau jadi tertarik dengan gadis bule yang bersama anaknya tersebut.
"Iya, Bu," jawab Mayang lalu menundukkan kepalanya lesu.
"Kenapa? Seorang anak gadis tidak boleh pergi dari rumah orang tuanya tanpa pamit apalagi jika nanti kamu memiliki suami," nasehat Bunda Amel lontarkan untuk Mayang.
"Bun, May .... "
Bunda mengangkat tangannya, memberi kode agar Raka diam, "Bunda bertanya pada Mayang, jadi biarkan dia yang menjawab!" kata Bunda memberi penegasan pada Raka.
"Baik, Bun," sahut Raka.
"Ceritakan pada Bunda, Mayang! Apa alasanmu pergi dari rumah?"
Mata Mayang terlihat berkaca-kaca. Memori saat ia disiksa ibunya kembali bermain dan berputar-putar di otaknya.
"Ibu ... "
"Panggil saja Bunda!" Bunda Amel meralat panggilan Mayang untuk dirinya.
"Iya, Bunda." Mayang segera mengganti panggilannya sesuai yang Bunda Amel inginkan.
"Bunda, lihatlah! Kakiku terluka kan?" Mayang memperlihatkan kakinya yang masih terlihat sedikit lebam karena pukulan tongkat stik golf dari Mommy-nya sehari sebelum ini.
Bunda Amel mencondongkan badannya ke depan agar lebih mudah melihat luka Mayang.
"Hm ... Iya, kenapa ini?" tanya Bunda Amel.
"Itu adalah bekas pukulan dari mommy, Bunda," jawab Mayang.
"Astagfirullah," kata Bunda seraya mengelus dadanya.
"Kenapa ibumu sekejam itu? Apa dia ibu tirimu?" Pertanyaan yang sama yang pernah Raka lontarkan ketika pertama kali mendengar cerita Mayang.
"Dia ibu kandungku, Bunda," jawab Mayang.
Dan tak lama setelah itu, terdengar isakan tangis dari Mayang. Tangis pilu mengingat nasib hidupnya yang tidak mendapatkan kasih sayang dari Ibu yang melahirkannya. Ibu yang seharusnya mendidiknya dengan penuh kelembutan, tapi sikap kasar yang selalu beliau pertontonkan.
"Mayang, jangan menangis!" pinta Bunda Amel.
"Hust! Jangan nangis, Sri!" sambung Raka, refleks ia mendekat dan merangkul Mayang dan menepuk-nepuk bahu gadis itu.
"Raka!" seru Bunda Amel. Seruan yang mengartikan,
"Jangan dekat-dekat! Jaga jarak aman!"
Raka mengerti.
Dan segera melaksanakan perintah Bundanya yang tidak terucap.
Bergeser dan bergeser menjauhi Mayang. Mengira-ngira apakah jarak mereka sudah ada (minim) satu meter jedanya. Stempel 'Bukan Muhrim!' terus terngiang-ngiang secara otomatis di otak Raka.
Kalau ibu tau gue udah mepet banget ama Si Sri selama seharian ini, bisa-bisa gue diceramahi nggak kelar-kelar. Pikir Raka.
"Mayang, kemarilah! Duduk di samping Bunda!" perintah Bunda Amel seraya menepuk sofa kosong yang ada di sisinya.
"Iya, Bunda," sahut Mayang yang dengan patuh berjalan mendekati Bunda Amel dan duduk di sisi wanita itu.
Mayang masih menundukkan kepala, seperti yang biasa dia lakukan saat di hadapan mommy-nya.
"Kau berani menatap mata mommy, Mayang? Sejak kapan kau menjadi kurang ajar?" Bentakan itu, menjadi salah satu kalimat pamungkas yang sering mommy lontarkan pada Mayang. Hanya menatap mata? Dan itu diartikan sebagai kekurangajaran? Hm ... baiklah! Tanpa berdebat, Mayang segera menunduk atau membuang pandangan matanya ke sembarang arah, sebisa mungkin jangan pernah netra Mayang bertemu dengan pantulan kebencian ibunya.
Menangis terisak dengan napas tersengal sudah menjadi hal yang biasa untuk seorang Mayang Arneshia Soeharsono. Betapa hidup memang terkadang tidak adil, saat teman-temannya mengeluhkan tentang perekonomian orang tua mereka yang memburuk dan tidak sekaya dulu, tapi di sisi lain Mayang melihat mereka hidup dengan bergelimang kasih sayang. Mayang punya harta melimpah, bahkan kekayaan orang tuanya tidak akan habis dimakan tujuh turunan, tapi untuk cinta dan kasih sayang dari seorang ibu ... itu tidak dimilikinya.
Iri, itu hal yang pasti. Saat melihat teman-temanya mendapatkan pelukan hangat dari ibu mereka ketika keluar dari gerbang sekolah, ciuman di kening, di pipi kanan dan kiri, lalu ibu mereka bertanya, "Bagaimana sekolahmu hari ini, Sayang?". Betapa bahagianya anak-anak itu.
Namun, menyedihkan! Ini berbanding jauh dengan Mayang yang hanya bertemankan bodyguard tanpa senyum, Jasson Arkadinata. Yang akan selalu bilang, "Sabar, Nona! Anda anak istimewa yang berbeda dari pada teman-teman anda yang lainnya."
Istimewa dia bilang? Jika arti kata istimewa mengacu pada sebuah hidup yang tragis seperti ini, lebih baik aku menjadi anak biasa. Pikir Mayang seraya menyeka air matanya.
Masih diam terpaku, menatap dari kejauhan seorang ibu yang kini tengah memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Spontan bibir mungil Mayang berucap,
"Mommy, Mayang mau dipeluk Mommy juga."
Kalimat yang entah sudah berapa kali Mayang lontarkan sejak Tuhan memberinya kemampuan untuk bicara. Sekedar untuk mengeluh ... meminta sesuatu yang tidak sulit untuk diwujudkan, 'Hanya memeluk' Mayang tidak meminta mommy untuk mengambilkan bulan di atas langit malam. Namun, rasanya harapan itu hanyalah sebuah omong kosong yang entah kapan akan bisa ia rasakan.
Dan di sinilah, hati seorang gadis belia tanpa kasih sayang yang bernama Mayang Arneshia menjadi patah. Hanya Daddy dan Opa penyemangat hidup Mayang saat ini.
Kini Mayang sudah berada di dalam pelukan Bunda Amel setelah beberapa saat terngiang akan kepiluan hatinya. Gadis itu sudah berhasil menceritakan dengan detail kisah hidupnya yang penuh siksaan. Meski dengan susah payah, untuk pertama kalinya ia bisa membagi dukanya dengan orang asing. Saat selama ini mulut Mayang selalu diam terkunci.
Tak hanya Mayang yang menangis, Bunda Amel ikut menjatuhkan air matanya. Raka pun demikian, yang Mayang ceritakan kali ini lebih lengkap dari yang Mayang katakan semalam hingga hal itu ikut memantik rasa kemanusiaan Raka dan menguras emosinya.
"Kamu memang bersalah, Nak. Kamu tidak boleh cabut dari sekolah! Tapi, ibumu jauh lebih bersalah, tidak seharusnya dia memperlakukan darah daginganya sekejam itu. Kasihan sekali kamu, Mayang," ujar Bunda Amel dengan tangis pilunya untuk Mayang. Gadis asing yang baru saja ia temui.
"Kita laporkan saja mommy-mu ke polisi, Mayang!" sambung Raka dengan sangat emosional.
Dengan cepat Mayang menggelengkan kepalanya, "Jangan, Mas! Aku mencintai mommy, biar bagaimana pun dia adalah ibu kandungku. Dengan memasukkan mommy ke penjara itu akan membuat mommy semakin membenciku," ujar Mayang dengan tangisnya yang semakin pecah.
Daddy juga sudah berkali-kali mengancam akan memasukkan mommy ke penjara, tapi Mayang selalu memohon agar Daddy tidak melakukan hal itu.
"Aku hanya ingin mendapatkan cinta dari mommy-ku, itu saja," ujar Mayang sedih.
"Sudah jangan menangis, Mayang! Banyak-banyak berdoa agar mommy segera berubah. Bunda pun kasihan denganmu, tapi dengan pergi dari rumah itu bukan cara yang baik untuk menyelesaikan masalah. Mommy dan keluargamu yang lain pasti khawatir nyariin kamu," kata Bunda Amel menasehati Mayang.
Wanita yang penuh keibuan dan juga Sholehah tersebut menyeka air mata yang membasahi wajah cantik Mayang.
"Aku cuma ingin menenangkan diri saja untuk beberapa saat, Bunda. Aku pasti pulang kok, aku janji, Bunda," ujar Mayang dengan terisak.
"Iya baiklah. Bunda mengerti, Mayang. Oke lupakan sejenak tentang mommy-mu! Lalu kenapa tanganmu luka-luka seperti ini?" tanya Bunda seraya memeriksa tubuh Mayang yang penuh dengan luka goresan akibat terjatuh saat dipaksa Raka untuk menyebrang jalan.
"Itu tadi yang aku lakuin di kamar, Bunda. Aku mau bantuin Mayang ngobatin lukanya. Aku harus tanggung jawab karena aku yang bikin Mayang celaka," jawab Raka menjelaskan apa yang terjadi pada Mayang sebelum Bundanya itu datang.
"Kamu apain Mayang sampai dia luka? Sini mana obatnya! Biar Bunda yang obati luka Mayang," kata Bunda.
Raka mengambil obat yang tertinggal di kamar lalu diberikannya pada sang bunda.
"Kenapa bisa lecet-lecet seperti ini, Mayang?" tanya Bunda seraya membersihkan luka yang ada di siku Mayang dengan alkohol.
Mayang meringis merasakan rasa perih yang menjalar akibat cairan yang menyentuh lukanya. "Mas Raka ngajarin aku nyebrang, Bunda. Tapi aku ketakutan terus jatuh dech," jawab Mayang.
"Kamu ini ada-ada aja, Raka. Kalau Mayang tidak bisa nyebrang ya diseberangin." Bunda menegur Raka.
"Maafin aku, Bun! Tadinya cuma mau ngajarin Si Sri mandiri aja kok. Dia kan udah gede, masa nyebrang aja nggak bisa," kata Raka.
"Kok Si Sri? Cantik-cantik begini dipanggil Sri," protes Bunda Amel.
"Habis dia duluan yang manggil aku Bambang, Bun!" Raka menyalahkan Mayang.
"Enak aja! Kamu duluan yang manggil aku Sri, Mas!" bantah Mayang.
"Eh dasar anak kecil! Masih bayi udah pelupa!" omel Raka.
"Jangan pada berantem!" tegur Bunda Amel.
"Mana lagi yang sakit, Mayang? Biar bunda obatin sekalian," lanjut Bunda Amel setelah beliau selesai mengobati luka di siku Mayang.
"Siku yang satunya lagi juga lecet, Bun," jawab Mayang seraya menunjukkan lukanya.
"Ya udah, Bunda obati sekalian," ucap Bunda lalu melakukan hal yang sama dengan membersihkan luka Mayang tersebut menggunakan alkohol kemudian memberinya obat merah dan ditutup dengan perban.
"Terima kasih ya, Bunda," kata Mayang setelah Bunda Amel selesai mengobati lukanya.
Komplit sudah, kening, tangan dan kaki Mayang semua dipenuhi dengan luka.
"Sama-sama, Mayang," sahut Bunda.
Raka berbalik badan, karena ia merasa sudah tidak ada lagi yang akan Bunda tanyakan. Namun, baru selangkah berjalan, "Raka!" Bunda memanggilnya dan otomatis menghentikan langkah Raka.
Lelaki itu berbalik badan menghadap kembali ke arah bunda. "Iya, Bunda."
"Mau ke mana kamu? Urusan kita belum selesai!" kata Bunda dengan nada serius.
"Ada lagi, Bunda?" tanya Raka sambil menunjukkan wajah innocent-nya.
"Tentu masih ada lagi. Duduklah!" perintah Bunda.
Raka duduk di kursi yang ada di depan bunda dengan meja kaca sebagai pembatas di antara Ibu dan anak tersebut. Sedangkan Mayang masih duduk di samping Bunda Amel.
Raka dan Mayang saling melempar tatapan sejenak.
"Ehem ... " desah Bunda Amel saat memergoki Raka dan Mayang saling berpandangan. Dengan cepat ke dua insan berbeda jenis kelamin itu segera menundukkan kepala.
"Bagaimana Fenna?" tanya Bunda Amel.
Raka mengangkat kepalanya dan menatap mata ibunya. "Udah putus, Bun," jawab Raka.
"Hm ... kenapa lagi?" tanya Bunda mengintrogasi Raka layaknya anggota kepolisian yang sedang menanyai seorang terdakwa.
"Selingkuh, Bun," celetuk Mayang tanpa sadar.
Ups ... kenapa jadi aku yang jawab? Tanya Mayang dalam hati sembari menutup mulutnya.
Raka memelototti Mayang, tatapan lelaki itu seolah mengatakan, "Ember lu, Sri!"
Mayang mengatupkan ke dua tangannya pada Raka memberi kode jika ia meminta maaf karena sudah lancang menjawab pertanyaan yang bukan ditujukan padanya.
"Kamu diselingkuhi atau kamu yang berselingkuh?" tanya Bunda Amel meminta Raka untuk menjelaskan lebih detail lagi.
Bunda Amel bukannya cerewet, tapi beliau menerapkan sistem keterbukaan pada Raka maupun adik Raka. Beliau tidak hanya ingin menjadi ibu, tapi juga ingin menjadi teman dan pendengar yang baik untuk anak-anaknya. Dengan begitu anak akan merasa nyaman dan Bunda akan dapat lebih mudah untuk mengontrol mereka agar tidak salah jalan. Begitu pemikiran Bunda Amel.
"Fenna yang selingkuh, Bun," jawab Raka dengan lesu. Hm ... meski dia sangat berterima kasih pada Mayang karena kehadiran gadis itu sudah membuatnya terhibur saat hatinya sedang patah.
"Bunda sudah pernah bilang padamu jika dia bukan gadis yang baik. Syukurlah kalau kamu sudah tahu dari awal," jelas Bunda tidak marah ataupun terlalu jauh mengomentari masalah pribadi Raka.
"Kalau gitu aku boleh balik ke cafe lagi kan, Bun?" tanya Raka meminta ijin.
"Masih ada lagi yang ingin Bunda tanyakan, Raka," jawab Bunda yang seketika itu juga membuat Raka menelan ludah.
"Ma~masih ada, Bun?" tanya Raka terbata-bata.
"Sejak semalam kamu ada di sini kan, Mayang?" Bunda tidak menjawab pertanyaan anak lelakinya, tapi justru melempar pertanyaan pada Mayang.
"Iya, Bunda," jawab Mayang tanpa menatap mata Bunda.
"Lalu apa Raka kurang ajar denganmu selama kalian berduaan di rumah ini?" tanya Bunda Amel cukup serius. "Jika lelaki dan perempuan berduaan, maka yang ketiganya adalah setan," lanjut Bunda.
Netra Raka dan Mayang kembali bertemu dalam satu titik. Dag dig dug, jantung Raka berdetak cepat karena khawatir Mayang akan salah menjawab dan membuatnya terkena masalah.
Kategori kurang ajar itu yang seperti apa, ya? Apa memeluk dan mengerjaiku untuk makan petai itu termasuk kurang ajar? Tanya Mayang dalam hati sambil memutar bola matanya.
"Kenapa, Mayang? Katakan saja pada bunda! Tidak usah takut pada Raka!" kata Bunda.