**
Selepas dari masjid, Mayang dan Raka kembali ke tempat dimana motor Raka terparkir yaitu di pinggir Taman Cinta. Lalu lintas sore ini sangat padat. Kendaraan roda empat yang paling banyak mendominasi. Mayang melingkarkan tangannya di lengan Raka membuat Raka terhenyak dan menoleh ke arah Mayang yang bergelendot manja di bahunya.
"Lama-lama lu kayak ulet bulu ya, Sri," ledek Raka. Seulas senyum tipis tersungging pada bibir lelaki dewasa itu.
"Aku takut nyebrang, Bambang," omel Mayang seraya memukul bahu Raka dengan pelan.
"Nyebrang doang takut. Ayo aku ajarin caranya nyebrang," kata Raka. Dia melepas paksa tangan Mayang yang melingkar di lengannya, "Kamu lihat itu jalanan!" perintah Raka sambil menunjuk ke jalan raya, "Kalau mau nyebrang harus tengok kanan kiri dulu."
"Itu aku juga tahu, Mas. Winda suka bilang gitu."
"Nah kalau udah tengok kanan kiri kamu pastiin kalau celah untuk kamu nyebrang itu aman. Intinya jangan panik, Yang."
"Iya, Sayang. He-he-he...." sahut Mayang menggoda Raka.
"Dih ge-er. Dah cepetan!"
"Cepetan apanya, Mas?" tanya Mayang tidak paham dengan perintah Raka.
"Belajar nyebranglah, Sri," jawab Raka dengan nada tinggi.
"Yang benar aja, Bambang? Gue takut! Astaga!" oceh Mayang.
"Terus kapan kamu bisa kalau nggak mau mulai mencoba? Semua orang pasti dimulai dari nggak bisa dulu kemudian belajar dan akhirnya jadi bisa. Yang namanya manusia pasti suatu saat bakal butuh skill untuk menyeberang jalan. Kalau lu nggak bisa terus masa lu minta tolong orang buat nyebrangin lu? Kayak nenek-nenek peyot aja," oceh Raka dengan lincah.
Mayang memukul bahu Raka dengan cukup kencang, "Sembarangan! Masa aku kamu samain kayak nenek nyebrang sich, Mas?" protesnya.
"Ya udah makanya cobain sekarang!" Raka memaksa Mayang.
"Ta..., tapi, Mas?" Mayang mencoba memberi interupsi.
"Cemen. Dasar anak orang kaya manja banget," gerutu Raka.
"Aku nggak manja ya, Mas. Oke-oke, aku coba sekarang ya. Lihat ini! Aku bisa nyebrang sendiri." Mayang seolah tertantang dengan ledekan Raka. Dengan takut-takut dia menjejakkan kakinya tiga langkah ke depan menjauh dari Raka yang melihatnya dengan tawa kecut yang meremehkan.
"Lihat kanan kiri dulu, Sri," seru Raka.
"Udah tahu, Bambang," sahut Mayang dengan ketus.
"Ha-ha-ha-ha..., darah tinggi dia. Astaga."
"Shuut! Gimana gue mau nyebrang kalau Mas Raka ngeledek mulu?" omel Mayang.
"Ashiap gue diam, Sri."
Raka pun menutup mulutnya. Dia konsentrasi mengamati Mayang yang terlihat ketakutan dan ragu-ragu mengambil langkah. Sementara itu lalu lintas semakin pada merayap karena ini merupakan jam-jam saatnya para pegawai pulang bekerja.
"Ya Allah, takut gue. Tapi kalau gue nyerah, itu si Bambang bisa ledekin gue habis-habisan," gumam Mayang pelan sambil melirik ke arah Raka. Raka paham kalau Mayang tengah meliriknya. Dia melempar senyum kecut pada Mayang membuat gadis itu mencebikkan bibirnya karena merasa terhina.
Mayang fokus menatap ke depan. Deru suara motor dan mobil serta bunyi klakson yang bersahut-sahutan tak pelak membuat konsentrasinya buyar. Sementara itu Raka dengan santainya menatap Mayang dengan berbagai ekspresi saat Mayang tak juga mengambil langkah maju. Raka geleng-geleng kepala, tersenyum kecut, mengerucutkan bibirnya, semua ekspresi penuh ledekan dia tunjukkan pada Mayang.
"Bismillah." Mayang memejamkan matanya sejenak seraya menautkan kedua telapak tangannya di depan dagu.
Lucu banget anak ini. Gemes gue. Pikir Raka.
Mayang melangkah maju saat dirasa jarak mobil per mobil sudah lengang dan bisa dia lewati, namun naas ada sebuah kendaraan yang menyalip dari arag kanan dan membuat Mayang kaget bukan kepalang. Pun Raka yang melihat kejadian itu langsung refleks berlari dan menarik tubuh Mayang saat roda motor itu hendak menabrak gadis itu.
Sial! Keseimbangan tubuh Raka terganggu. Dia jatuh ke belakang dan Mayang menindih di atasnya. Keadaan jalan yang menurun membuat Mayang dan Raka jatuh bergeluntungan di atas aspal. Raka mengalasi kepala Mayang dengan telapak tangannya agar tidak langsung membentur ke aspal yang panas dan keras. Mereka baru berhenti berguling setelah tubuh mereka membentur ke tiang listrik. Kontan ini menarik perhatian orang di sekeliling mereka. Para pejalan kaki bergerombol untuk membantu Mayang dan Raka. Ada pula pengendara motor yang menyempatkan diri untuk berhenti karena ingin tahu apa yang terjadi.
"Mayang, kamu baik-baik aja kan?" tanya Raka panik.
Mayang mendesis, dia merasakan seluruh tubuhnya kesakitan. Benturan demi benturan membuat badannya serasa remuk hingga ke tulang-tulang. Untung saja Raka yang baik hati sudah melindungi kepala Mayang dengan tangannya, kalau tidak mungkin sakit yang dia rasa akan lebih dari pada ini.
"Sakit, Mas," keluh Mayang. Dia memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya untuk mengekspresikan rasa sakitnya.
Raka yang posisinya di atas Mayang lekas beranjak. Perlahan-lahan dia menarik telapak tangannya yang tertindih oleh kepala Mayang agar kepala gadis itu tidak membentur ke aspal dengan keras.
"Mayang, ayo bangunlah!" Raka mengulurkan tangannya untuk membantu Mayang bangun. Kini Mayang duduk bersandar pada tiang listrik yang menyelamatkan mereka, kalau tidak ada tiang itu mungkin mereka masih bergulung-gulung hingga ke bawah.
Seorang ibu dengan baik hati memberikan sebotol minuman untuk Mayang dan Raka.
"Kasihan adek ini pasti sakit semua badannya," kata Ibu itu.
"Terima kasih ya, Bu," sahut Raka. Dia membuka tutup botol minuman dan meminta Mayang untuk minum duluan karena terlihat sekali gadis itu sangat shock.
"Makasih ya, Bu," ucap Mayang dengan lemah. Dia menenggak air mineral hingga habis setengah botol lalu diberikannya pada Raka.
"Mas, kita ke masjid dulu sebentar yuk. Aku mau istirahat sebentar di sana," pinta Mayang. Sejujurnya dia malu karena banyak orang mengerumuninya.
"Oh okay," balas Raka. Dia membantu Mayang berdiri. Gadis itu merasa pinggangnya serasa mau copot. Luka lebam di kakinya akibat pukulan Mommy kemarin dirasakan nyeri kembali. Dan luka di kepalanya akibat jatuh saat melarikan diri pun ikut-ikutan nyeri.
Ya ampun, remuk sudah badanku. Keluh Mayang dalam hati.
Mayang kesusahan berjalan membuat Raka tidak tega. Dia membopong tubuh gadis itu dan membaringkan tubuh Mayang di teras masjid.
"Maafin aku, Mayang. Gara-gara aku kamu jadi celaka," ucap Raka merasa menyesal.
"Udah nggak usah sok nggak enak gitu, Mas. Aku juga yang nggak ati-ati kok," sahut Mayang.
"Mananya yang sakit, Yang?" tanya Raka penuh perhatian.
"Seluruh tubuh aku sakit, Mas," jawab Mayang.
"Jangan semua dong, Yang. Satu-satu biar aku nggak bingung ngobatinya."
"Iya, Yang. Obati hatiku dulu gih!" pinta Mayang bergurau.
"Dih..., kenapa jadi lu manggil gue yang juga?" tegur Raka.
"He-he-he-he..., " Mayang tertawa kecil. Meski tawanya terdengar masih lemas tanpa tenaga.
"Ya udah kita pulang yuk! Biar aku obati di rumah," ajak Raka.
"Gendong ya, Mas," rengek Mayang dengan manja.
"Haish..., lu berat, Sri," ledek Raka.
"Tanggung jawab lu, Bambang!"
"Mana ada? Kapan gue buntingin elu?"
"Mas Raka, pe'ak," umpat Mayang kesal.
"Ha-ha-ha-ha.... " Raka tergelak. Dia pun menuruti kemauan Mayang. Raka menggendong Mayang di punggungnya seperti menggendong seekor anak monyet. Meski sebenarnya dia pun merasa badannya pegal semua tapi dia lebih tidak tega melihat Mayang kesakitan, karena dia pun masih merasa sangat bersalah akan kejadian ini.
**
Raka membawa Mayang ke rumahnya. Terpaksa dia harus meninggalkan cafe lebih lama dan menitipkannya pada Andika dan karyawan yang lainnya. Mayang berbaring di ranjang yang ada di kamar Ibunda Raka.
"Tunggu sebentar! Aku mau ambilin kamu obat merah," kata Raka.
"Hm ... Iya, Mas," sahut Mayang.
"Ya Allah, sial banget hidup aku ya. Udah jidat luka, kaki luka, sekarang tangan pun ikutan cedera. Udah kayak preman aja," gerutu Mayang seraya mengamati bagian tubuhnya yang cedera.
Tidak lama, Raka kembali datang dengan membawa obat-obatan. Lelaki itu juga sudah berganti baju menggunakan pakai santai yang biasa ia pakai untuk di rumah.
"Ini diobatin tanganmu, May!" perintah Raka seraya menyerahkan obat-obatan itu pada Mayang.
"Yach, katanya Mas Raka yang mau ngobatin? Terus kok manggilnya ganti May lagi bukan Yang? Enakan Yang, Mas. Yang Mayang, Yang sayang," protes Mayang kemudian nyengir usil.
"Kebanyakan tuntutan elu mah udah kayak mau demo kenaikan upah kerja aja!" sungut Raka.
"Aku jatuh kan karena Mas Raka yang maksa aku nyebrang. Sekarang Mas Raka nggak mau tanggung jawab, hiks ... Mas Raka jahat," desah Mayang. Dan bisa-bisanya ia menangis sesenggukkan seperti anak balita.
"Yaelah, Sri ... Sri ... malah nangis. Ya Allah, ntar aku disangka perkosa anak orang sama tetangga. Udah dong diam!"
Bukannya diam, tangis Mayang justru semakin kencang dan membuat Raka menjadi panik.
"Shuuut!" Raka menempelkan jari telunjuknya pada bibir, memberi kode pada Mayang agar segera diam dan menghentikan tangisnya.
"Aku nggak mau diem! Mas Raka jahat!" teriak Mayang histeris. Tingkahnya begitu konyol. Entah kenapa dia suka bermanja-manja seperti ini dengan Raka. Mayang merasa nyaman bersama Raka dalam perkenalan mereka yang singkat ini.
'"Astagfirullah .... Diam, May! Diam!"
Raka kebingungan. Refleks ia menutup mulut Mayang dengan telapak tangannya. Dia benar-benar takut jika ada tetangga yang mendengar. Lingkungan rumahnya sangat sepi dan suara apapun akan mudah untuk didengar hingga keluar rumah.
"Diam nggak!" perintah Raka dengan suara lirih.
Mayang meronta-ronta, ia gerakkan kakinya bergesekkan dengan tempat tidur bergantian kanan kiri persis seperti orang yang akan dianiya.
"Iya-iya aku obati, tapi jangan nangis! Hush! Diam!"
Mayang masih tetap saja menangis seolah-olah Raka baru saja menyiksanya.
"Udah diam dong ... "
"Astagfirullah, Raka!"
Seketika Raka menutup mulutnya karena kaget dengan suara orang yang bersumber dari luar kamar.
Suara teriakan itu membuat Raka menoleh ke belakang. Betapa kagetnya ia saat mendapati Ibunya tengah berdiri di ambang pintu dengan berkacak pinggang dan membelalakkan mata galak ke arahnya.
"I~ibu ... " Raka terbata-bata memanggil ibunya.
"Ka~katanya ... I~ibu ba~baru pulang besok," lanjutnya.
Mayang pun menoleh ke arah Ibunda Raka yang terlihat sangat cantik dengan menggunakan hijab berwarna biru muda dan baju gamis berwarna putih. Meski memasang wajah galak dan garang, tapi beliau tetap saja terlihat cantik di mata Mayang. Kecantikan ibunda Raka sangatlah natural, tidak banyak sentuhan make up, tapi terlihat sangat anggun.
"Dasar anak nakal! Beraninya kamu memasukkan anak gadis orang ke dalam rumah selama ibu tidak ada!" omel Ibunda Raka yang bernama Amelia Arum.
Raka segera berdiri dan menjauh dari Mayang. Raka tahu ibunya itu tidak suka jika Raka terlalu sering kontak fisik dengan lawan jenisnya.
"Dasar anak bandel!" Ibu Amel menjewer telinga anak sulungnya itu dengan cukup kencang hingga telinga Raka memerah.
"Ampun, Bun! Ampun! Raka bisa jelasin kok," ucap Raka seraya meringis menunjukkan jajaran gigi putihnya.
Mayang ikut berdiri dari tempatnya dan berusaha untuk menolong Raka.
"I~iya, Bu. Mas Raka nggak ngapa-ngapain aku kok. Tolong lepasin ya, Bu! Please!" sambung Mayang.
Ibunda Raka segera melepas jeweran di telinga anaknya. Beliau menatap ke arah Mayang. Gadis ini cantik sekali. Pikirnya. Wajah asing yang baru pertama kali Ibunda Amel lihat.
"Siapa kamu, Gadis bule?" tanya Bunda Amel pada Mayang. Siapa pun yang melihat Mayang pastilah tahu kalau gadis itu memiliki darah keturunan orang asing.
"Terus kenapa kamu nangis?" lanjut Bunda Amel.
"Nama saya Mayang, Bu," jawab Mayang lalu menundukkan kepalanya.
"Saya nangis cuma akting doang kok, Bu."
"Ya Allah, tadi itu cuma akting?" tanya Raka dengan nada memrotes.
Mayang hanya melempar senyum untuk menjawab pertanyaan Raka.
"Kalian berbahaya!" sungut Bunda Amel sambil geleng-geleng kepala.
Raka dan Mayang yang berdiri berjejeran saling melempar lirikkan. Mereka menjadi salah tingkah tidak karuan. Pastilah Bunda Amel sedang berpikir yang tidak-tidak tentang mereka. Dua orang berbeda jenis kelamin berada dalam satu ruangan hanya berdua tanpa siapa pun, jelas Bunda akan berpikir negatif. Bukan tanpa alasan, beliau menginginkan Raka menjadi lelaki sholeh yang menjaga akidahnya. Ya meskipun tidak semua bisa Raka penuhi salah satunya adalah tentang pacaran. Bunda Amel tidak setuju Raka menjalin hubungan yang seperti itu. Namun, beliau tahu di jaman sekarang ini banyak anak yang lebih buruk attitude-nya ketimbang Raka. Jadi beliau hanya bisa mewanti-wanti Raka agar tidak kelewat jalur dalam menjalin hubungan.
"Bunda tidak pernah mendengar namamu disebut oleh Raka dan Bunda baru pertama kali melihatmu. Apa yang kamu dan Raka lakukan? Apa Raka melecehkanmu?"
"Tidak!" jawab Raka dan Mayang dengan kompak. Mereka juga melambaikan tangan mereka ke kanan dan ke kiri.
"Lalu?" Pertanyaan yang singkat, tapi membutuhkan jawaban yang panjang.
"Mas Raka, bagaimana aku harus menjelaskannya?" tanya Mayang berbisik di telinga Raka.
"Eits, jaga jarak minimal satu meter!" tegur Bunda Amel kemudian menjauhkan Mayang dari Raka agar tidak bersentuhan.
"Istighfar, Raka!" perintah Bunda Amel dengan gayanya yang selalu tegas.
"Astagfirullah ... Astagfirullah ... " Raka menyebut Asma Allah berkali-kali sembari mengelus-elus dadanya.
Mayang mengerutkan keningnya. Sungguh jarang sekali ada lelaki yang super patuh pada ibunya seperti Raka yang mengikuti setiap perintah ibundanya.
"Kita ke ruang tamu saja! Urusan kita belum kelar," kata Bunda Amel.
Beliau berbalik badan dan keluar dari kamar. Di susul oleh Mayang dan Raka yang berjalan di belakang Bunda.