14. Mayang dan Maya

1544 Kata
Siapa mereka? tanya Raka dalam hati. Rasa khawatir dan cemas langsung menghinggapinya apalagi saat salah satu diantara dua lelaki itu duduk di sebelah Mayang dan mencoba merangkul gadis belia itu. Mayang ketakutan. Dia berteriak. Mendengar itu Raka langsung berdiri tapi Maya mencoba mencegahnya. "Andra biarin aja kenapa sich? Dia kan cuma anak tetangga bukan siapa-siapa kamu!" ujar Maya seraya menahan Raka agar tidak pergi dengan cara menarik tangan lelaki itu. "Aku mencintainya, Maya. Lepasin aku!" perkataan itu lolos begitu saja tanpa Raka sadari. Dia melepas tangannya dengan paksa lalu berlari mendekati Mayang. Maya mengejar Raka hingga wanita itu tersandung batu dan jatuh tersungkur. "Aduuh!" keluh Maya, "Andra tolong aku!" jerit Maya. Tapi kesakitan Maya tidak membuat Raka bergeming. Dia tetap mengutamakan Mayang terlebih dulu. "Lepasin dia atau aku hajar kalian berdua??" ancam Raka. Dia sudah melingkas lengan jaketnya dan siap beradu jotos. "Siapa kamu?? Kita cuma mau kenalan sama cewek cantik ini," sahut lelaki yang kini duduk di samping Mayang sambil merangkul pundak gadis itu. Melihat kehadiran Raka, Mayang seolah mendapatkan kekuatan tambahan untuk memberontak. Dia mengibaskan tangan lelaki kurangajar itu dengan sekuat tenaga lalu berlari mendekati Raka. Raka langsung memeluk Mayang kemudian meminta Mayang untuk berlindung di belakangnya. "Kenapa kamu lari? Kami cuma mau kenalan. Kamu begitu cantik dan enak dipandang mata," kata pria yang satunya lagi. "Jangan coba-coba sentuh kekasihku! Atau aku bisa bikin kalian menginap di kamar jenazah. Ayo sini maju! Siapa duluan yang mau aku jadiin mayat?" Raka melambaikan tangannya dengan berani. Dia mengajak mereka duel secara jantan. "Mas, kita pergi saja dari sini! Aku takut Mas kenapa-napa," Mayang mencoba menghentikan Raka. "Menjauhlah, Yang! Kamu nggak usah khawatir Mas bisa jaga diri Mas dengan baik," Raka berusaha meyakinkan Mayang kalau dia bisa mengatasi kedua lelaki berandalan tersebut. "Mas," Mayang benar-benar ketakutan. Dia bahkan sampai menangis tersedu-sedu sambil mencengkram erat lengan kekar Raka. Raka menghapus air mata Mayang dengan telapak tangannya, "Jangan menangis! Turuti apa kataku! Menjauhlah dari sini! Biar aku habisi dua lelaki gila yang sudah berani menyentuhmu," perintah Raka. Mayang merasa melambung jauh tinggi ke atas dengan ucapan Raka. Untuk kedua kalinya Raka mengakui Mayang menjadi kekasihnya. Mayang mengikuti perintah Raka dan berdiri dengan jarak lima meter dari Raka. Sementara itu Maya terlihat sangat gusar. Dia tidak suka melihat Raka yang begitu perhatian dengan Mayang, sampai-sampai Raka lebih memilih mengutamakan gadis itu daripada dirinya. Maya mengamati Raka dan Mayang dari kejauhan. Dulu aja aku nggak dibolehin pegang tangannya, sampai sekarang pun juga sama tapi sama gadis abege itu Andra mau-mau aja dipeluk-peluk, malah Andra hapus air mata Mayang juga. Maya bergumam dalam hati. Matanya tak lepas memandang ke arah Mayang dan Raka. "Sini maju! Dua orang sekalian juga nggak masalah," tantang Raka dengan gagah berani. Lelaki yang tadi merangkul Mayang maju duluan. Dia melayangkan tangannya hendak meninju Raka, tapi dengan cepat Raka menangkis pukulan itu dan balik meninju perut lawannya hingga lelaki itu meringis kesakitan. Melihat kawannya kalah, satu orang lagi maju. Dengan sigap Raka menendang kemaluan lelaki itu hingga jatuh tersungkur sambil memegangi tubuh bagian bawahnya yang terasa ngilu tak tertahankan. "Ayo sini maju lagi! Aku patahin sekalian itu barangmu!" tantang Raka lagi. Tapi kedua orang itu justru ketakutan dan lari tunggang langgang. Raka terkekeh geli melihat kekonyolan dua lelaki m***m yang dengan seenaknya mendekati Mayang tersebut. Mayang sungguh lega. Dia mendekati Raka dengan mata yang berkaca-kaca. Raka melihat Mayang lalu tersenyum. "Kamu baik-baik aja kan, Yang?" tanya Raka penuh perhatian. Mayang mengangguk. Setetes air matanya jatuh tak lama setelah itu. "Kenapa nangis lagi, Sri?" tanya Raka sambil tersenyum. Dia menghapus air mata Mayang. "Ini pertama kalinya aku keluar rumah tanpa penjagaan, Mas. Aku takut banget saat laki-laki itu mulai godain aku dan pegang-pegang aku. Aku juga takut kalau kamu terluka," jawab Mayang dengan terisak. Raka merengkuh tubuh Mayang dan memeluknya dengan hangat. Dia seperti adikku sendiri. Iya, cukup seperti itu saja aku menganggapnya. Nggak boleh berlebihan di luar batas. "Aku baik-baik aja, Yang. Aku juga nggak mungkin diam aja kalau kamu dijahati orang." "Makasih banyak ya, Mas. Mas Bambang memang orang yang baik banget. Kenapa aku nggak dilahirkan lima tahun lebih cepat ya?" "Kenapa memang?" "Biar umur kita jaraknya nggak terlalu jauh, Mas. Jadi aku bisa nikah sama Mas Raka. Kan Mas selalu bilang kalau aku anak kecil." "Hahaha... kamu ini ada-ada aja, Yang. Jodoh mah di tangan Tuhan mau usia terpaut lima puluh tahun pun kalau jodoh pasti ketemu," Raka terkekeh geli. "Kok Mas sekarang manggil aku 'Yang'?" Yang, Sayang. Raka. "Hah? Masa sich? Nggak sadar aku," Raka berdusta. Padahal dia memang sengaja mengubah sapaannya pada gadis belia itu. Maya datang mendekati kedua insan yang sedang asyik berbincang dengan keadaan masih berpelukan. "Andra!" panggilnya dengan nada kesal. Mayang dan Raka menoleh kompak ke belakang dimana arah Maya datang. Tanpa melepas rangkulannya, Raka membalas panggilan mantan kekasihnya tersebut. "Iya, May?" tanya Raka. "Kamu keterlaluan! Kamu ninggalin aku yang jatuh tersungkur cuma demi dia? Memang seberapa lama kamu kenal dia sampai kamu ngabaiin aku kayak gini? Hah?" amuk Maya dengan lantang. "Mayang diganggu sama dua laki-laki br*ngsek yang bisa sewaktu-waktu nglecehin dia. Logikaku harus main dong. Cuma jatuh tersungkur nggak bikin kamu mati kok. Kalau sebentar aja aku telat nolongin Mayang, dia bisa jadi bulan-bulanan dua lelaki gila itu. Dan seberapa lama aku kenal Mayang itu urusan aku. Kita nggak ada hubungan lagi jadi aku bebas perhatiin siapa pun yang aku mau," jawab Raka dengan santai. "Ndra, tapi a... " "Cukup, May! Jangan ungkit masa lalu terus!" potong Raka tegas. "Dulu aja waktu kita pacaran kita nggak pernah lho kontak fisik. Tapi sama Mayang kamu sampai melukin dia kayak gitu?" Maya masih melontarkan protesnya. Iya, sama mbak Fena juga katanya nggak pernah kontak fisik tapi kenapa sama aku dikit-dikit meluk ya? Pikir Mayang. "Mm.. itu... itu bukan urusanmu!" Raka nampak bingung bagaimana harus menjelaskannya pada Maya. Dia pun tidak tahu kenapa rasa ingin memeluk dan melindungi Mayang begitu kuat menyeruak dalam hatinya. "Ayo kita pergi, Yang!" Raka menggandeng Mayang untuk ikut bersamanya. Mayang hanya diam sambil berjalan mengekor di belakang Raka. Maya merasa begitu sakit hati dengan perlakuan Raka. Dia sudah merendahkan harga dirinya sendiri demi meminta cinta Raka kembali. Tapi justru penolakan yang dia terima. Bahkan Raka dengan lantang berkata kalau dia mencintai Mayang. Maya menyeka air matanya yang menetes, "Aku benci banget sama kamu Andra!" pekiknya dengan kesal. Raka membawa Mayang ke sebuah masjid yang berada tidak jauh dari taman itu. Dia mau melaksanakan ibadah shalat ashar terlebih dulu. "Yang, Mas Raka shalat dulu ya. Kamu tunggu dulu di sini!" Mayang mengangguk. Raka bergegas menuju tempat wudlu untuk mensucikan diri. Mayang duduk di atas anak tangga. Dia menatap ke sekelilingnya. Banyak pedagang memarkirkan kendaraannya sejenak untuk melepas lelah serta menjalankan kewajiban mereka sebagai umat Islam. Orang yang hidupnya pontang-panting mencari nafkah aja masih ingat shalat lho. Sedangkan aku yang apa-apa tinggal minta nggak pernah ingat sama Allah. Mayang mendekati seorang ibu-ibu penjual asongan. Dia menggendong anak bayi yang kira-kira berumur lima bulan. "Ibu, ini anak ibu ya?" tanya Mayang berbasa-basi. "Iya, Dek," jawab Ibu itu kemudian tersenyum. "Kenapa diajak, Bu?" tanya Mayang lagi. "Di rumah nggak ada yang jagain. Ibu janda anak tiga, Dek. Kalau ibu nggak kerja nanti nggak bisa makan," jawab ibu itu dengan lesu. Mayang merasa iba. Dia melihat banyak dagangan yang belum laku. "Ibu, tunggu di sini sebentar ya! Jangan pergi dulu sebelum aku kembali!" pinta Mayang kemudian bergegas pergi meninggalkan tempatnya. Sepuluh menit kemudian Raka sudah selesai mengerjakan ibadah. Dia celingukan mencari Mayang yang sudah hilang dari tempatnya duduk. "Yang, Mayaang!" teriak Raka tapi tak mendapatkan sahutan dari gadis itu. Raka menjadi panik dia takut kalau Mayang dibawa paksa oleh bodyguard ibunya. "Aduuuh.. kemana dia?" Raka kebingungan. Dia memegang keningnya dengan telapak tangan. Dia kelilingi seluruh sudut masjid tapi tak juga menemukan Mayang. "Mana aku nggak tahu nomor handphonenya lagi," keluh Raka. Dia sekarang berada di bagian belakang masjid. Dia kembali berjalan ke depan. Dia terbelalak melihat Mayang duduk di samping ibu pedagang asongan dengan menggendong seorang anak bayi. Mayang menguyel-uyel anak itu dengan gemas. "Aini, apa kamu mau ikut dengan kakak? Kamu lucu sekali. Kakak gemes banget," celoteh Mayang dan anak bayi itu tertawa dengan air liur yang kemana-mana, namun tak ada rasa jijik sedikit pun, dia masih saja mencium anak bayi tersebut. "Astagfirullah, Mayang! Kemana aja kamu?? Mas bingung lho nyariin kamu," seru Raka sambil berjalan mendekati Mayang. "Mas Raka! Maafin aku, Mas. Aku tadi nyari ATM sebentar mau ambil uang," sahut Mayang. Dia menjadi takut karena ekspresi Raka yang galak. "Kamu bikin aku takut, Yang. Aku pikir kamu dibawa paksa sama pengawal ibu kamu. Syukurlah kalau kamu baik-baik aja," Meski kesal tapi Raka lega karena Mayang sudah kembali. "I am fine, Baby. Sini duduk, Mas! Aku mau main dulu sama adik ini," Mayang menepuk tempat kosong yang ada di sebelahnya untuk Raka duduki. Raka menuruti keinginan Mayang. Mereka berdua duduk bersebelahan sekarang. Mayang terlihat senang dan terus mengajak bayi Aini berbicara. Bayi itu mengoceh. Giginya yang baru tumbuh satu membuat Aini semakin lucu saat tertawa. Raka terperangah melihat senyum yang terus bermekaran dari bibir Mayang. Wajah cantiknya semakin mempesona. Dia beda dari mantan-mantanku sebelumnya. Fena, Maya dan Anita terlalu sombong. Mana mau dia dekat-dekat sama pedagang asongan seperti ini? Apalagi sampai gendongin anaknya. Mana iler itu bocah beluber kemana-mana. Pikir Raka seraya tak lepas memandangi wajah cantik Mayang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN