13. Taman Cinta

2150 Kata
Mayang terdiam sembari memeluk helm merah maroon yang diberikan Raka. "May, kenapa bengong?? Ayo dipakai helmnya!" tegur Raka. Dia sudah menunggangi kendaraannya dan menyalakan mesin motor. Mayang menyeka air mata yang jatuh tersapu saat dia mengedipkan mata. "Aku mau pulang ke rumah mommy!" kata Mayang. Dia meletakkan helm yang dia bawa ke sebuah meja yang ada di dekatnya. "Heh! May!!" Raka meneriaki Mayang yang berjalan cepat meninggalkan dirinya. Raka turun dan mengejar Mayang. "May, kamu kenapa sich?" tanya Raka yang kebingungan kenapa Mayang tiba-tiba seperti ini. Raka menarik lengan Mayang agar Mayang berhenti berjalan. Raka memaksa Mayang untuk berdiri menghadap ke arahnya. Mayang hanya menundukkan kepala tanpa sepatah kata pun yang terucap. "Sri, kamu kenapa? Apa Mas Bambang punya salah?" tanya Raka dengan memakai panggilan sayangnya pada Mayang dan panggilan sayang Mayang untuknya. Mayang yang tadinya mau marah jadi geli. "Jangan begitu, Mas! Nanti aku nggak jadi ngambek!" protes Mayang yang kini sudah mulai memudar rasa jengkel yang ada dalam hatinya karena mendengar Raka berkata demikian. "Jangan ngambek lah! Memang Mas Raka salah apa?" tanya Raka dengan halus. Dasar nggak peka! Omel Mayang dalam hati. Sebenarnya Mayang juga bingung mau menjawab apa. Masa iya dia bilang kalau dia tersinggung sama omongan Raka. Kan kelihatan kekanak-kanakan banget. "Nggak ada, Mas!" jawab Mayang mencari aman. Apa aku ada salah ngomomg ya? Raka mulai intropeksi diri. "Ya udah ayo pulang sama Mas! Katanya masih mau seminggu sama Mas Raka! Entar Mas anterin kalau kamu mau pulang!" Raka merangkul Mayang dan mengajaknya kembali ke kedai untuk mengambil motor. Mayang mengenakan helm yang tadi dia letakkan di atas meja. Raka kembali menunggangi motor besarnya. Setelah mesin dinyalakan Mayang segera naik dibantu oleh Raka yang memeganginya dengan satu tangan. "Mas, ajakin jalan-jalan dulu dong!" pinta Mayang. "Okay!" Raka menyetujui. Seperti biasa Mayang nemplok di tubuh Raka. Dia memasukkan kedua tangannya di saku jaket Raka. Raka pun seolah nyaman-nyaman saja tubuhnya dihinggapi anak abege yang kata dia bukan seleranya tersebut. "Mas, mau ke mana kita?" tanya Mayang sambil mendekatkan wajahnya pada Raka. "Udah pernah ke Taman Cinta belum?" Raka balik bertanya. Mayang menepuk bahu Raka sambil terkekeh, "Hahaha...jangankan Taman Cinta, taman bermain depan komplek aja enggak pernah, Mas." Seperti yang sudah pernah diceritakan bahwa hidup Mayang hanya untuk belajar, belajar dan belajar jadi mana mungkin dia bisa gentayangan sampai ke taman. "Ya udah aku ajakin ke sana biar nggak ndeso," kata Raka kemudian tertawa kecil. Taman Cinta dapat ditempuh dalam waktu setengah jam dari kedai gado-gado sederhana, itu pun kalau ngebut dan nggak macet, tapi kalau dibawa santai bisa sampai satu jam apalagi rute untuk sampai ke tempat tersebut termasuk jalur sibuk. Mayang menikmati suasana keramaian kota. Menurutnya berkendara menggunakan roda dua lebih menyenangkan daripada roda empat. Dia merasa lebih bebas. Bebas bergerak, bebas menghirup oksigen dan yang paling penting bebas memeluk Mas Raka sepuasnya. "Mas, masih jauh ya?" tanya Mayang. Dia kembali mendekatkan wajahnya pada Raka. Dekat-dekat mulu ini bocah. Lama-lama aku bisa kena sakit jantung. Pikir Raka. "Lima menit lagi," jawab Raka tanpa menoleh. Takut penyakit jantungnya semakin parah kalau nengok ke Mayang karena otomatis jarak wajah mereka jadi dekatan. "O.. oke!" sahut Mayang kemudian memundurkan wajahnya lagi. Kira-kira lima menit lebih sedikit mereka sampai juga ke tempat yang mereka tuju. Sebuah taman yang bersih dan lapang. Banyak pepohonan rindang melingkar di pinggir tempat tersebut. Di bagian tengah ada sebuah arena bermain khusus anak-anak, ada prosotan, jungkat-jungkit, ayunan dan semacamnya. Sedangkan bagian pinggiran taman banyak bangku kosong untuk para pengunjung beristirahat. Tempat nyaman untuk sejenak melepas lelah sembari menghirup oksigen yang di ciptakan oleh pepohonan hijau yang ada di sekitarnya. Banyak juga bunga mawar, melati serta kembang sepatu yang tubuh dengan subur. Warna-warni bunganya menciptakan pemandangan yang indah dan memanjakan mata. "Mas, kok sepi ya? Banyak anak kecil main doang," kata Mayang yang sekarang tengah sibuk menyisir setiap sudut tempat yang baru pertama kali dia kunjungi. "Ramainya kalau malam, May. Banyak orang pacaran. Hehehe.." sahut Raka. Iya, meski belum pernah ke mari, tapi bukan berarti Mayang tidak tahu tempat ini. Mayang sering mendengar nama taman ini dari teman-temannya. "Enak lho kalau punya pacar bisa diajakin jalan-jalan ke taman. Apalagi ke taman cinta," kata Winda "Taman Cinta itu apaan?" tanya Mayang gadis yang paling lugu yang nggak pernah gaul ke luar rumah. "Taman Cinta itu tempat favorit anak muda buat pacaran, May," jawab Nadila. "Di mana itu?" tanya lagi Mayang dengan kening berkerut-kerut. "Astaga! Dia nggak tahu lho Taman cinta di mana? Yang.. Yang.. udah gede bisanya nenen mommy doang. Percuma punya banyak harta kalau nggak gaul," giliran Ester yang menjawab. Mayang hanya bisa berdecak kesal tanpa bisa membantah karena omongan Ester sesuai fakta. "Itu taman ada di jantung kota. Kalau dari sekolah kita ini ya sekitar tiga puluh sampai empat puluh menit lah. Di taman itu banyak orang pacaran, apalagi kalau malam. Beh.. seru banget dech buat mojok. Makanya dinamain Taman Cinta," gantian Anne yang menjelaskan pada Mayang kegunaan taman tersebut dan di mana letaknya. Setelah percakapan itu Mayang baru tahu apa itu Taman Cinta. Dan Seperti biasa, Winda dan kawan-kawan memang sering mengiming-imingi Mayang agar cepat punya pacar. Banyak juga kok yang naksir Mayang, tapi sekali lagi rasa takutnya pada mommy membuat Mayang mengurungkan keinginan untuk merasakan hidup layaknya remaja seusianya. "May, kita duduk di sini aja!" Raka mengajak Mayang duduk di sebuah bangku yang hanya bisa ditempati oleh dua orang saja. Tepat di depan tempat itu terhampar bunga mawar merah yang bermekaran. "Wah... indah banget ya, Mas. Meski berduri tapi bunga ini banyak banget peminatnya," "Maya dulu suka banget aku ajak ke sini," *Maya? May? Ow... jadi mbak-mbak itu namanya Maya, beda tipis sama namaku kurang ng doang.* "Dia siapanya Mas Raka?" tanya Mayang. Meski sebenarnya dia sudah bisa menarik kesimpulan dari percakapan mereka di kedai gado-gado kalau pernah ada hubungan khusus antara Raka dan Maya. "Mantan," jawab Raka singkat. "O....jadi bawa aku ke sini karena mau mengingat masa lalu sama mantan? Okay! Sip!" Mayang merasa kecewa dan sedih. Padahal seharusnya dia tidak berhak bersikap seperti ini. Diantara dia dan Raka tidak ada hubungan apa-apa. "Enggak gitu juga, Sri," Raka menyangkal. "Terus apa, Mas? Tadi di kedai ketemu mbak Maya terus aku minta jalan-jalan langsung nawarin ke sini, itu berarti Mas Raka mau mengingat masa lalu. Nostalgila," terang Mayang kemudian melengos kesal. "Cemburu? Jenk Sri cemburu? Dih.. segitunya!" Raka menggoda Mayang yang berubah cemberut semenjak dirinya menyebut nama Maya. "Enggak! Siapa juga yang cemburu? Kepedean banget lu, Bambang. Sok cakep," Mayang sewot. Raka berdiri dari tempatnya. Mayang pura-pura cuek padahal dalam hati dia penasaran Raka mau ngapain. Dia melipat kedua tangan di depan d**a sambil melirik ke arah Raka. Raka berjalan mendekati hamparan bunga-bunga mawar. Dia mengarahkan tangannya pada satu tangkai mawar berwarna merah. Kalau merah kata orang tanda cinta sama orang spesial, kalau mawar putih tanda sayang sama sahabat. Dengan sudah payah Raka memetik bunga itu namun sayang jarinya tertusuk duri hingga dia meringis menahan sakit. "Mas, kenapa?" tanya Mayang. Dia langsung berlari mendekati Raka. Seketika itu rasa marahnya menghilang entah ke mana. "Ketusuk duri, May," jawab Raka sambil melihat jarinya sendiri. Biar durinya kecil tapi lumayan nyeri. Ada sedikit darah keluar dari pori-pori tangan Raka. Mayang menarik tangan Raka dan memeriksanya dengan khawatir. "Berdarah, Mas," Mayang langsung memasukkan jari Raka ke mulutnya (Kayak sinetron-sinetron romantis itu lho,hehehe..). Mayang menyedot darah Raka yang hanya keluar seiprit itu dengan penuh perhatian. (Authornya agak lebay memang, hehe..) Raka terpaku memandangi wajah Mayang yang terlihat semakin cantik saat khawatir. Tanpa dia sadari, bibirnya tertarik ke kanan dan kiri secara simetris. Raka tersenyum senang. Merasa diamati Mayang melepaskan tangan Raka dan gantian memandangi wajah lelaki itu. Mata mereka saling beradu dengan posisi tangan Mayang yang masih memegangi tangan Raka. Ini bukan cinta kan? Aku nggak mau jatuh cinta sama anak orang kaya. Bukan. Baru semalam ketemu, mana mungkin langsung cinta? Sadar, Raka! Raka berpikir. Berasa nggak mau jauh dari Mas Raka. Semua yang ada sama dia benar-benar menyentuh hatiku. Tapi dia bilang dia nggak mungkin pacaran sama anak abege kayak aku. Sadar, Mayang! Mayang berpikir dalam hati. Lagi asyik saling bertatapan tetiba ada seseorang datang menepuk pundak Raka membuat keduanya kompak menoleh. Aksi saling pandang pun terpaksa dihentikan. Dia lagi. Huft!! Mayang menjadi kesal. Moodnya kembali berantakan. "Raka, kamu juga masih suka ke sini? Aku pikir kamu udah malas main ke sini setelah kita putus," kata wanita yang tadi menepuk pundak Raka berbasa-basi. Ini Mbak Maya ngintilin kita sampai ke sini atau gimana sich? Perasaan ketemu mulu. Nggak mungkin kalau kebetulan. Masa kebetulan sampai dua kali. Jangan-jangan mau minta balikan sama Mas Raka lagi. I fell so bad. "Aku menemani Mayang jalan-jalan, May. Oya tadi kalian belum berkenalan secara resmi kan? Sekarang kalian kenalan dulu! Yang, kenalin ini Maya teman Mas Raka. May, ini Mayang." Raka saling memperkenalkan kedua wanita itu meski mereka sudah tahu nama masing-masing sebelumnya. "Hai! Aku Maya tapi perlu aku koreksi sedikit aku bukan teman biasa untuk Raka tapi aku mantan pacar Raka," ujar Maya membenarkan statusnya kemudian dia mengulurkan tangannya pada Mayang. Wanita berumur dua puluh dua tahun memiliki paras yang anggun dengan kacamata minus bertengger manis di hidung mancungnya, rambutnya panjang sebatas siku, kulitnya putih bersih dengan tinggi badan yang lebih pendek dari Mayang. Sekilas wajah Maya hampir mirip dengan wajah Fenna mantan pacar Raka yang satu lagi. Jadi begini selera cewek Mas Raka. Memakai dress feminim dan heels tinggi. Untuk make up nggak terlalu mencolok sich tapi dia pakai eyeliner, blush on, pensil alis dan lipstik berwarna merah meski nggak ngejreng juga. Sedangkan aku? Aku cuma pakai pelembab wajah sama bedak doang, lipsglosh pun kalau ingat. Mbak Fenna penampilannya juga sama kayak Mbak Maya. Nah kalau aku? Mayang melihat dirinya sendiri dari atas ke bawah. Penampilanku jelas kalah kalau dibanding dua mantan-mantan Mas Raka. Pantas saja Mas Raka bilang aku bukan seleranya. Maya melempar senyum pada Mayang, meski begitu Mayang tetap saja tidak nyaman dengan kehadiran wanita itu di antara dirinya dan Raka. Senyum Maya seolah sedang menabuh genderang perang di antara mereka berdua. Mayang membalas uluran tangan Maya, "Hai juga! Kalau Mbak Maya kan masa lalu tapi kalau aku masa depannya Mas Raka," ujar Mayang dengan penuh percaya diri membuat Maya menjadi sedikit emosi. Ngajak perang dia. Eh, ngomong apaan sich elu, Sri? Raka terkejut dengan ucapan Mayang. "Oke kita lihat saja nanti, Mayang," Maya melepas jabatan tangannya dia menatap wajah Mayang dengan seksama lalu kembali berkata, "Andra, apa kita bisa bicara berdua saja? Aku mau ngomong sesuatu sama kamu," tatapan Maya tak lepas menyiratkan ketidaksukaannya akan kehadiran Mayang. Dari tatapan itu juga Maya berusaha mengusir Mayang agar menjauh. Raka pun turut memandangi wajah Mayang. Dia merasa tidak enak kalau harus meminta Mayang pergi. Mayang membuang muka dengan kecewa. "Aku tinggal, Mas. Bicaralah kalian berdua!" Mayang buru-buru berlalu meninggalkan Raka dan Maya karena dia merasa sadar diri bahwa kehadirannya mengganggu mereka berdua. Raka menatap gadis itu pergi tanpa berkedip sedikit pun. Mayang memilih untuk duduk di kursi panjang yang cukup jauh dari Raka dan mantan kekasihnya itu berada. Dia menyeka air matanya yang menggenang. "Kenapa aku berlebihan banget? Siapa Mas Raka? Aku baru kenal dia sehari tapi kenapa rasanya hatiku sakit banget lihat dia sama cewek lain. Ah.. otak aku sengklek kayaknya," gumam Mayang sembari menghapus tetesan air matanya berulang-ulang. Maya dan Raka duduk di bangku yang tadi dia tempati bersama Mayang. Maya memegang tangan Raka tapi Raka langsung menepisnya. "Maaf aku memang sengaja ngikutin kamu ke sini," Maya mulai membuka pembicaraan, "Andra, dulu kita putus karena aku harus ikut orangtuaku pindah keluar kota. Tapi sekarang aku udah balik lagi ke kota ini. Aku mau kita kayak dulu lagi, Ndra. Aku pingin balikan sama kamu, aku masih cinta sama kamu, Ndra," Maya mengungkapkan maksud hatinya dan itu membuat Raka tercengang. Kisah mereka sudah lama usai sejak enam tahun yang lalu. Raka diam sejenak kemudian menjawab, "Aku nggak bisa, May! Maafkan aku ya!" Raka menolak. "Tapi kenapa? Apa karena anak abege itu?" tanya Maya. Dia sangat kecewa. Raka melihat ke arah Mayang yang kini sedang sibuk memainkan ponsel milik Jasson. Lalu dia beralih pada Maya kembali. Dua wanita dengan nama yang hampir sama membuat perhatian Raka terpecah menjadi dua. "Ini nggak ada hubungannya sama Mayang," jawab Raka dengan perasaan gusar yang entah karena apa perasaan itu bisa muncul dan menghinggapi hatinya. "Tapi aku lihat dia suka sama kamu, Ndra. Aku pikir dia lagi berusaha merebut perhatianmu. Menurutku dia bukan gadis yang baik, Ndra," Maya menggebu-gebu mengatakan rasa keberatannya pada sikap Mayang. Dia juga berusaha mencuci otak Raka. "Nggak ada yang dia rebut, Maya. Aku free! Kalau dia ingin aku perhatikan itu sah-sah aja. Aku berhak memberikan perhatianku ke siapa saja yang aku mau. Jangan ngomong yang enggak-enggak tentang Mayang!" Raka keberatan dengan statement Maya. "Aku jauh-jauh kembali ke sini untuk kamu, Ndra." "Nggak ada yang minta kamu untuk balik ke sini, May. Aku mohon jangan bertingkah kayak gini!" Maya berusaha meraih tangan Raka tapi kembali Raka menepisnya. Raka justru sibuk memperhatikan Mayang yang kini didekati oleh dua orang lelaki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN