12. Mantan Pacar Pertama

2155 Kata
"Nona, saya mohon pulang lah!" Jasson tidak mempedulikan omongan Raka. Dia mengalihkan pandangannya dari lelaki itu dan meminta Mayang untuk ikut bersamanya. "Jass, aku masih ingin bersama Mas Raka," sahut Mayang dengan cepat. Makanan sudah datang dan mereka pun memutuskan untuk menikmati makanan mereka dulu tanpa bersuara. Mayang makan sangat lahap. Ini makanan kesukaan Daddy. Dan Mayang kerap memakannya di rumah karena assisten rumah tangganya suka memasak ini untuk daddy. "Diih .. kelaparan ya, May?" tanya Raka seraya tersenyum kecut. "Iya, Mas. Mas Raka tadi kelamaan sich. Pakai ada drama sama Fenna dulu lagi," jawab Mayang dengan suara kurang jelas karena sambil mengunyah. "Siapa Fenna, Nona? Apa dia menyakiti anda?" Jass langsung siaga satu. Dan kegiatan makan siang yang tadi hening kini menjadi ribut. "Hahaha ... dia hanya semut di ujung jariku, Jass. Kecil," sahut Mayang diawali dengan tawanya yang renyah. Semut di ujung jari dia bilang? Cih! Gaya! Dia aja nangis sesenggukan saat Fenna mau menamparnya. Dasar Si Sri! Mayang menengok ke arah Raka. Dia melihat ada bumbu kacang yang meluber keluar dari mulut Raka. Mayang mengambil tisue dan membersihkannya dengan lembut. "Apa lu nggak bisa makan dengan benar, Bambang? Hahahaha ..." Mayang terkekeh geli. "Ini karena aku kelaparan juga kayak kamu, Sri," sahut Raka. Sri? Bambang? Mereka sudah memiliki nama panggilan kesayangan. Jasson sulit percaya karena Nona Mudanya segitu mudah akrab dengan orang asing. Raka meraih ujung rambut Mayang yang menjuntai ke bawah. "Nich lihat! Bahkan sampai rambutmu pun ikut makan," kata Raka. "Hahahaha ... rakus sekali ya rambutku, Mas?" "Iya, rakus kaya kamu." Raka mengambil tisue dan gantian membersihkan rambut Mayang. Mayang tidak sadar rambutnya terkena bumbu kacang, salah dia juga rambut panjangnya dia biarkan terurai dan berhamburan ke mana-mana. Apa jangan-jangan mereka sudah lama kenal? Kenapa bisa sedekat ini? Tapi tidak mungkin! Nona Mayang ke mana pun selalu bersamaku. Jass menatap pemandangan di hadapannya lekat-lekat. Mengamati Mayang dan Raka yang terus bersenda gurau. Sesaat dia teringat pesan seorang lelaki tua padanya, "Jagalah Mayangku seperti engkau menjaga nyawamu sendiri, Jass! Biarkan dia bersama orang yang membuatnya bahagia dan tertawa! Dia nyawaku, Jass! Dia hartaku!" Nona Mayang terlihat bahagia bersama lelaki itu. Seperti petuah beliau, aku harus membiarkan Nona Mayang bersama orang yang bisa membuatnya bahagia. Nona Mayang seperti seorang tawanan di rumahnya sendiri. Dan dengan lelaki ini dia seperti mendapatkan kehidupan baru. Tapi lalu bagaimana dengan hatiku? "Mas, aku punya tebakan." Mayang sangat ceria. Senyum itu terkembang begitu nyata di bibir gadis belia tersebut. Jass mengamati tingkah nona mudanya dengan seksama. Membiarkan Mayang melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan. "Apa?" tanya Raka singkat kemudian memasukkan sesendok sayuran plus bumbu kacang ke mulutnya. "Micin micin apa yang mengasyikan?" Mayang memberikan satu soal pada Raka. "Kamu juga boleh ikutan, Jass!" lanjutnya mengajak Jass yang sedari tadi hanya diam untuk ikut bermain. "Saya tidak bisa, Nona." Jass yang kaku hanya memilih pasrah. "Dipikirin dulu, Jass! Aku kasih waktu semenit dech. Ayo siapa yang bisa menebak? Micin micin apa yang mengasyikkan? Ntar Aku kasih cium kalau bener, Hahahaha .... " Ada-ada aja ini bocah! Raka tersenyum mendengar kekonyolan anak abege yang duduk di sebelahnya. "Ayo, Mas! Di jawab!" Mayang nguber-nguber Raka. "Jass, kamu juga!" Gantian memerintah Jasson. Kedua lelaki itu bertatap mata. "Micintaimu," jawab kedua lelaki itu bersamaan. "Waooooow ... kalian benar! Hahahaha ... hebat!" Mayang kegirangan. Raka dan Jasson menatap Mayang bersamaan. Mayang bertepuk tangan seperti habis melihat lumba-lumba yang berhasil melakukan atraksi. Dia tertawa renyah tanpa sadar ada dua orang yang terpukau dengan kecantikannya. "Karena Mas Raka dan Jasson menebak dengan benar dan kompak, ayo sekarang kalian berciuman! hahahahaha ...." Mayang membuat banyolan. "Kenapa aku harus nyium dia? Ah ngaco lu, May!" Raka protes. "Saya masih normal, Nona." "Hahaha ... Jass, senyum dong!" tegur Mayang. Jass memang susah disuruh senyum. "Nona, baiklah kalau anda masih ingin bersama dengan lelaki ini .... " Melirik ke arah Raka dengan tajam. Dia memang selalu serius. "Benarkah, Jass? Terima kasih ya! Kamu memang baik hati." Mayang sangat bahagia karena Jass mau menuruti keinginannya. "Tapi bawa ponsel ini, Nona! Agar saya bisa menghubungi anda setiap waktu." Jass menyodorkan sebuah gadget miliknya pada Mayang. Jass memang memiliki dua ponsel. Yang satu untuk urusan pekerjaan dan yang satu untuk urusan pribadi. Dan handphone yang diberikan pada Mayang adalah untuk urusan pribadi. "Aku bawa ponsel kok, Jass. Hanya ponselnya aku non aktifkan." "Kalau anda mengaktifkan ponsel anda, nanti anak buah Nyonya Sandrina akan mudah melacak anda. Saya tidak mau mereka memaksa anda pulang, Nona. Mereka bisa menyakiti anda kalau mereka nekad." "Benar juga katamu, Jass. Oke aku bawa ponselmu ya, tapi nanti kalau pacarmu menelpon bagaimana?" Mayang tertawa karena dia tahu Jasson itu jomblo anyep seperti dirinya. "Anda mengejek saya, Nona?" tanya Jasson dengan nada tidak terima. "Jadi kamu punya pacar, Jass?" "Tidak, Nona!" jawab Jass dengan cepat. "Sabar ya, Jass! Hehehe ... " ledek Mayang. "Kamu sudah selesai makan, Mayang?" tanya Raka. "Udah, Mas. Oya, sedari tadi ngobrol kalian belum berkenalan kan? Jass, ini Mas Raka! Mas, Ini Jass sahabat aku!" Mayang saling memperkenalkan mereka. Mayang menyebut Jass sebagai sahabatnya. Raka dan Jasson malah saling bertatapan. "Malah pada bengong! Ayo salaman!!" Mayang meraih tangan Raka kemudian tangan Jass juga, lalu dia menautkan kedua tangan lelaki itu. "Nah, sekarang kalian berteman. Asyik ... aku di antara dua lelaki tampan. Hahaha ... jangan pada berebut ya! Aku bisa dibagi dua kok. 3,5 hari dengan Jass dan 3,5 hari dengan Mas Raka. hehehhe.." Dia punya perasaan sama Mayang. Batin Raka. Lelaki ini tertarik sama Nona Mayang. Pikir Jasson. Saking asyiknya berperang lewat tatapan mata, Jass dan Raka sampai lupa kalau mereka masih berpegangan tangan. Mayang melihat Raka dan Jasson bergantian. Mereka Kenapa sich? Mayang jadinya heran sendiri. "Yach.. Malah pada jatuh cinta. Hahahahaha ..." Mayang terkekeh geli. Raka mengalihkan matanya pada Mayang. Dia melihat gadis itu tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Terlihat keceriaan yang begitu terpancar di wajah cantiknya. Kenapa Aku selalu ingin melihatmu tertawa seperti ini, Mayang? Ini udah salah! Ya Allah, jangan biarkan aku terjebak dalam perasaan yang terlalu dalam. "Nona, saya permisi dulu! Mas Raka, biar saya yang bayar tagihannya!" Jasson berdiri dari tempat duduknya dan mengambil dompet dari saku celananya. "Nggak usah, Jass! Biar aku saja!" Raka mencegah. "Udah biarin aja, Mas! Jass uangnya banyak kok," sahut Mayang. "Aku juga masih mampu bayar, May." Raka tersinggung. "B-Bukan gitu maksud aku, Mas." Mayang merasa tidak enak. Raka mendengus kesal. "Jass, biarkan Mas Raka yang bayar ya!" kata Mayang yang disambut anggukan oleh Jasson. "Baiklah! Saya pergi, Nona! Mas Raka saya titip Mayang," ujar Jasson kemudian melenggang pergi meninggalkan Mayang dan Raka. "Bambang, Sri minta maaf ya! Bukan maksud Sri untuk ngrendahin Mas Bambang kok." Mayang berusaha membuat Raka tersenyum. "Nggak lucu ya, Sri!" sentak Raka tapi dengan senyum kecil yang tersinggung di bibirnya. "Hahaha ... Mas Raka nahan ketawa kan?Aku tahu, Mas Raka nggak akan bisa marah sama aku. Aku terlalu imut dan manis untuk diambekin." Mayang menjadi narsis. Raka menguyel-uyel kedua pipi Mayang dengan gemas. Dia mencubit dan menarik-narik Mayang seperti sedang memainkan squishy.. Halusnya kulit anak ini. Nyamuk aja bisa kepleset lho. Astagfirullah! Bukan muhrim Raka! "Mas Raka kalau mau cium juga boleh." Mayang genitnya semakin menjadi. Jangan murahan anak kecil! Raka melepaskan tangannya dari wajah Mayang kemudian ia menyentil kening Mayang dengan jari telunjuknya. "Anak kecil udah ngeres." Mayang hanya tertawa. "Sedari tadi aku lihat kamu ketawa terus, Sri." "Aku rasanya senang aja, Mas. Mas Raka Aku mau ngomong boleh?" tanya Mayang yang tetiba jadi mellow. "Kan sedari tadi udah ngomong terus, May!" "Mas.., " Mayang menggantungkan ucapannya. "Apaan??" Raka menjadi penasaran dengan apa yang akan Mayang katakan. Seketika jantungnya berdetak cepat. Baru kali ini dia merasa seperti ini. Rasa yang beda dari yang pernah dia kecap dari wanita lain sebelum kehadiran Mayang. Mayang masih tak juga membuka mulut. Dia malah sibuk meremas ujung bajunya. Arah matanya lurus ke bawah. Menatap ke lantai keramik kedai sederhana yang dia kunjungi. "Nggak ada uang jatuh. Nggak usah lihat bawah!" tegur Raka. "Mas.., mau ngomong aku," kata Mayang kemudian mengerucutkan bibirnya. "Sedari tadi aku udah nungguin tapi kamu nggak ngomong-ngomong, May. Ngeselin ini bocah!" Raka dibuat jengkel oleh tingkah Mayang. "Mas, aku..," Baru saja mau ngomong tapi suara ponsel Jass kembali membuat Mayang harus menutup mulutnya. Mayang lalu beralih pada gadget yang tergeletak di atas meja. "Hallo, Jass!" sapa Mayang. Belum juga sepuluh menit, udah telepon. Pikir Raka dalam batin. "Nona, bisa kah anda mengirim alamat rumah pemuda itu? Jadi saya bisa memeriksa keadaan anda sewaktu-waktu!" kata Jass di ujung teleponnya. "Iya, entar aku chat ya. Aku mau otewe pulang dulu." "Baiklah! Jaga diri anda baik-baik, Nona!" Jass mematikan panggilannya. "Mas, bisa nggak kirimin alamat Mas Raka ke nomornya Jasson? Dia pingin tahu, Mas. Biar bisa gampang kalau mau nemuin aku." "Nggak perlu juga kan, May. Kan besok kamu udah Mas antar pulang!" "Mas, ini yang mau aku omongin sedari tadi. Aku masih mau sama Mas Raka. Kasih aku waktu seminggu untuk sama-sama Mas Raka. Boleh ya, Mas? Aku janji cuma satu minggu aja, Mas," pinta Mayang dengan wajah memelas. "Kenapa memangnya? Kamu nggak takut tinggal sama aku? Ntar kalau aku apa-apain gimana?" tanya Raka dengan senyum jahil menggoda Mayang. Mungkin mengusili gadis itu sudah menjadi hobby baru untuk Raka. Mayang menggeleng dengan cepat, "Enggak! Aku yakin Mas Raka masih punya iman yang kuat kok," sahut Mayang dengan tegas. Aku pikir dia mau bilang I love you! Eh, kenapa aku ngarep banget ditembak cewek abege? Payah! Jangan agresif, May! Baru juga semalam masa udah mau kamu tembak? Mayang berkata pada dirinya sendiri. Tunjukkan kalau kamu itu beneran polos! Jangan main nyosor! "Ya udah terserah elu, Sri! Aku mau bayar makanan kita dulu." Raka beranjak dari tempat duduknya dan segera membayar pesanan mereka di kasir. Mayang tersenyum melihat lelaki gagah itu berlalu meninggalkannya. Iseng-iseng Mayang mengotak-atik telepon seluler milik Jasson. Yang pertama kali dia buka adalah daftar buku telepon. Hanya ada sepuluh nomor kontak dan salah satu adalah nomornya. "Benar-benar anyep Si Jasson. Hahaha ...." Mayang tertawa. Itu sama saja dia menertawakan dirinya sendiri yang sama-sama anyepnya. Setelah itu dia buka galeri photo pribadi. Ada foto Jasson. "Wah ... narsis juga dia ya," komen Mayang sambil tersenyum geli. Mayang menscroll terus ke bawah hingga dia terkejut karena mendapatkan banyak foto dirinya tersimpan rapi di dalam ponsel bodyguard tampannya itu. "Kenapa Jass diam-diam ngambil foto aku ya?" Mayang bertanya pada dirinya sendiri. Ada lima puluhan foto yang diambil Jass dengan cara candid. Ada saat Mayang pakai seragam sekolah. Saat Mayang makan dengan lahap di depan meja, bahkan foto Mayang saat belajar di kamar juga ada. "Harusnya kalau dia mau fotoku, dia bisa langsung bilang nggak perlu mencuri-curi kayak gini. Aku dengan ikhlas akan berpose semanis mungkin buat dia. Jass mah aneh," gumam Mayang. Dia masih penasaran. Siapa tahu ada foto cewek lain yang laki-laki itu simpan. Mayang menggulir terus ke bawah sampai mentok. Dan nihil! Hanya ada foto dia cewek satu-satunya. "May, ayo kita pulang!" ajak Raka. "Iya, Mas," sahut Mayang kemudian berdiri dan berjalan membuntuti Raka. Dia masih sibuk mengotak-atik ponsel pribadi Jasson. "Dia memang manusia antik! Handphone-nya polos banget! Nggak ada gamenya juga! Ck! Payah!" Mayang mencaci maki gadget yang ada di tangannya. Sampai di depan kedai, ada seorang wanita menyapa Raka. "Ndra, kamu masih suka ke mari juga rupanya?" tanya wanita itu sambil tersenyum. Kok Ndra manggilnya? Mayang penasaran. "Iya, May," jawab Raka singkat. Kok May manggilnya? Namanya Mayang juga kah kayak aku? Mayang yang tadinya berdiri satu meter dari Raka kemudian berjalan mendekat. Raka mengulurkan helm pada Mayang yang langsung diterima oleh Mayang. "Dia siapa, Ndra?" tanya wanita itu sambil menunjuk ke arah Mayang. Mayang mengerucutkan bibirnya merasa tidak nyaman karena wanita itu menatapnya penuh selidik seolah ingin tahu apa status Raka dengannya. "Dia ... Dia .... " Raka berpikir dulu untuk menjawab siapa Mayang baginya. "... Dia Mayang, anak tetangga baru. Iya!" lanjutnya. Keterlaluan! Aku dibilang anak tetangga. Mayang ngomel dalam hati. Mayang membulatkan kedua matanya. Bibirnya semakin maju karena kesal. "O.. aku pikir pacar baru kamu," sahut wanita itu sambil manggut-manggut. "Ya enggaklah! Mana mungkin aku pacaran sama anak abege?" sambung Raka dengan santai. Entah kenapa hati Mayang menjadi sakit saat mendengar Raka berkata demikian. Seolah itu menjadi penolakan yang keras untuknya. Tanpa sadar mata Mayang berkaca-kaca. "Hahaha... " wanita yang memiliki nama panggilan sama dengan Mayang itu tertawa puas, seolah sedang menghina Mayang sampai ke akar-akarnya, "Iya, aku tahu selera kamu yang kayak aku begini kan? Makanya belum bisa move on sampai sekarang, hahaha.." Raka melengos kecut, "Hih.. kepedean buanget! Aku dah ganti pacar dua kali ya setelah sama kamu." "Oya? Hebat juga? Next sama anak abege juga boleh, Ndra. Belum coba daun muda kan? Hahaha.." wanita itu terus saja menyudutkan Mayang. Wanita itu bernama Maya. Iya, Maya Fitriya. Dia mantan pacar Raka. Pacar pertama Raka. Cinta pertama Raka saat duduk di bangku SMA. Mereka berpacaran selama dua tahun. "Lihat aja entar! hehe.." Raka tertawa kecil sambil melirik Mayang yang hanya diam dan menundukkan kepalanya. "Oke, aku masuk dulu ya!" pamit Maya. "Oke!" sahut Raka singkat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN