11. Pertemuan Raka dan Jasson

1694 Kata
"Terus? Apalagi, May?" tanya Raka lagi. "Daddy. Dia lelaki hebatku, Mas. Dia sangat baik, dia rajin salat, dia selalu menenangkan aku, membuat aku nyaman, dia mengajarkan aku banyak hal, tapi soal ibadah daddy selalu bilang kalau semua hubungan Tuhan sama manusia itu adalah tanggung jawab masing-masing individu, daddy selalu ingatin aku buat salat tapi nggak terus yang maksa, Mas. Daddy tau aku udah tertekan dengan sikap mommy jadi beliau nggak mau neken aq juga. So I feel you are exactly like my father. I feel comfortable and safe with you," (Jadi aku merasa kamu mirip seperti ayahku. Aku merasa nyaman dan aman denganmu,) "So you consider me like your father? OK! No problem, Mayang! As long as you are happy," sahut Raka dengan bahasa Inggris juga. (Jadi kamu menganggapku seperti ayahmu? Baiklah! Tidak masalah, Mayang! Selama kamu bahagia,) "Bukan gitu juga, Bambang! Ya, ayahku memang tampan juga kayak Mas Raka, tapi Mas Raka lebih mempesona buat aku. Hahahaha ..." Mayang sudah bisa kembali bercanda. "Aku memang tampan dan mempesona, itu memang daya tarikku, Sri. Jadi jangan heran kalau banyak cewek ngantri di belakang kamu! Hahaha ..." Raka mulai narsis. "Di belakang aku?" Mayang menoleh ke belakang, "Kagak ada, Mas. Adanya kursi sofa, hahaha ...." "Itu cuma istilah, May. Eh dianya nengok beneran ke belakang." Raka sewot. "Mas, besok Mas Raka jadi anterin aku pulang ke rumah? Mommy aku galak banget lho, Mas. Aku pulang sendiri saja. Aku nggak mau Mas Raka kena masalah." "Aku nggak takut sama emak kamu. Aku cuma takut sama Allah." "Krucuk ... Krucuk .... " Lambung Mayang berbunyi, cacing-cacing di perutnya sudah mulai berdemonstrasi. Raka yang mendengar itu langsung tertawa. "Ealah, Sri. Kamu kelaparan? Kasihan!" Raka mengacak-acak rambut Mayang dengan gemas. "Kan aturannya tadi mau Mas ajak makan malah nggak jadi karena ada si kuntilanak merah itu." Mayang menyebut Fenna kuntilanak. "Dia bukan lagi kuntilanak tapi mbah-mbahnya kunti." "Heleh! Gitu juga doyan!" tukas Mayang dengan sigap membuat Raka menjadi malu. Iya-iya, kenapa dulu aku bisa ngejar-ngejar Fenna? Memang kalau orang udah cinta semua yang dilihat berasa sempurna. Tapi sekarang ke mana rasa suka ku sama dia? Ini kayak hilang, lenyap nggak ada sisa sama sekali. Aku malah bersyukur lho dijauhkan dari wanita kasar dan tukang selingkuh kayak Fenna. Gusti Allah masih melindungiku. Mayang melihat Raka melamun. Tatapan lelaki itu lurus ke depan dengan pandangan kosong tanpa berkedip. Kesempatan ini digunakan Mayang untuk mengamati wajah Raka secara seksama. Kalau lagi diam, Mas Raka kelihatan tambah ganteng lho. Matanya, hidungnya, bibirnya, semua aku suka. Sesaat kalau diamati malah mirip sama daddy, nggak cuma sifatnya doang yang sama, tapi wajahnya juga persis. Apa aku benar-benar jatuh cinta sama dia? Aku rasanya nggak pingin balik ke rumah neraka itu lagi. Pingin di sini aja sama Mas Raka. "Mayang, kamu lapar kan? Aku ambilin makan di dapur aja gimana? Ada steak ayam sama daging, kamu bisa milih." Raka menyudahi lamunannya, kini giliran Mayang yang melayang-layang dengan pikirannya sendiri. Mayang bengong. Omongan Raka dikacangin. Dia masih sibuk menatap wajah Raka. Kenapa ini bocah? "Woey! Are you okay, Mayang? (Apa kamu baik-baik saja, Mayang?)" Raka melambaikan tangannya ke kanan dan ke kiri tepat di hadapan wajah Mayang. Mayang tak juga merespon. Dia malah tersenyum menatap ketampanan Raka yang mempesona. Raka memegang kedua bahu Mayang dan menggoncangkannya dengan kuat membuat gadis itu terperanjat. "Mas Raka, iiih!" pekik Mayang sambil memukuli bahu Raka bertubi-tubi. "Hahaha ... Makanya jangan melamun! Entar kesambet setan baru tahu rasa lu! Mau steak ayam apa daging?" tanya Raka dengan nada tinggi. "Aku mau kamu, Mas. Hehehe ..." jawab Mayang cengengesan. Dia memilin-milin ujung bajunya sambil tersenyum genit. Raka memalingkan wajahnya dari tatapan Mayang seraya menyunggingkan senyum malu-malu. Bocah ini.. Ck! Kontrol hati lu Raka! Ini gegara keseringan lihatin Winda centil, jadinya aku ikutan centil begini. "Jangan gitu ah, Sri! Risih gue!" tegur Raka. Padahal aslinya dia senang banget di genitin sama Mayang. "Aku mau steak ay-" Belum selesai Mayang bicara, seseorang tiba-tiba membuka pintu membuat Raka dan Mayang refleks menoleh. Ternyata Andika membawakan makanan di tangan kanannya. "Yang, aku bawain steak daging nich buat kamu. Kamu belum makan kan?" tanya Andika yang kemudian meletakkan hot plate berisi steak daging di atas meja. "Iya, aku belum makan. Makasih ya, Mas Dika," jawab Mayang kemudian berterima kasih. "Sama-sama, Yang," sahut Dika kemudian tersenyum. Perhatian banget si Dika, jangan-jangan dia naksir Mayang! Pikir Raka yang merasa tidak suka dengan sikap Andika. "Tapi kan tadi kamu mau steak ayam, May. Yang dibawa Dika itu steak daging." Raka protes karena makanannya tidak sesuai dengan yang gadis itu mau. "O ... gitu? Okay, aku ganti steak ayam ya, Yang." Andika mengambil hot plate yang dia bawa. "Bisa nggak, nggak usah 'Yang-Yang-an' gitu manggilnya?" Raka protes lagi. Kali ini bukan karena makanan, tapi karena sapaan Andika pada Mayang. "Lhah kan namanya Mayang, Ka." Andika membuat pembelaan. "Kan bisa 'May' mangggilnya. Kalau 'Yang' entar dikira sayang. Bikin cowok-cowok yang mau deketin dia jadi mundur tahu nggak?" Raka masih dengan opininya sendiri. "Nggak usah ribet gitu, Mas! Nggak apa-apa kok kalau Mas Dika mau manggil aku 'Yang'." Mayang membela Andika. "Lagian kenapa dia bisa tahu nama asli lu sih, Sri?" "Aku yang ngasih tahu, Mas!" "Lagian lu aneh, Ka. Punya sepupu namanya bagus banget malah elu ganti Sri!" Andika menegur Raka. Raka mengernyitkan dahinya. "Sepupu?" tanda tanya besar bersemayam di otak Raka saat ini. Kapan Aku ngenalin Mayang jadi sepupu aku? Raka berusaha mengingat-ingat. "Lha kata Mayang kalian sepupuan." Mayang hanya nyengir. Raka melirik Mayang dengan kesal. "Iya, sepupu ketemu gede," sahut Raka dengan nyolot. "Tau ah! Nggak penting ngurusin status kalian. Yang penting Mayang masih jomblo kan?" "Masih, Mas Dika," sahut Mayang dengan cepat. "Good." Andika mengacungkan jempolnya. Walah ... Nggak bener si Andika. Si Mayang mau dia embat! "Aku ganti sama steak ayam ya, Yang. Mayang, Sayang." Andika mulai terlihat vulgar menunjukkan rasa sukanya. "Nggak usah, Dik! Mayang mau aku ajak makan di luar," sergah Raka dengan cepat. "Lho, Mas! Katanya makan di sini aja?" tanya Mayang keheranan. "Aku berubah pikiran. Ayo let's go! Kita cari makan di luar, May." Raka menarik tangan Mayang semena-mena. Mayang mengikuti langkah Raka dengan terburu-buru. Namun, sebelumnya dia sempatkan untuk menengok ke belakang, ke arah Andika yang menatap mereka pergi dengan rasa kesal yang teramat sangat. Mayang melambaikan tangannya pada Andika. Andika membalas lambaian Mayang dengan melempar senyum tidak suka. "Si Raka kayak keberatan aku deketin, Mayang. Pokoknya nggak boleh nyerah! Aku bakalan pepet terus itu si Mayang." Semangat Andika berkobar bak pejuang empat lima yang hendak memukul mundur para penjajah. Raka sudah menaiki motor gagahnya. Helm juga sudah bertengger aman di kepalanya, begitu juga dengan Mayang. Ini first time Mayang pakai helm. Wkwkwkwk ... Secara anak konglomerat ini enggak pernah naik kendaraan roda dua. "Mas kita mau kemana?" tanya Mayang sambil memasukkan kedua tangannya di saku jaket Raka. Dia meletakkan dagunya di pundak lelaki dewasa itu. Hingga orang yang melihat pasti akan mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Mayang berasa senang bisa berdekatan dengan lawan jenis seperti ini, setidaknya dia bisa ngerasain apa yang teman-temannya sering ceritakan. Meski Raka bukan pacarnya sich! "Udah ngikut aja, Sri!" jawab Raka sambil menengok sedikit ke arah Mayang. Raka mengajak Mayang di sebuah kedai pinggir jalan. Tapi meski begitu, tempat makan itu cukup bersih dan nyaman. Mayang menyisir tiap sudut tempat itu dengan pandangan matanya. Aku nemuin hal-hal baru sama Mas Raka. Aku nggak pernah makan di tempat beginian sebelumnya. "Kenapa? Aneh sama tempatnya? Ya beginilah adanya, May! Aku nggak bisa ngajak kamu makan di restoran mewah kayak daddy kamu." Raka merasa rendah diri. "Nggak kok, Mas. Aku suka tempatnya. Ayo, Mas! Aku lapar," sahut Mayang kemudian melingkarkan tangannya ke lengan Raka. Mayang agressif banget, dikit-dikit meluk. Hehehe... maklum nggak pernah nemplok sama cowok dia. Kecuali Jasson doang! Saat hendak masuk, tiba-tiba ada sebuah tangan menarik Mayang. "Nona!" Panggil lelaki itu. Mayang menengok. Mereka saling bertatap mata. "J-Jasson!" ucap Mayang dengan terbata-bata. Jasson memeluk Mayang tanpa permisi. Mayang hanya bisa bengong menerima pelukan lelaki itu. Siapa lelaki ini? tanya Raka dalam hati. "Nona, anda kemana saja? Saya mencari-cari anda. Saya takut anda kenapa-napa. Bagaimana kening anda, Nona? Lalu kaki anda? Apa masih sakit?" Jasson melepas pelukannya lalu berganti memeriksa tubuh Mayang yang luka satu per satu. "Aku baik-baik saja, Jass," jawab Mayang. "Kita masuk aja dulu, May!" ajak Raka. "Jass, ayo gabunglah bersama kami! Dia Mas Raka, dia orang baik yang menolong aku," kata Mayang. Sejenak mata Raka dan Jasson saling beradu pandang. Kebetulan siang ini bodyguard tampannya itu tidak mengenakan kacamata. "Ayo, Mas!" Mayang masuk duluan diikuti oleh Raka dan Jass yang mengekor di belakang. Mayang duduk di sebelah Raka dan Jass di depan Mayang. Inilah warung gado-gado yang Raka maksud. Setelah memesan makanan, Mayang dan Jass mulai berbincang. "Kamu khawatir aku kenapa-kenapa, Jass?" tanya Mayang dengan suara lirih. Arah mata Mayang tidak menyorot pada lawan bicaranya. "Iya, Nona! Bagaimana jika ada orang jahat yang menculik anda?" Terlihat jelas rasa takut Jass akan kondisi Mayang dari cara lelaki itu berperilaku dan juga dari sorot matanya. Mata Jass yang biasanya terlihat dingin dan tajam kini berganti dengan sendu. Mayang tahu, Jass adalah orang yang baik. Dia tidak hanya bodyguard tapi juga teman yang setia untuk Mayang. "Jass, aku justru merasa lebih aman bersama orang lain. Kau tahu kan rumah itu seperti neraka untuk aku," ujar Mayang dengan mata berkaca-kaca. "Masih ada saya, Nona! Saya akan menjaga anda!" "Huft! You also can't prevent mommy's cruelty, right? Let me free, Jasson!" ("Huft! Kamu juga tidak bisa mencegah kekejaman mommy kan? Biarkan aku bebas, Jasson!") "But, You must still go home!" ("Tapi, anda harus tetap pulang!") "Beri aku waktu, Jass! Aku sudah lelah! Ada atau tidaknya aku, itu bukan hal yang merugikan mommy kan?" Tanpa sadar air mata Mayang menetes satu per satu. "Tapi pikirkan Tuan Rey dan juga Tuan Ardi, Nona! Mereka mencintai anda." "Siapa pun yang mencintaiku nggak akan bisa melepaskan aku dari kekejaman mommy." Mayang! Dia mempunyai masalah yang sangat serius dan kompleks. Aku pikir hanya suaminya kelak yang bisa membebaskan dia dari kekejaman ibunya. Raka mengelus-elus punggung Mayang. "Tolong! Biarkan Mayang bersama aku beberapa hari! Aku akan mengantarnya pulang nanti! Aku janji akan menjaganya!" ujar Raka penuh ketulusan. Jass menatap Raka dengan tajam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN