Mayang mengamati Raka yang mulai memakai sarung bermotif kotak biru ungu di tubuh bagian bawahnya. Setelah sarung itu dirasa kencang dan dijamin tidak akan melorot, Raka memulai ibadahnya.
Aku salat tiga tahun sekali lho. Pas ada ujian praktek agama. Itu pun bacaannya nggak sempurna. Si Bambang sungguh mengagumkan. Laki-laki limited edition. Mayang tak bisa lepas menatap lelaki dewasa yang dengan khusyuk menemui sang penciptanya. Setiap gerakan Mayang perhatikan dengan sangat serius hingga ....
"Assalamualaikum wa rahmatullah hi wabarakatu.." Raka menengok ke kanan, "Assalamualaikum wa rahmatullah hi wabarakatu.." Raka menengok ke kiri. Lalu ia terlihat menengadahkan tangan dan memanjatkan doa. Entah apa yang dia minta, Raka hanya terlihat komat-kamit tidak jelas.
Kelak aku mau punya suami seperti dia. Harap Mayang.
Raka sudah mengakhiri ibadahnya. Dia duduk bersila kemudian mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Mas!" panggil Mayang.
"Iya, May," sahut Raka dengan halus.
"Apa aku boleh deketin kamu sekarang?" tanya Mayang.
"Nggak boleh!" jawab Raka dengan gaya khasnya yang suka galak-galak namun menggemaskan.
"Terserah dech. Aku tetap mau dekat Mas Raka," paksa Mayang.
Mayang benar-benar menyusul laki-laki itu dan duduk di sampingnya. Mayang ikut bersila.
"Mas, aku nggak pernah salat." Mayang memulai pembicaraan.
"Udah kelihatan kalau kamu nggak pernah salat," sahut Raka dengan nada meledek.
"Mommy nggak pernah nyuruh aku salat. Mommy sendiri juga nggak pernah salat, hanya Daddy yang tekun ibadahnya," cerita Mayang dengan lesu.
"Manusia itu sebisa mungkin harus ibadah, itu bentuk kewajiban kita, May. Aku pun juga bukan manusia yang baik, masih banyak yang harus dibenahi. Contohnya berduaan sama cewek kaya gini. Ini kan juga nggak boleh, dosa. Pacaran juga nggak boleh, ya meskipun aku juga nggak ngapa-ngapain juga sich pas pacaran."
"Mas Raka mau punya istri yang kaya apa memangnya?" tanya Mayang dengan serius sambil menatap wajah Raka dari samping.
Raka menoleh. "Nggak nuntut yang macam-macam, May. Yang penting dia setia, tulus kalau bisa ibadahnya juga yang baik, kalau ibadahnya belum baik ya dituntun biar jadi baik. Aku kan juga bukan orang sempurna, Nggak fair kalau nuntut yang berlebihan." Jawaban Raka sungguh sangat dewasa dan menyentuh hati Mayang.
"Mas, boleh aku jujur?" tanya lagi Mayang.
"Kenapa?" Raka balik bertanya.
"Mas, sepertinya aku tertarik sama Mas Raka. Mas Raka seperti Daddy yang selalu bisa bikin aku nyaman saat sama dia. Begitu pun saat sama Mas Raka, aku juga nyaman sama Mas. Aku emang nggak pernah ngerasain apa itu jatuh cinta, tapi mungkin ini pertama kalinya aku ngerasain itu," ujar Mayang. Dia mengungkapkan apa yang dia rasakan. Mayang menundukkan kepala karena merasa sungkan dan malu.
Raka menggenggam jemari tangan Mayang. "May, kamu itu masih kecil. Kalau aku udah dewasa, umur aku udah dua puluh tiga tahun, kamu juga anak orang kaya, aku nggak punya apa-apa. Jalan kamu masih panjang untuk menemukan orang baru, May." Raka mengakhiri kalimatnya dengan senyuman.
"Mas, apa nggak ada kesempatan buat aku? Aku bakal rajin salat dech." Mayang membujuk.
"Jangan kamu beribadah karena orang lain tapi karena Allah!" Raka membenarkan. "Lagian kita baru ketemu tadi malam, masih terlalu dini untuk menyimpulkan perasaan kita masing-masing."
Mayang kecewa. Dia mengibaskan tangan Raka dan berdiri tanpa berkata apapun lalu duduk kembali ke sofa.
Jarak ini harus dibuat sejak awal, May.
Raka melepaskan sarung yang dia pakai. Dia mendekati Mayang yang cemberut sambil memainkan jari-jari kukunya.
"Jangan ngambek, Sri! Kalau kita jodoh nggak akan ke mana kok. Santai aja napa?" Raka menegur Mayang.
"Santai ... Santai ... entar tau-tau diembat orang!" Mayang sewot. Dia menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Hahaha ... lu pikir gue makanan di atas meja apa diembat? Udah nggak usah mikirin cinta-cintaan! Kita makan yuk! Aku mau beli gado-gado mau ikut enggak?"
Mayang yang sudah sangat lapar langsung mengangguk meski wajahnya masih cemberut.
"Jangan cemberut ah!" pinta Raka.
"Nggak mau! Masih bete sama Mas Raka!" sahut Mayang kemudian memalingkan wajahnya.
"Kalau marah tambah jelek lho." Raka mengejek Mayang, "Aku nggak mau punya istri jelek," lanjut Raka membuat Mayang tersenyum.
"Jadi Mas mau ngasih aku kesempatan?" tanya Mayang dengan girang.
"Iyaiin aja dech," jawab Raka dengan pasrah dari pada Mayang terus cemberut seperti itu.
"Asyik!" Mayang bersorak. Dia berdiri dan melingkarkan tangannya di leher Raka. Dia melonjak-lonjak seperti anak kecil main lompat-lompatan.
Raka memegang pinggang Mayang berusaha menghentikan tingkah gadis itu yang kekanak-kanakan.
Masih abege juga sie jadi harap maklum.
"Berhenti, May! Entar jatuh lagi."
"Biarin yang penting jatuh berdua sama Mas Raka aku ikhlaaaas. Hahahaha ...." Mayang menghentikan aksinya.
Raka geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Dia lalu meminta Mayang untuk ikut dengannya.
Mas mulai detik ini aku mau berjuang biar bisa dapetin hati Mas Raka. Uwooo ... aku jatuh cintaaa ... Mayang bersorak dalam hati.
**
Raka sudah menunggangi motor besarnya. Dia mengenakan helm karena jarak warung gado-gado jauh dari cafenya.
"Ini kamu pakai juga, May!" perintah Raka.
Raka menyerahkan satu helm berwarna merah maroon untuk Mayang. Mayang meraih benda itu. Namun, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangan Mayang hingga helm itu lusut dan berputar-putar di atas aspal.
"Jangan dekat-dekat sama Raka lagi ya!" sentak seorang perempuan yang tidak lain adalah Fenna, mantan pacar Raka.
Raka menyetandarkan motornya kembali kemudian melepaskan dengan paksa tangan Mayang yang dicengkeram erat oleh Fenna.
"Apa-apaan kamu, Fen?" tanya Raka dengan penuh amarah.
"Aku nggak suka ya kamu dekat-dekat sama anak abege ingusan kayak dia!" jawab Fenna tidak kalah berkobar amarahnya dari Raka.
"Eh, mbaknya sembarangan! Biar aku abege gini tapi aku lebih sexy, lebih cantik, lebih aduhai dari mbaknya. Salah sendiri mbaknya selingkuh. Giliran Mas Raka dekat-dekat cewek lain merong-merong." Mayang berani melawan.
"Ee ... tutup mulutmu ya anak abege! Bisa-bisanya lu bandingin gue sama lu! Ya bagusan gue ke mana-mana lah!" Fenna balik menyerang Mayang.
Mayang tersenyum kecut. "Mau bukti? Mumpung di sini ramai banyak cowok-cowok, kita buktikan siapa yang lebih menarik! Biar nggak pernah pacaran, tapi yang naksir aku antri kali!."
Mayang menggerai rambutnya yang tadi terikat, dia kibaskan mahkotanya itu seperti iklan-iklan sampo di televisi. Dia mendekati segerombolan mahasiswa yang memang terbiasa kongkow di gazebo yang ada di depan cafe Raka. Tempat itu memang menyenangkan sebagai tempat untuk bersosialisasi anak muda.
"Ehem ... Mas, bisa mengganggu waktunya sebentar?" tanya Mayang dengan genit.
Ealah, pe'ak bener itu Si Sri! Cewek kayak Fenna ngapain juga diladeni? Nggak usah kecentilan juga kali!! Masya Allah, Mayang! Ck! Raka menepuk jidatnya.
"Gimana dek cantik?"
"Ealah bening bener ya?"
"Kaya kaca di etalase toko, transparan!"
Cowok-cowok itu bersahut-sahutan mengomentari Mayang.
"Mas, Abang, menurut kamu siapa yang lebih cantik dan seksi? Aku atau dia?" Mayang menunjuk Fenna dengan ujung matanya.
Sialan ini bocah! Fenna mengumpat dalam hati karena merasa sudah dipermalukan. Namun, dia hanya bisa diam mematung sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Ya jauhlah, Neng. Kamu masih muda, cantik, bule lagi. Ya nggak?" sahut seorang pria disambut dengan sahutan dari teman-temann yang lainya.
"Kalau disuruh milih, mau punya pacar kayak aku? .... " Mayang mengibaskan rambutnya lagi.
Busyet ini bocah! Katanya masih polos? Tapi gila juga! Raka mengomentari Mayang dalam batin.
".... atau kayak dia?" lanjut Mayang kemudian menunjuk Fenna dengan ekor matanya.
Pingin gue gampar ini abege! Pekik Fenna.
"Ya kayak adek lah. Masih muda, bening, kinyis-kinyis kalau kata orang jawa ngomong," jawab seorang pemuda yang paling tampan di antara yang lainnya.
"Oke, terima kasih, Ya. Mas-Mas semuanya juga cakep-cakep dan ganteng-ganteng kok," ujar Mayang sambil tersenyum genit.
"Dek, minta nomor handphone boleh?" tanya lagi seorang cowok manis dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya.
"Adek kagak punya nomor handphone, Bang. Punyanya nomor rekening mau? Hehe ... " jawab Mayang kemudian nyengir.
"Kenalan aja dech, Dek," sahut lagi yang lain sambil mengulurkan tangannya ke arah Mayang.
Nggak sia-sia juga ya aku suka merhatiin tingkah Winda pas lagi kegenitan sama Jasson. Hahahaha .... Batin Mayang.
Keterlaluan ini Mayang! Pikir Raka yang merasa tidak suka melihat Mayang bertingkah centil seperti itu.
Dia menghampiri Mayang. Tangan Mayang sudah terulur hendak membalas tangan pemuda yang dikenal Raka bernama Doni tersebut. Dengan sigap Raka menarik tangan Mayang dan membawa Mayang menjauh dari gerombolan mahasiswa tersebut.
"Udah cukup ya, May!" sentak Raka.
Kenapa aku jadi nggak suka lihat cowok-cowok lain ngelihatin Mayang penuh kagum kayak gitu.
"Kenapa sich, Mas? Aku mau nunjukin sama mantan pacar Mas ini biar dia nggak sok cantik jadi cewek." Mayang menajamkan penglihatannya pada Fenna.
"Fen, di antara kita udah selesai ya! Jangan nyari masalah lagi sama aku! Dan juga jangan salah-salahin Mayang! Dia nggak ada hubungannya tentang masalah kita!" Raka menegur Fenna.
"Tapi kamu keterlaluan, Raka! Aku yang udah pacaran setahun sama kamu aja peluk dikit nggak boleh, nah dia peluk-peluk kamu seenaknya! Memang kamu kenal berapa lama sama dia? Jangan-jangan kamu yang duluan selingkuh dari pada aku, Ya?" tuduh Fenna.
"Akhirnya ngaku kan kalau selingkuh? Aku baru kenal semalam sama dia terus kenapa? Ada masalah?" Raka membalik tuduhan Fenna.
"Baru semalam udah kayak gitu? Gimana kalau seminggu? Paling udah kamu ajak tidur!" Fenna bukannya mereda malah semakin menjadi-jadi dan berkata yang tidak-tidak.
"Apa kamu bisa diam? Untung kamu perempuan, kalau kamu laki udah aku habisin kamu!" murka Raka.
"Mas, udah kita pergi aja yuk! Aku lapar," ajak Mayang sambil menggandeng tangan Raka.
Fenna tidak terima Mayang menyentuh Raka. Dia menarik tangan Mayang dengan paksa agar terlepas dari tangan mantan kekasihnya tersebut.
"Kamu keterlaluan, Fen!" sentak Raka. Seumur-umur baru saat-saat ini dia kasar dengan wanita.
"Dia yang keterlaluan!" Fenna menyentak Mayang dengan keras hingga bahu Mayang melonjak karena kaget.
Semua pasang mata memperhatikan mereka dengan serius, ini lah jeleknya budaya orang jaman sekarang, bukannya melerai malah asyik dibuat tontonan.
Fenna yang merasa cemburu mengangkat tangannya dan hendak menampar Mayang. Seketika Mayang mengangkat kedua tangan untuk melindungi wajahnya, sesaat dia teringat Mommy yang kerap mengangkat tangannya juga seperti ini. Mata Mayang berkaca-kaca kemudian menangis sesenggukan. Dia sungguh trauma dengan sebuah tamparan yang kerap bertubi-tubi menghujani wajah cantiknya.
Raka menangkis tangan Fenna dengan cepat. Dia melindungi Mayang di balik badan kekarnya sama seperti saat dia melindungi gadis belia itu dari Ujang. Bahkan Fenna dirasa lebih berbahaya dari Ujang. Dia yakin Ujang malah tidak berani menyakiti Mayang seenaknya sendiri.
"Kalau kamu berani menyentuhnya seujung kuku pun, aku patah kan tanganmu!" ancam Raka dengan tegas. Rahangnya mengeras, wajah tampannya berubah menjadi gahar saat itu juga.
"Kamu sudah banyak berubah, Raka! Aku benci sama kamu!" teriak Fenna.
"Terserah!" sahut Raka tanpa peduli. Fenna pun pergi dengan tangis air mata yang pecah dan banjir membuat make up tebalnya menjadi luntur.
Kenapa aku seperti ini? Siapa Mayang? Dia gadis pelarian yang baru semalam aku kenal. Harusnya aku lebih memikirkan perasaan Fenna yang sudah bertahun-tahun bersamaku, menjadi teman sekampus dan menjadi pacarku setahun belakangan. Tapi, tidak! Aku justru lebih bersimpati pada Mayang, bahkan penghianatan Fenna seolah biasa aja buat aku. Raka berkata dalam hatinya.
"Hiks ... Hiks ... Hiks .... " Mayang semakin terisak membuat Raka berbalik badan dan melihat gadis itu menangis dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Raka memegang kedua pundak Mayang.
"Kamu takut?" tanya Raka.
Mayang mengalihkan tangannya dari depan wajahnya, dengan tersengal-sengal dia menjawab.
"Mo-Mommy ... Mommy .... " Lalu dia kembali diam dengan napas yang terasa sesak karena tangisnya.
Raka mengerti apa maksud perkataan Mayang.
Ya Allah, Apa segitu parahnya Mayang disiksa sama ibunya sendiri? Sampai dia jadi trauma kalau ada tangan yang melayang di depan wajahnya? Kasihan dia. Raka menjadi sangat iba.
Raka melepas helm yang sedari tadi masih terpasang di kepalanya. Dia letakkan benda itu asal-asalan. Lalu dia merengkuh tubuh Mayang ke dalam pelukannya membuat Mayang semakin hanyut akan linangan air mata.
"Jangan takut, Mayang! Aku yang akan nglindungi kamu," kata Raka sambil mengelus-elus rambut Mayang.
Ya Allah, ampuni aku yang kerap menyentuh gadis ini! Sungguh aku ngerasa iba sama dia.
Raka menuntun Mayang untuk kembali masuk ke dalam cafenya. Kontan saja ini menjadi tontonan banyak orang, tapi Raka tidak peduli.
"Mayang, kamu kenapa?" tanya Andika yang terlihat khawatir. Dia tidak tahu apa yang terjadi di depan karena sibuk dengan dapur.
"Dia nggak apa-apa. Lu lanjutin aja kerjaan lu ya, Dik! Biar aku yang urus Mayang," jawab Raka membuat Andika sedikit tidak suka karena Raka terlihat menguasai Mayang.
Sama sepupu, tapi posesif banget. Berasa nggak boleh dipegang siapa pun.
Raka membawa Mayang ke kamar yang tadi dia gunakan untuk salat. Dia mendudukkan Mayang yang masih terisak di atas sofa. Setelah itu dia mengambil air putih untuk Mayang.
"Minumlah dulu, May! Biar kamu tenang," kata Raka sambil menyodorkan gelas itu ke Mayang.
Mayang menerima dengan senang hati dan meneguknya.
"Terima kasih, Mas," kata Mayang.
Raka meletakkan gelas di atas meja. Dia duduk di depan Mayang, tepatnya bersila di atas lantai sehingga dia harus mendongakkan wajahnya agar bisa menatap wajah Mayang yang duduk jauh lebih tinggi darinya.
"Kamu bisa ceritain semuanya sama aku tentang hidupmu. Itu pun kalau kamu nggak keberatan berbagi laramu sama aku," ujar Raka, dia mencoba untuk menempatkan dirinya sebagai pendengar yang baik. Bahkan Winda yang sahabatnya sendiri pun tidak tahu kalau Mayang kerap disiksa ibunya, saat ada yang luka Mayang selalu berbohong untuk menutupi aib ibunya dari sahabatnya.
"Aku nggak tahu kenapa Mommy benci banget sama aku. Sejak kecil Mommy nggak pernah gendong aku, dia menyerahkan semua kebutuhanku sama babysitter, saat aku mulai akrab dan nyaman dengan pengasuhku, Mommy lalu menggantinya dengan nanny yang baru lagi jadi aku harus mulai adaptasi kembali, begitu seterusnya." Mayang mulai bercerita.
Mayang berpindah duduk di lantai seperti yang Raka lakukan. Menurutnya tidak sopan duduk di atas orang yang lebih tua, begitu kata daddy. Beliau yang selalu mengajarkan kebaikan serta tata krama pada Mayang.
Kini Mayang dan Raka duduk bersila dengan posisi berhadap-hadapan.