Raka menghampiri Mayang, "Mayang, ayo masuk!" perintahnya dengan galak.
Eh, si Bambang kenapa ya? Gangguin orang ngobrol aja!
"Lagi asyik ngobrol disuruh masuk sich, Mas!" omel Mayang.
"Iya lagi pedekate juga!" sahut Dika.
"Nggak ada pedekate-pedekatean ya!" sentak Raka yang kemudian menarik tangan Mayang agar ikut dengannya.
Mas Raka ini kenapa sich? Mayang tidak paham dengan tingkah Raka.
Sama sepupu doang posesif bener! Andika ngedumel dalam batin.
Raka membawa Mayang masuk ke sebuah ruangan yang di dalamnya ada sebuah tempat tidur kecil, selembar sajadah yang terhampar, televisi juga sofa mini. Raka menutup pintu kamar itu.
"Mas, ngapain bawa aku ke sini?" tanya Mayang seraya menyapukan pandangannya ke setiap sudut kamar ini.
"Duduklah, May!" pinta Raka yang tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Mayang.
"Aku mau ngobrol di depan sama Mas Andika, Mas," ucap Mayang lalu meraih handle pintu yang langsung dicegah oleh Raka.
Mayang menengok ke arah Raka mereka bertatapan dengan posisi tangan mereka yang bertumpukkan di atas gagang pintu.
Jangan, Raka! Lu nggak boleh jatuh cinta sama anak kecil ini! Apalagi dia anak orang kaya. Lu sama dia itu bagaikan langit dan bumi. Kata hati Raka berkata demikian.
Mayang PoV*
Apa ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Bukan! Aku terpikat bukan karena pandangan mataku, tapi karena attitudenya yang menyentuh hatiku.
Sebagai gadis belia, aku belum pernah mengenal cinta. Apa itu cinta? Bagaimana rasanya jatuh cinta? Aku hanya bisa mendengar dari cerita kawan-kawan sekolahku.
"Jatuh cinta itu bikin jantung kita berdegup kencang banget, Yang," kata Winda yang pernah sekali pacaran meski hanya sebulan saja.
"Kalau udah ketemu rasanya nggak mau pisah," sambung lagi Nadila.
"Tiap dipegang tangannya berasa mau pingsan," sahut Ester menimpali.
"Kalau mata kita bertemu rasanya pingin nyium. Hahahaha ... " seru Anne yang memang terkenal playgirls dan paling punya banyak mantan pacar di antara yang lainnya.
Dan aku? Aku hanya menjadi pendengar yang baik saat semua teman bersahut-sahutan menceritakan pengalaman mereka masing-masing. Di saat aku berada di kamar, aku mengingat-ingat kembali apa yang mereka ceritakan, membayangkan dengan imajinasiku sendiri bagaimana kalau suatu saat nanti aku bertemu seseorang dan jatuh cinta dengannya.
Tapi bagaimana mungkin aku jatuh cinta? Kalau hidupku hanya berkutat dengan buku pelajaran, buku pelajaran dan buku pelajaran. Hanya Jasson yang tiap hari aku lihat, hingga aku merasa bosan harus terus-terusan menatap wajahnya yang selalu tanpa ekspresi.
Mayang PoV Off*
Raka menjauhkan tangannya dan mengalihkan pandangan dari mata cokelat Mayang.
"Selama aku kerja, kamu tunggu di sini! Jangan keluar-keluar! Jangan temui Dika terlalu sering!" Raka memberi aturan pada Mayang.
"Kenapa, Mas?"
"Banyak protes banget ini bocah. Astagfirullah!" Raka menepuk jidatnya.
"Mas, aku udah terlalu banyak dikekang sama Mommy, aku melarikan diri karena aku mau bebas. Tapi Mas Raka mengurungku juga. Hikss ... Hiks ... Hiks ... " Mayang menangis sesenggukan.
"Eh, kok malah nangis sich, Sri? Diem! Entar dikiranya gue ngapa-ngapain anak orang lagi." Raka panik melihat tangisan Mayang yang menganak sungai.
"Habisnya Mas Raka jahat! Aku mau ngobrol, mau berteman sama banyak orang, Mas. Hiks ... Hiks ... Hiks ... "
Raka mendudukkan Mayang di sofa. Dia memegang kedua pundak Mayang hingga posisinya otomatis membungkuk dengan sendirinya.
Mayang berkali-kali mengusap air matanya.
"Sri, anak kecilku yang unyu-unyu dan menggemaskan," kata Raka yang membuat Mayang malah menjadi geli.
"Mas iih ... " Mayang mencubit perut Raka dengan cubitan kecil, tapi terasa menyakitkan.
"Aoooow!" Raka menjerit saat Mayang tak juga melepas cubitannya, "Sri! Lepas nggak!" sentak Raka.
"Panggil yang bener, Bambang!" Mayang tak juga mau melepaskan cubitannya, dia hanya memindah jarinya dan bergantian mencubit lengan Raka.
Cubitan Mayang memang sakit, Winda yang sering jadi korban jari usilnya.
"Sri! Lepas enggak!" sentak Raka lagi dengan suara yang lebih keras.
"Enggak mau. Panggil dulu yang bener!" debat Mayang dengan santainya dan tidak menghiraukan kesakitan Raka.
"Iya, Maayaaangg!" Raka memperjelas menyebut nama Mayang.
"Masih kurang! Yang komplit lagi!" perintah Mayang yang tak gentar melepas cubitannya meski kulit Raka sudah memerah dan membekas kukunya.
"Ealah ini bocah!" Raka merasa frustasi karena ini beneran sakit banget.
"Mayang Arneshia ... Eh siapa belakangnya? Gue lupa .... " Raka mengingat-ngingat nama marga Mayang.
"Soe ... ah gak tau Soe apaan gue lupa, Sri. Ini beneran sakit ... lepas enggak! Gue cium lu entar!" Raka mengeluarkan ancamannya hingga Mayang harus menyerah saat Raka memajukan wajahnya.
Raka menegakkan badannya, dia melihat bekas cubitan Mayang yang meninggalkan warna merah dan goresan.
"Ya Allah, ini anak orang apa anak macan?" Raka mengelus-elus lukanya.
"Anak orang woey, hahahahahaha .... " Mayang tertawa terpingkal-pingkal.
"Sakit banget ini, May!"
"Itu cubitan sayang, Mas. Hehe .... "
"Mana ada orang sayang nyubit? Aneh!"
"Mas, katanya nggak mau contact fisik sama cewek kenapa tadi mau nyium aku?? Eyaa ... mulai Jatuh cinta ama gue kan lu, Bambang? Uluh ... uluh ... emeesh!" Mayang menguyel-uyel pipi Raka seperti memainkan pipi anak bayi.
Raka menepis tangan Mayang yang berkeliaran di wajahnya.
"Nggak usah kegeeran anak kecil! Aku tadi cuma mau nakutin kamu doang biar mau nglepasin cubitan kamu yang sakit banget ampe merah kaya begini. Ealaah ... seumur hidup sama elu bisa babak belur gue, Yang!" omel Raka.
"Yang ... Yang ... Yang ... Sayang ... adek juga sayang kamu, Abang Raka. Oh my Bambang ... Sri mencintaimu ... Hahahahahaha ... " goda Mayang lalu terpingkal-pingkal.
Raka pingin ikut ketawa tapi dia tahan hingga pipinya terlihat kembang kempis.
"Nggak usah ditahan! Entar keluar lewat belakang," ledek Mayang, lagi-lagi gadis itu tertawa terpingkal-pingkal.
"Siapa yang nahan?" kilah Raka dengan sedikit senyuman terkembang dari sudut bibirnya.
"Mas Raka kenapa aku nggak boleh keluar?" Mayang mulai bertanya serius.
"Kamu tahu status kamu apa di sini?" Raka balik bertanya.
"Eh, Nanyain status orang lagi. Aku Mayang, statusnya pe-la-jar," jawab Mayang.
"Bukan itu!" Raka meralat.
"Lhah apaan, Mas? Statusku ya pelajar. Mau ganti status jadi istri orang, tapi orang yang ditaksir udah tua. Berasa nikah sama om-om entar." Mayang melirik Raka saat mengucap kata tua.
"Eh ... Aku sumpahi besok kamu beneran nikah sama om-om." Raka mulai sewot.
"Hahahaha ... bales dendam dia. Mana aku lihat? Nggak ada suara petir tuch. Customer yang terhormat Pengajuan kredit motor anda ditolak! Nggak di-acc ... Nggak di-acc ... Hahaha ...."
Anak ini ya! Haduuh ... lucunya nggak ketulungan. Raka diam-diam merasa terhibur dengan candaan Mayang.
"Anak orang kaya tau caranya kredit motor juga, Ya?" cela Raka sambil manggut-manggut.
"Taulah! Kan suka dikasih tahu teman-teman. Hahaha .... "
"Ketawa mulu! Berasa nonton Srimulat apa?"
"Srimulat apaan lagi, Mas?" Saat berbicara dengan Raka dia selalu menemukan nama-nama baru, mulai dari petai, jengkol dan sekarang Srimulat.
"Itu acara lawak di tivi, May."
"Ow... aku nggak pernah lihat tivi, Mas."
"Yang kamu lihat apaan?"
"Radio, Mas. Radio mati gue plotottin. Hahahaha .... "
Yaelah ... Ketawa lagi ... Emesh ....
"Sekarang kita serius, May. Jangan ketawa mulu!" tegur Raka.
"Hmm ... iya! Memang statusku apa, Mas?"
Mereka balik ke pokok permasalahan.
"Statusmu itu BU-RO-NAN!"
"Aje gile! Mas pikir aku kurir narkoba apa? Sembarangan!" Mayang tidak terima dan mengomeli Raka.
"Orang yang kabur dari rumah dan bersembunyi dari kejaran bodyguard itu apa namanya kalau nggak buronan?"
"Iya tapi jangan terus ngatain aku buronan, Mas! Itu cenderung ke krimininal. Aku bukan pencuri, Mas! Ya ... Paling hati Mas Bambang aja yang aku curi. Hehe ... " Mayang sedikit pintar bergombal karena ajaran dari Winda yang suka menggoda Jasson.
"Uye ... Sri! Hati Mas Bambang buat kamu seorang ... Hahaha ... " Raka membalas gombalan Mayang dan mereka tertawa bersama.
Heran! Apa aja yang anak ini omongin bisa bikin hati aku seneng lho. Padahal omongannya lebih sering nggak ada mutunya. Ck! Di mana sich rasa patah hati aku yang baru semalam putus? Semuanya hilang lenyap berkat dia! Tapi aku kasihan sama Mayang! Ibunya terlalu kejam untuk anak semanis Mayang.
Raka duduk di samping Mayang, di atas sofa yang sama.
"Sekarang kita ngomong serius ya, May," ajak Raka. Ekspresi wajahnya seserius dengan kata-katanya.
"Kenapa, Mas?" tanya Mayang yang berusaha bersikap sesuai yang Raka minta.
"Kamu kan lagi dicari-cari orang suruhan Mommy-mu, jadi jangan terlalu sering ada di luar! Nanti kalau orang yang di pasar lihat kamu, kamu bisa dipaksa mereka pulang. Aku kan udah janji, aku bakal anterin kamu pulang dan ngomong langsung sama Mommy kamu," jawab Raka. Dia menjelaskan sedetail mungkin agar Mayang tidak salah paham.
Yach ... aku pikir karena Mas Raka cemburu aku dekat-dekat Mas Dika. Mayang bergumam dalam hati tidak berani menyuarakan kekecewaannya.
"Iya, aku ngerti. Maafin aku, Mas! Aku bakalan anteng di sini dech nungguin Mas Raka," sahut Mayang kemudian menyunggingkan senyumnya yang begitu cantik dan membuat Raka terpana.
Jaga hatimu, Raka! Ingat lu cuma remahan peyek kacang sekilo lima ribu! Nggak pantas bersanding sama Tuan Puteri seperti Mayang. Raka mewanti-wanti dirinya sendiri.
Mayang menuruti keinginan Raka untuk tetap di dalam kamar itu. Dia bosan juga hanya duduk-duduk tanpa melakukan apapun.
Raka membuka pintu. Dan melihat Mayang hanya diam sambil menopang dagu.
"May, ngapain lu?" tanya Raka. Dia terlihat dengan wajah yang basah seperti habis cuci muka. Tangan dan kakinya juga ikutan basah.
Mayang berdiri dan mendekati Raka.
"Eits ... jangan dekat-dekat ya!" larang Raka. Dia mengambil langkah mundur karena Mayang berjalan mendekatinya.
"Memangnya kenapa, Mas? Jijik banget kayaknya? Tadi pegang-pegang juga biasa-biasa aja. Mas Raka sengklek ya?" Mayang tidak menghiraukan larangan Raka dia terus berjalan maju dengan perlahan seperti hendak menggoda laki-laki dewasa itu.
"Yang ... Eh, Salah!" Raka menutup mulutnya sendiri. "May maksudnya."
"Yang juga boleh kok, Mas. Nggak usah malu-malu gitu. Hahahahaha ...."
"Ngarep lu!"
Mayang masih mencoba mendekati Raka yang terus menghindarinya. Mereka malah seperti anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran bak kucing dan tikus.
Sampai akhirnya kaki Raka yang basah meninggalkan jejak air di mana-mana dan membuat Mayang yang terus mengincar Raka menjadi terpeleset.
Melihat Mayang hampir geledak ke belakang, Raka spontan menarik tangan Mayang hingga mereka malah jatuh bersamaan.
Mata Mayang dan Raka bertemu.
Cantik. Pikir Raka.
Jantungku! Pekik Mayang dalam hati.
Raka berada di atas Mayang. Mereka bertatapan cukup lama.
"Astagfirullah!" seru Raka saat dia sadar sudah terlalu lama menindih Mayang.
"Mas Raka berat. Kebanyakan makan sich." Mayang meledek Raka sambil berusaha bangun dari tidurnya. Dia duduk di atas lantai sekarang.
"Ah ... lu bikin gue batal kan!" Raka marah-marah.
"B-Batal? Emang Mas Raka mau ngapain?" tanya Mayang dengan polosnya.
"Mau salat, May," jawab Raka.
"Salat? Mas Raka salat?" Mayang seolah meragukan keimanan Raka.
"Ya iyalah! Apa agamamu?" Raka balik bertanya.
"Islam, Mas," jawab Mayang singkat.
"Salat enggak?"
Mayang menggelengkan kepalanya.
"Islam KTP itu namanya! Astagfirullah! Sri ... Sri ... udah pernah datang bulan belum?"
Eh kenapa tanyanya begitu?
"Ya udahlah, Mas. Mas pikir aku anak TK." Mayang nyolot. "Hal yang begituan ditanyain."
"Kalau udah dapet harusnya kamu rajin salat, May. Karena dosa kamu bukan kedua orang tua kamu lagi yang nanggung tapi kamu sendiri, entar kalau kamu dah married gantian suami kamu yang nanggung dosamu." Raka menjelaskan layaknya guru agama.
"Ya itu kan derita lu, Bambang!" sahut Mayang dengan nada tinggi.
"Kenapa jadi gue?" Raka ikut menaikkan nada bicaranya.
"Kan Mas Raka entar yang jadi suami aku. Eya .... " Mayang menyenggol lengan Raka yang duduk di sebelahnya. Dia senyum-senyum menggoda Raka sembari menaik-naikkan alisnya dengan genit.
Raka tersenyum malu, Sial mana bisa aku tahan kalau begini terus? Senyumnya duileh ... manis banget kaya permen lolipop. Istighfar, Raka! Istighfar! Ini ujian! Raka berkata dalam hati.
"Diih ... digombali anak kecil aja senyum-senyum." Mayang masih menggoda.
"Siapa yang senyum-senyum?" Raka mulai ngegas karena tengsin ketahuan senang karena digombali anak kecil seperti Mayang. Meski bibirnya masih refleks melebar ke kanan dan ke kiri, tapi dia menahan senyumnya agar tidak terkembang dengan sempurna.
Mayang menunjuk bibir Raka. "Nah itu apaan kalau nggak senyum?"
"Ini bibir gue keram. Udah ah aku mau wudlu lagi. Kamu jangan pegang-pegang! Awas lu!" ancam Raka dengan garang.
"Makanya halallin adek dong, Bang Raka! hehehe .... " Mayang masih bisa cengengesan meski Raka sudah marah.
Busyet dah ... ada aje yang diomongin.
"Entar sepuluh tahun lagi," sahut Raka asal-asalan kemudian melenggang pergi untuk mensucikan diri.
"Kalau sepuluh tahun lagi umur aku dua puluh enam tahun dan dia tiga puluh tiga tahun. Tua amat ya gue nikahnya? Dia malah lebih tua. Hahaha .... " Mayang menghitung usianya seolah Raka akan benar-benar menikahinya sepuluh tahun ke depan.
Raka sudah kembali dengan rambut, tangan dan kaki yang basah.
Dia cakep banget lho kalau kena air wudlu kaya gitu. Batin Mayang sambil memperhatikan wajah tampan Raka.
"Kenapa masih di sini? Ayo minggir!" Raka mengusir Mayang yang masih anteng duduk di lantai tanpa bergeser sedikit pun.
"Iya dech, Mas."
Mayang beranjak dan kembali duduk di sofa.