8. Sumpah Serapah Mayang

1768 Kata
Raka asyik berbelanja sedang Mayang sibuk mengolak-alik buah yang berwarna coklat bulat yang terpampang di atas ember begitu banyak. Ini apaan sich? Kok baunya begini? Mayang berpikir sambil terus memperhatikan buah-buah tersebut. Mayang mendenguskan hidungnya. "Kamu mau itu, Sri?" tanya Raka. "Emang ini apaan sich, Mas?" Mayang bertanya balik. "J." Raka menyebutkan huruf depannya. "J? Terus?" tanya Mayang lagi. "E." Raka. "E." Mayang. "N." Raka. "N." Mayang menirukan setiap huruf yang disebut Raka. "G." Raka. "G." Mayang. "K." Raka. "K." Mayang. "O." Raka. "O." Mayang. "L." Raka. "L." Mayang. "Jadinya?" tanya Raka layaknya seorang guru yang bertanya pada muridnya yang baru belajar membaca. "Apaan tadi, ya? J, e, n, o terus.. Ow.. jenol iya, iya! Jenol kan Mas??" jawab Mayang dengan mantabnya seraya tertawa kecil. "Kok jadi jenol sich? Kenapa nggak jebol aja sekalian?" Raka ngomel-ngomel saat tahu Mayang tidak menyimak dengan baik. "Salah ya? Lha habis pakai didikte kaya begitu sich." "Beneran nggak tahu kamu?" tanya Raka memastikan. Mayang menggeleng. "Ini apa namanya?" Raka menunjuk wortel. "Wortel," jawab Mayang. "Kalau ini?" Raka mengangkat kol. "Cabbage," jawab Mayang. "Nggak usah pakai bahasa Inggris, Sri! Gue tahu lu keturunan bule!" umpat Raka dengan kesal. "Hehehe .... " Mayang tertawa. "Kalau ini?" Raka menunjuk bawang merah. "Bombay." Jawaban Mayang salah. Pedagang yang memiliki kios sayuran itu pun jadi ikut geli melihat kepolosan Mayang. "Ini bawang merah, Sri." Raka membenarkan. "Mana gue tahu, Bambang." sahut Mayang sewot. "Kamu tahunya apaan sich, Yang?" Raka buru-buru memegang bibirnya, merasa salah memanggil, "Eh, May." Dia membenarkan panggilannya. "Yang juga nggak nape-nape, Bang." "Ngarep aje lu anak kecil." "Jangan panggil aku anak kecil, Paman!" "Yachh ... Siva." "Hehe ... Ayo seriusan ini namanya apa, Mas? Kenapa bau-bau begitu macam petai atau apa semalam yang Mas bilang?" "Ini namanya jeng-kol, Mayang. Bukan je-nol." "Jengkol? Perasaan tadi nggak ada huruf G sama K-nya dech!" "Ada, Mayang. Astagfirullah." "Tapi kayaknya aku pernah denger sich, Mas. Mas doyan juga?" "Kalau jengkol aku nggak doyan." "Ow... kirain doyan juga yang bau-bau begini," ledek Mayang. "Aku selesaiin belanjaan aku dulu, Ya." Mayang mengangguk. Gadis itu diam sambil mengedarkan pandanganya ke semua penjuru. Ini pertama kali juga untuknya bisa masuk ke pasar tradisional semacam ini. Sungguh Raka memberinya banyak pengalaman baru meski baru semalam dia mengenal laki-laki itu. Raka sudah berbelanja sayuran begitu banyak dan juga buah-buahan. Tentengan kresek berwarna hitam putih bergelantungan di tangan kanan dan kirinya. "Mas, segitu banyak belanjaan gimana cara bawanya? Motornya nggak muatlah. Entar aku duduk di mana?" tanya Mayang yang tidak berhenti melingkarkan tangannya di lengan Raka sepanjang perjalanan. "Entar kamu duduk di depan, di atas tanki motor aku, tapi ngadep ke belakang jangan ngadep depan," jawab Raka yang kemudian meletakkan barang bawaannya di sebuah meja kecil yang tersedia di dekat parkiran kendaraan. "Ealah ... memangnya bisa, Mas?" tanya Mayang lagi. Dia memandangi motor besar Raka yang terparkir tidak jauh dari mereka berdiri. Bonceng depan hadap belakang? Iih ... keenakan Mas Raka dong kalau posisinya begitu. Gumam Mayang dalam hati. "Mas, seriusan ini." Mayang merengek, merasa takut tidak kebagian tempat untuk membonceng. Takut kesaing sama wortel, buncis, kentang dan kawan-kawannya. Raka tidak menghiraukan Mayang, dia justru sibuk mengotak-atik ponselnya. "Sial! Aku dikacangin!" gurutu Mayang sambil menghentak-hentakkan kakinya. Lima menit kemudian datang seseorang menaiki kendaraan roda dua, diboncengannya terdapat sebuah keranjang besar di kanan dan kirinya, laki-laki itu menyapa Raka dan mendekat. "Bawain ke cafe ya, Dik! Aku lagi nggak bisa bawa sendiri," kata Raka yang kemudian memasukkan belanjaanya ke dalam keranjang dibantu oleh kawannya tersebut. Setelah semua belanjaan masuk, Andika menoleh pada Mayang. "Ka, dia siapa? Cewek baru lu? Fenna lu kemanain?" tanya Andika. "Hei, Cantik. Siapa nama kamu?" Andika mengulurkan tangannya pada Mayang. Dasar mata keranjang! Nggak bisa dia lihat barang bening. Umpat Raka. Mayang membalas uluran tangan Dika. "Namaku-" "Sri. Namanya Sri, Dik," sahut Raka sebelum Mayang menyebut namanya. "Seriusan nama kamu Sri?" tanya Dika yang merasa heran ada cewek jaman sekarang yang masih diberi nama Sri oleh kedua orang tuanya. Cantik begini namanya masih kuno, Ya? Mayang menatap Raka dengan kesal. "Kenapa?" Raka mengerti kalau Mayang mau protes. "Udahan kenapa itu tangan?" Raka melepaskan tangan Mayang dan Andika yang masih bertautan dengan paksa. "Aku Andika. Panggil aja aku Dika!" Lelaki itu menyebut namanya. "Nggak ada yang nanya!" seru Raka lalu menggandeng Mayang berjalan mendekat ke motornya. "Raka ... Raka... Kalau dapat cewek bisa bening-bening gitu ya," celoteh Andika yang mematung melihat sahabatnya dan 'Sri' melenggang pergi menjauhinya. "Raka, jangan gandeng-gandeng! Gua kasih tahu Bunda lu baru tahu rasa lu!" teriak Andika. Segera Raka melepaskan tangan Mayang. "Mas, teman Mas Raka ganteng." Mayang memuji Andika. "Kenapa? Kamu suka?" tanya Raka dengan nada tinggi sambil melangkah menaiki motor dan menyalakan mesin kendaraannya. "Kalau aku suka sama dia, entar Mas Raka sama siapa? Hahahaha .... " Mayang tertawa. "Cuma cari cewek doang mah kecil, May. Nggak lihat lu gue ganteng maksimal kaya gini?" Raka menonjolkan paras tampannya dengan sombong. "Ck! Narsisme yang haqiqi!" Mayang berdecak. "Apalagi cuma bikin lu jatuh cinta sama gue. Itu kecil banget, Sri," lanjut Raka lagi seraya menjetikkan jarinya. Mayang malah bengong menatap Raka. Sepertinya udah, Mas. Pikir Mayang. "Woey! Kamu kenapa? Ngelamun! Bengong! Kaya sapi ompong!" Raka menegur Mayang sambil melambaikan tangannya ke kanan dan kiri tepat di wajah gadis itu. Mayang menyudahi lamunannya dan kembali pada dunia nyata. "Mas nggak usah repot-repot bikin aku jatuh cinta. Aku tahu, aku bukan selera Mas Raka," kata Mayang yang mendadak baper. "Eh, belum-belum kok udah nyerah sich, Sri?" Raka protes. "Memang Mas Raka mau sama aku?" tanya Mayang dengan mata berbinar. Raka menggeleng, "Nggak juga sich. Haha hahaha ... " Dia terkekeh geli. Mayang mendekatkan wajahnya pada wajah Raka, dia menyipitkan matanya yang berlensa coklat hingga tatapannya begitu sendu, tidak hanya itu, Mayang juga menempelkan jari telunjuknya pada hidung mancung Raka, "Awas! Aku bakal bikin Mas Raka jatuh cinta sama aku. Ingat! You will fall in love with me and will never get married until old if not married to me!" Mayang mengucapkan sumpah serapahnya dengan lirih dan menggunakan Bahasa Inggris. Noted : Kamu akan jatuh cinta denganku dan tidak akan pernah menikah hingga tua jika tidak menikah denganku! Dan, "Deer!" Suara petir tiba-tiba menyambar, langit berubah menjadi gelap. Saking kagetnya bahu Mayang dan Raka sampai melonjak bersamaan. "Eh, busyet daah. Udah kaya film Malin Kundang begini sich pakai ada kilat segala." Raka melihat ke atas langit yang mendung menggantung. "Itu artinya Tuhan meng-acc sumpah serapahku buat Mas Raka. Hahahaha .... " Mayang tertawa terbahak-bahak. "Meng-acc. Lu pikir ngajuin kredit motor? Ayo cepetan naik! Keburu hujan ini," seru Raka dan Mayang langsung nemplok di belakang Raka dan memeluk lelaki dewasa itu dengan sangat erat. "Ingat ya, Mas! Mas Raka udah terikat sama aku sekarang," bisik Mayang di telinga Raka. "Memangnya aku sapi pakai kamu ikat segala?" omel Raka. "Mas, entar petirnya nongol lagi lho." Mayang menegur. "Deeeerrr.!" petir benar-benar muncul dan kini dengan kilatan cahaya berwarna putih kekuningan. Sontak Mayang dan Raka melonjak kaget untuk ke dua kalinya. Kenapa bisa kebetulan begini sich? Mayang heran sendiri. "Yaelah, diem-diem lu dewi petir ya, Sri?" "Bukan. Aku dewi cinta, Mas." Gerimis sudah mulai rintik, Raka mempercepat laju motornya. "Pegangan yang kenceng, May!" perintah Raka. Untung jarak cafe Raka tidak terlalu jauh dari pasar. Hingga hujan turun saat mereka sudah sampai di dalam cafe. Cafe milik Raka berukuran sedang, dia merintis usaha ini dari nol hingga sekarang. Cafe ini cukup terkenal dan diminati anak muda, terlebih anak-anak abege yang kerap menggoda Raka. Mayang melihat jam yang melingkar di tangannya. "Cepat banget sudah jam sepuluh," kata Mayang. Mayang mengikuti Raka ke dapur. Di situ Andika sedang meracik secangkir kopi untuk pelanggan. "Hai, Mas Dika," sapa Mayang dengan ramah. Dika menengok, "Hai juga, Sri," sahut Dika. Syetdah ... dia percaya beneran lho kalau nama aku Sri. Gerutu Mayang dalam hati. Dia melirik Raka yang sedang sibuk membongkar ayam sambil menahan tawa karena Andika semudah itu percaya kalau nama Mayang adalah Sri. "Mas Bambang emang suka nyari gara-gara, Ya. Ingat! Mas jodoh aku. Seumur hidup bakalan lihat muka aku dan berantem sama aku. Ingat! Seumur hidup." Mayang berbisik di telinga Raka kemudian berlalu pergi meninggalkan Raka. Gue kan baru semalam putus, tapi kenapa rasanya seperti nggak terjadi apa-apa? Rasa sakit hati gue juga hilang, itu berkat dia. Anak kecil yang bikin gue ngerasa nyaman dan bahagia. Raka berpikir sambil menatap Mayang yang berjalan semakin jauh dan tidak bisa dia jangkau lagi dengan pandangan matanya. Mayang duduk di bawah pohon mangga yang ada di depan cafe, kebetulan hujan sudah reda, meski sedikit basah tapi dia nekad main duduk tanpa dibersihkan terlebih dulu. Mayang menyobek-nyobek sebuah daun kering seraya mengedarkan pandangannya. Dia juga melihat begitu banyak buah mangga bergelantungan di atasnya. "Kalau satu buah mangga jatuh kena kepala aku lumayan juga kali ya," gumam Mayang seraya mengelus-elus kepalanya. Andika datang menghampiri Mayang sambil membawa secangkir kopi, jam segini cafe belum terlalu ramai. Pengunjung akan membludag saat sore hari. "Sri, ini buat kamu," kata Dika dan menyerahkan minuman itu pada Mayang. "Makasih ya, Mas Dika. Tapi nama aku bukan Sri, Mas." Mayang mengambil cangkir itu dari tangan Dika kemudian meminumnya. "Terus nama kamu siapa?" tanya Dika ingin tahu. "Nama aku Mayang, Mas," jawab Mayang seraya meletakkan cangkir itu di sebelah ia duduk. "Mas Raka memang suka manggil aku Sri, maka dari itu dia juga aku panggil Bambang aja," cerita Mayang tanpa memandang Andika yang sibuk mengamati wajahnya dari arah samping. Ini mah cetakkan bule kayanya. Cantiknya duileh ... Pikir Andika. "Mas, ngapain bengong?" tanya Mayang yang tiba-tiba menoleh ke arah Dika dan mengagetkan laki-laki itu. "Eh, kagak, Yang. Ada lalat nemplok di pipi kamu tadi," jawab Dika seraya mengalihkan pandangannya dan menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. "Mana ada lalat? Ngarang aja Mas Dika ini." "Kamu siapanya Raka emang? Nggak mungkin juga ceweknya, Raka kan udah punya pacar." "Aku sepupunya Mas Raka, Mas." Mayang berbohong tentang statusnya agar tidak ada orang yang tahu tentang pelariannya selain Raka. "Syukur dech kalau sepupu. Hehe ...." Andika tertawa kecil. "Maksudnya syukur apaan ya, Mas?" "Ya syukur aja. Emang harus dikasih tahu alasannya gitu kalau orang bersyukur?" "Ya kagak juga sich, Mas. Hehehe ..." "Umur kamu berapa, Yang?" tanya Andika yang ternyata sudah tertarik dengan Mayang sejak pandangan pertama. "Aku masih enam belas tahun, Mas. Kalau Mas Dika? Udah tua ya mesti? Hahaha .... " Mayang meledek Dika. "Nggak tua, Yang. Tapi matang. Hehehe.. " Dika meralat ledekkan Mayang. "Memang berapa, Mas?" "Dua puluh tiga tahun!" "Yach ... beneran tua kaya Mas Raka. Hahahaha .... " Mayang tertawa terpingkal-pingkal. "Aku sama Raka kan teman satu kampus, Yang. Maklum kalau sama-sama tua." Raka ternyata diam-diam memperhatikan Mayang dari kejauhan. Dia merasa tidak suka Mayang begitu akrab dengan rekannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN