Andrean menatap benda bulat di hadapannya tanpa minat. Sesuatu tengah mengganggu pikirannya. "Sean kumohon sadarlah!" "Bertahanlah, kumohon. Seseorang sedang memanggil guru kemari." Mengingat bagaimana reaksi Rachel saat Sean terluka, membuatnya sadar. Gadis itu sudah melupakan dirinya. Andrean tersenyum kecut. Tangannya kemudian meraih benda yang ada dihadapannya, kemudian melemparnya asal. Lemparannya meleset, hingga benda itu kini hanya memantul tak menentu di atas permukaan lapangan. Seseorang menangkap benda itu sebelum benar-benar mengenai wajahnya. "Hei, kau baik-baik saja?" Andrean menoleh ke arah sumber suara. "Kenapa kau masih di sini?" Bukan itu jawabannya. Gema memberikan sekaleng minuman kepada Andrean yang langsung diterima baik oleh pria itu. Kemudian ia duduk

