"Sean!" Suara seseorang seperti menyadarkannya. "Sean kumohon sadarlah!" Kedua matanya perlahan terbuka. "Rachel?” tanyanya nyaris tak terdengar. Pupil kedua mata gadis itu membesar. "Bertahanlah, kumohon. Seseorang sedang memanggil guru kemari." Wajah Rachel terlihat memerah karena terlalu lama menangis. Gadis itu terlihat sangat panik. "Yakk.. kuharap kau tidak mati di sini,” ucap Elang. Mendengar itu, bibir pucat Sean membentuk sebuah lengkungan. Ia sedikit terkekeh, sesekali meringis begitu merasakan denyutan di kepalanya. Kemudian pandangan pria itu kembali teralih pada Rachel yang masih menangis sesegukan. "Kau tak apa?" Rachel menggigit bibirnya. Ia ingin sekali memukul kepala Sean jika saja ia tidak ingat kalau pria itu sedang terluka. "Bodoh! Kau berdarah!" amuk Rachel

