Rachel mengerang pelan. Sepanjang koridor ia terlihat memegang bahunya. Sepertinya kejadian kemarin cukup berdampak pada tubuhnya. "Sial!" Umpatnya. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Gadis itu sontak menoleh. Kedua matanya membulat. "Sedang apa kau di sini?!" Orang itu hanya menunjukkan cengiran khasnya. Ia mengangkat bahunya. "Menurutmu?" "Bodoh! Kau belum sembuh!" Semprotnya. Ia memukul lengan Sean hingga pria itu sedikit mengerang. "Aww--- yak! Hentikan!" Rachel mendengkus. "Kenapa kau masuk?" "Memangnya kenapa? Aku bosan berada di sana." "Baiklah, terserah kau saja." Rachel mempercepat langkahnya. Namun lengannya segera ditahan oleh pria itu. "Hei, kau marah?" "A-awh! T-tidak,” ucap Rachel sembari berusaha melepaskan tangan Sean. "Tanganmu benar-benar memar. Tidak apa

