Hujan turun sejak sore. Langit Jakarta terlihat lebih kelabu dari biasanya, seperti tahu bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja di sebuah rumah yang terlihat tenang dari luar. Amara berdiri di depan jendela kamar, memandangi tetesan air yang jatuh di kaca. Lampu kota terlihat buram, seperti perasaannya sendiri. Di belakangnya, Dion duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangan. Ia tidak benar-benar fokus pada layar. Pikirannya penuh, dan sebagian besar isinya adalah Amara. “Aku mau tanya sesuatu,” kata Dion akhirnya. Amara tidak menoleh. “Tanya aja.” “Sejak kapan kamu ngerasa gue berubah?” Amara terdiam beberapa detik. “Aku gak pernah mikir kamu berubah. Aku cuma ngerasa kita… gak lagi sama.” Dion menatap punggung istrinya. “Gak lagi sama gimana?” “Dulu, kamu selalu ce

