Bab 13

1054 Kata

Pagi di rumah mereka terasa asing. Amara berdiri di dapur, memandangi secangkir teh yang sejak tadi tak tersentuh. Rumah itu sama. Furnitur, warna dinding, bahkan aroma kopi yang Dion seduh setiap pagi masih sama. Tapi ada sesuatu yang berubah, sesuatu yang tak bisa ia sentuh, hanya bisa ia rasakan. Dion keluar dari kamar mandi sambil mengancingkan manset kemejanya. “Kamu gak istirahat lagi?” tanyanya. “Aku udah cukup tidur di rumah sakit,” jawab Amara. Dion mengangguk, lalu mendekat. Ia mengecup kening Amara singkat, kebiasaan yang dulu terasa hangat, kini terasa seperti rutinitas. “Aku pulang agak malam,” kata Dion. “Ada meeting sama dewan direksi.” Amara menatapnya. “Hari ini?” “Iya.” “Seharian?” Dion terdiam sejenak. “Kemungkinan.” Amara mengangguk. Tidak protes. Tidak berta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN