Bab 12 Jarak yang Tidak Pernah Disepakati Amara terbangun dengan kepala sedikit berat dan tenggorokan kering. Ruangan rawat inap terasa sunyi, hanya suara mesin monitor yang berdetak pelan. Cahaya pagi masuk dari sela tirai, jatuh tepat di lantai, membentuk garis tipis yang membuatnya sadar waktu sudah berganti hari. Ia menggerakkan kepala perlahan. Dion tertidur di kursi samping ranjang. Jasnya tergantung di sandaran, dasinya terlepas, kemeja putihnya kusut. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Amara melihat Dion dalam keadaan benar-benar lelah. Amara menatap wajah itu lama. Ada rasa hangat. Ada juga perasaan lain yang tidak bisa ia beri nama. Ia menggeser tangannya sedikit. Gerakan kecil itu membuat Dion terbangun. Matanya terbuka cepat, seolah refleks. “Mar?” Suaranya sera

