Amara terbangun dengan rasa perih yang menekan di perut bagian kanan bawah. Bukan nyeri tajam, tapi seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, membuat napasnya terasa pendek. Ia mengerang pelan, lalu menutup mata lagi. Jam di nakas menunjukkan pukul empat pagi. Lampu kamar masih mati. Dion belum pulang. Amara tidak terkejut. Setelah reuni semalam, Dion langsung berangkat ke kantor karena ada rapat pagi dengan klien luar negeri. Ia sempat mengecup kening Amara sebelum pergi, tapi pikirannya jelas tertinggal di tempat lain. Amara menggeser tubuh, mencoba posisi miring. Sakitnya bertambah. “Aduh…” Ia menarik napas panjang, lalu meraih ponsel. Jarinya bergetar saat membuka pesan terakhir dari Dion. Aku pulang agak pagi. Jangan tungguin. Istirahat ya. Amara mengetik balasan, lalu men

