Pagi itu rumah terasa terlalu sunyi.
Amara sudah bangun sejak subuh. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi Dion yang masih terlelap di sampingnya. Wajah pria itu terlihat lelah, garis di dahinya makin jelas. Ia ingin membangunkannya, tapi ragu.
Semalam Dion berjanji akan mengantarnya ke rumah sakit. Janji yang terdengar sederhana, tapi terasa besar bagi Amara.
Ia akhirnya berdiri pelan, berjalan ke kamar mandi, bersiap tanpa suara. Saat keluar, Dion sudah duduk di ranjang, mengusap wajahnya.
“Jam berapa sekarang?” tanya Dion.
“Setengah enam.”
Dion mengangguk. “Aku mandi dulu.”
Amara tersenyum kecil. Hatinya sedikit hangat. Setidaknya, pagi ini Dion menepati janjinya.
Namun ponsel Dion bergetar di atas meja. Sekali. Dua kali. Dion melirik layar, lalu menghela napas panjang.
“Mar.”
Amara menoleh. “Kenapa?”
“Meeting dadakan. Direksi minta aku datang pagi ini.”
Amara terdiam. Ia sudah menduga, tapi tetap saja rasanya menyesakkan.
“Jam berapa operasimu?” lanjut Dion.
“Jam sembilan.”
“Aku coba nyusul, ya. Aku anter kamu dulu ke rumah sakit.”
Amara menatapnya. Ia ingin percaya. Tapi pengalaman mengajarkannya untuk tidak terlalu berharap.
“Kalau memang tidak bisa, tidak apa-apa,” ucap Amara pelan.
Dion mendekat, menggenggam tangannya. “Aku bakal usahain.”
Amara mengangguk. “Aku siap-siap dulu.”
Mereka berangkat dengan mobil terpisah. Dion ke kantor, Amara ke rumah sakit dengan taksi. Sepanjang perjalanan, Amara menatap ponselnya. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan.
Di ruang tunggu, ia duduk sendiri. Tangannya dingin. Perawat memanggil namanya untuk persiapan administrasi.
“Ibu Amara Putri Lestari?”
“Iya.”
“Pendampingnya belum datang?”
Amara tersenyum tipis. “Sedang menyusul.”
Waktu berjalan lambat. Jarum jam terasa mengejek. Pukul delapan lewat lima belas, ponselnya bergetar.
Dion: Maaf, Mar. Meeting-nya belum bisa ditinggal. Aku titip kamu ke Revan, ya. Dia sudah di rumah sakit.
Amara membaca pesan itu lama. Dadanya terasa sesak, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Entah karena sudah terlalu sering kecewa, atau karena ia terlalu lelah untuk menangis.
Tak lama kemudian, seorang perawat mendekat. “Dokter Revan sudah siap. Ibu bisa ikut kami.”
Amara berdiri. Langkahnya terasa berat.
Di depan ruang praoperasi, Revan sudah menunggu. Ia mengenakan jas dokter, wajahnya tenang seperti biasa.
“Kamu siap?” tanya Revan.
Amara mengangguk. “Dion tidak bisa datang.”
Revan tidak terlihat terkejut. “Aku tahu.”
Nada suaranya tidak menyiratkan apa pun. Tidak ada simpati berlebihan, tidak ada komentar yang menyudutkan. Itu justru membuat Amara merasa lebih aman.
“Aku akan jelaskan prosedurnya,” lanjut Revan profesional. “Operasi ini tergolong ringan. Kamu akan dibius total. Setelah sadar, mungkin sedikit nyeri.”
“Berapa lama?”
“Satu sampai dua jam.”
Amara mengangguk. “Baik.”
Sebelum masuk ruang operasi, Amara berhenti sejenak. “Revan.”
“Iya?”
“Tolong kabari Dion kalau aku sudah selesai.”
Revan menatapnya beberapa detik. “Aku akan pastikan dia tahu.”
Amara berbaring di ranjang operasi. Lampu di atas terasa terlalu terang. Bau antiseptik menusuk hidungnya.
“Kamu tidak sendirian,” ucap Revan sebelum masker oksigen dipasang.
Amara menatapnya. Untuk sesaat, hatinya terasa hangat oleh kalimat sederhana itu.
“Hitung sampai sepuluh,” suara perawat terdengar.
Satu. Dua. Tiga.
Gelap.
Saat Amara membuka mata, dunia terasa berputar. Tenggorokannya kering, perutnya nyeri. Ia mengerang pelan.
“Ibu Amara?” suara lembut terdengar.
Ia menoleh. Revan berdiri di samping ranjang, tanpa jas dokter, hanya kemeja rapi.
“Operasinya berjalan lancar,” kata Revan. “Kamu di ruang pemulihan.”
“Dion?” suara Amara serak.
Revan diam sejenak. “Belum datang.”
Amara memejamkan mata. Ia menarik napas dalam. Tidak terkejut, tapi tetap sakit.
“Kamu butuh apa?” tanya Revan.
“Air.”
Revan membantu Amara minum sedikit demi sedikit. Gerakannya hati-hati, penuh perhatian, tapi tetap menjaga jarak.
“Kamu boleh marah,” kata Revan pelan.
“Aku tidak marah,” jawab Amara jujur. “Aku cuma capek.”
Revan mengangguk. “Kadang yang paling melelahkan bukan rasa sakitnya, tapi harapannya.”
Amara menoleh ke arahnya. Kalimat itu terlalu tepat sasaran.
Beberapa jam berlalu. Amara dipindahkan ke kamar rawat. Ponselnya masih sepi. Tidak ada pesan dari Dion.
Revan duduk di kursi, membuka tablet, memeriksa catatan medis. Ia tidak banyak bicara, hanya memastikan Amara baik-baik saja.
“Terima kasih sudah menemani,” ucap Amara akhirnya.
“Ini tugasku.”
“Bukan hanya itu.”
Revan menatapnya. “Aku tidak keberatan.”
Amara tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya hari itu, senyum itu terasa tulus.
Menjelang sore, ponsel Amara bergetar.
Dion: Aku baru selesai. Aku ke rumah sakit sekarang.
Amara membaca pesan itu tanpa emosi. Ia tidak langsung membalas.
Revan berdiri. “Dion akan datang.”
“Iya.”
“Aku pamit dulu.”
Amara menatapnya. “Revan.”
“Iya?”
“Terima kasih.”
Revan tersenyum kecil. “Istirahat yang baik.”
Saat Revan keluar, Amara menatap langit-langit kamar. Dadanya terasa penuh oleh perasaan yang sulit ia jelaskan.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Dion masuk dengan wajah lelah dan cemas.
“Mar.” Dion mendekat. “Maaf. Aku telat.”
Amara menatapnya. Lama.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Dion.
“Aku sudah selesai operasi.”
Dion menghela napas lega. “Syukurlah.”
“Aku sendirian waktu masuk,” ucap Amara pelan.
Dion terdiam.
“Revan yang ada.”
Dion menatapnya, ekspresinya sulit dibaca.
“Dia dokterku,” lanjut Amara. “Dan hari ini, dia satu-satunya orang yang menepati janjinya.”
Dion membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.
Amara memalingkan wajah. “Aku capek, Dion. Kita bicara nanti.”
Dion berdiri kaku di samping ranjang.
Dan di antara sunyi kamar rumah sakit itu, Dion baru menyadari satu hal.
Ia mungkin masih memiliki Amara sebagai istri.
Tapi kehadirannya sebagai suami mulai tergantikan.