Pagi datang dengan suara langkah perawat dan aroma obat yang menyengat. Amara terbangun perlahan. Rasa nyeri di perut masih ada, tapi tidak sekuat kemarin. Ia menggeser tubuh sedikit, lalu berhenti saat merasakan tangan menggenggam jemarinya. Dion tertidur di kursi samping ranjang. Kepalanya bersandar ke dinding, jasnya masih rapi, dasinya sudah dilepas. Wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya. Amara menatapnya lama. Ada perasaan hangat yang muncul, bercampur dengan luka yang belum sembuh. “Dion,” panggil Amara pelan. Dion terbangun kaget. “Mar. Kamu kenapa? Sakit?” “Enggak. Aku cuma bangun.” Dion berdiri, mendekat. “Kepala pusing? Mau minum?” Amara menggeleng. “Kamu nginep?” “Iya.” Dion tersenyum kecil. “Aku enggak pulang semalam.” Amara mengangguk. Ia tidak tahu harus meras

