Tit... Tit... Tit... Hanya suara mesin monitar yang seakan membunuh waktu di ruangan serba putih dan cream tersebut. Di luar tampak mentari menyapa dengan malu-malu dari balik awan yang berarak seakan mendukung perasaannya yang yang sedang mendung, tiba-tiba hatinya bergerimis saat memandang laki-laki tampan di hadapannya yang masih saja setia dalam diamnya, laki-laki yang berhasil mengisi seluruh hatinya, Nidya rindu dengan tatapan dinginnya, kejailannya, dan tentu saja ia selalu merindukan senyumannya yang selalu berhasil membuat jantungnya berdetak keras setiap kali bertemu. Berulang kali hembusan nafas berat Nidya menemani kesunyian, kenangan indah bersama Bagas tak pernah sekalipun terlupakan olehnya. Namun saat kilasan kenangan bersama Deanova pun terasa menyesakkan, hampir tiga ta

