Tak terasa sudah hampir 4 bulan, Nicholas tinggal di indonesia. Kini ia semakin akrab dengan Elena walaupun terkesan cuek, Elena sebenarnya sangatlah perhatian. Seperti itu pun dengan Elena, ia mulia menyadari ada perasaan cinta tumbuh di dalam hatinya. Tapi sesuai tekad nya ia tidak mau menjadi seperti perempuan indo lainnya. Ia takut ketika ia mulai sayang, justru Nicholas meninggalkannya.
Nicholas pun juga mulai merasa nyaman dengan kehadiran Elena. Setiap hari ia lewat di depan ruangan Galih dengan alasan macam-macam hanya untuk sekedar melirik perempuan itu. Padahal yang biasa terjadi adalah Nicholas selalu di kejar banyak wanita, dan berakhir terkulai lemas di ranjang hotel bersamanya.
[ Apa kah kau sakit? Aku tidak melihatmu beberapa hari ini di kelasku]
Sebuah pesan masuk di ponsel Elena, membuat senyum langsung terukir dari bibir perempuan itu. Dengan cekatan ia mengetik membalas pesan untuk Nicholas .
[Maaf, Banyak tugas dari Galih dan Aku sehat wal' afiat. Terimakasih]
Bagi Nicholas tak apalah dia mengirim pesan duluan hanya untuk mengetahui keberadaan Elena.
[Apakah Kau besok ada acara?]
[ Belum tau, Kenapa ?]
[ Maukah kau pergi jalan-jalan denganku? Aku tak begitu hapal jalan di Jakarta]
[ Pak Parman bisa pakai Google maps]
Elena menulis kalimat itu sambil tertawa. Ia paham akan apa yang Nicholas inginkan.
[ Tapi besok Weekend, ayolah!]
Wajah perempuan itu berubah menjadi bersemu kemerahan. Seperti baru saja dirayu habis- habisan. Ia tak tahan untuk tersenyum.
[Aku akan menjemputmu besok jam 4 sore]
Elena menjawab singkat.
[ Baiklah]
Eugene berteriak "YES" dengan lumayan keras hingga membuat semua orang di kelasnya terpana kepadanya.
***
Tepat jam 4 sore, Nicholas berdiri di depan rumah indekos Elena. Mentari senja menerpa bayangannya yang kini berdiri tegak didepan rumah bertingkat dengan warna kuning yang mencolok. Terdapat banyak cucian yang berjemur tetapi tidak beraturan. Di depannya ada sebuah papan bertulisan " Menerima kost wanita" ia juga memandang sanksi ke arah halaman yang yang penuh rumput dan terlihat tak terurus.
" Pak Parman yakin ini tempat tinggal Elena?"
" Iya, Bro. Saya masih ingat nama gang menuju rumah kost ini," jawab Pak Parman yakin.
" Kan kemaren Pak Parman mengantarnya waktu malam. Yakin nggak salah lihat nih?"
" Coba bro Nicholas telepon mba Feb," ujar pak Parman menyarankan.
Nicholas mengangguk, ia pun mengirimkan pesan kepada Elena.
[Aku di bawah. Apakah kamu sudah siap?]
5 menit ... 10 menit .. tak ada balasan.
"Apa dia lupa?" Nicholas bermonolog sendiri.
Tiba- tiba dari dalam rumah keluar seorang ibu paruh baya dengan kerudung dan daster lusuh.
"Cari siapa ya, Mister?"
"Elena, ada bu?"
"Oh si rawit?"
"Hah? Rawit?"
"Iya, orangnya kecil tapi omongannya pedas," sahut wanita itu diiringi tertawa yang begitu keras.
"Astaga!"
Pak Parman yang mendengarnya dari balik kemudi pun tak dapat menahan tawa.
"Mungkin ibu benar. Bisa tolong panggilkan?"
"Kamu siapanya?" Di sini di larang bawa cowok masuk ke dalam," ujarnya dengan tangan di pinggang.
"Aku temannya sekantor. Kami ada acara dinner malam ini. Jadi saya menjemputnya," ucap Eugene sedikit berbohong.
"Oh baiklah, aku panggilkan dulu."
***
Elena keluar dengan rambut seperti singa, baju singlet dan celana pendek sepaha. Raut wajahnya seperti baru bangun tidur siang.
"Siapa sih, Bu? Ganggu aja deh! Aku lagi mimpi makan enak," ujar Elena dengan langkah kaki terseret karena Ibu kost menarik lengannya begitu kencang.
"Tuh!"
Nicholas tersenyum melihat pemandangan itu. Matanya tak berhenti menatap kearah Elena.
"Apakah kau lupa dengan janjimu sore ini?" ucap Nicholas ?" Alisnya menaik agar terkesan menyalahkan Elena.
"Astaga! Maaf Mister! Tunggu 15 menit ya, aku mandi dan ganti baju sebentar, Ok!" ujar Elena panik dan langsung berlari kembali ke kamarnya.
Selama 15 menit Nicholas menunggu, puluhan penghuni kost lainnya datang mendekati. Ada yang minta foto, minta nomer ponsel dan lebih gila lagi banyak yang minta peluk.
Bagi Nicholas yang Flamboyan, ini suatu anugerah. Bahkan ia tak ingat lagi apa tujuannya kemari.
"Wow ... Senangnya yang di goda perempuan," sindir Elena yang tau -tau sudah duduk di mobil yang di kemudikan Pak Parman.
"Cemburu ya?" Nicholas menggoda balik.
"His! Nggak lah. Dasar pria ganjen!" umpat Elena.
Dengan berat hati Nicholas harus mengucapkan salam perpisahan pada Fans dadakannya. Lalu ia menyusul masuk ke mobil dan duduk di samping Elena.
"Kita mau kemana?" tanya pak Parman.
"Monas, Pak!" ujar Nicholas .
"Hah? Mau ngapain ke sana?" sahut Elena kaget.
"Iya, atau kau punya tempat lain yang ingin di datangi?" Nicholas balik bertanya.
" Aku sudah mencari di google maps, cuma ini wisata yang paling dekat,"tutur Eugene.
" Aku... juga tak punya pilihan, tapi aku suka tempat luas," sahut Elena.
"Apakah kau mau ke hotel bersamaku?" Nicholas bercanda dengan nakal
Elena menggelengkan kepalanya, dia sangat menyukai langit malam. Mungkin dari puncak monas dia dapat melihat langit lebih dekat. Pikirnya positif.
Selain bentuknya yang unik, daya tarik Monas juga terletak pada lapisan emas yang melapisi tugu ini. Lapisan emas seberat 35 kg itu menjadi keistimewaan tersendiri bagi tugu itu.
"Kau sudah makan siang?" tanya Nicholas lagi.
Elena mengangguk, tentu saja. Dia tak rela jika harus gagal pergi karena asam lambungnya naik lagi.
"Bagus, jangan sampai pingsan. Kita akan bersenang-senang hari ini."
Sepanjang perjalanan tak pernah sepi dari perbincangan. Sesekali diiringi derai canda. Elena tidak pernah merasa seceria ini sepanjang hidupnya. Dia menyukai Nicholas dan semua lawakannya.
Nicholas menatap Elena, sedangkan perempuan itu terus mengoceh. Setiap kata yang di ucapkannya bagai nada musik yang menghipnotis dirinya.
Elena, si gadis manekin yang dingin dan beku, dia mencair setiap kali berada di dekat Nicholas , laki-laki sehangat matahari.
Sekitar pukul 5 sore mereka sudah sampai di Monas. Tujuan pertama adalah menaiki kereta untuk berkeliling. Luas Monas 80 hektar, mengelilingi Monas tak dapat dengan berjalan kaki karena pasti sangat melelahkan. Untuk itu pihak pengelola Monas telah menyiapkan kereta wisata yang dapat membawa pengunjung berkeliling. Setelah selesai berkeliling mereka memesan es krim. Elena merasa seperti kembali menjadi gadis kecil, yang berbinar bahagia hanya dengan tiga sekop es krim cone dan sebuah boneka beruang besar yang dipilihkan Nicholas untuknya.
"Nanti jam 19 :30 ada air mancur menari," ucap Nicholas sambil menikmati es krimnya.
"Bagaimana kau bisa tahu banyak tentang ini semua?" tanya Elena keheranan.
"Aku googling semalaman." Nicholas tertawa.
"Kenapa?" Elena masih belum menemukan sebuah alasan.
"Karena kau tipe gadis yang tidak mudah dibuat terkesan." Kali ini Nicholas menjawab dengan nada serius. Elena membulatkan matanya.
"Ada es krim di hidungmu," ujar Nicholas ingin membersihkan dengan tisu.
"Ja... Jangan..."
Terlambat tangan itu sudah menyentuh hidung Elena lalu dengan gaya acuh tak acuh Nicholas menyerahkan tisu itu.
"Sapu sendiri, jangan sok imut!"