4. Terserang Diare

1100 Kata
Assalamualaikum, Pa Parman?" Elena langsung mengucap salam ketika telepon telah tersambung dengan supir pribadi perusahaan itu. "Ya Mbak Feb, ada apa. Tumben nelpon malam-malam?" "Pak Parman di mana sekarang? Sudahkah mengantar Mister Nicholas kembali ke hotel atau belum?" "Ini lagi di jalan, Mbak Feb. Disuruh membeli obat ke apotik. Tapi nganu ...," "Nganu apa, Pak? Apotik? Kenapa?" Elena mulai panik. Hampir saja ia marah - marah karena jawaban pak Parman yang membuatnya menunggu. "Tadi Brother Nicholas minta diantar ke klinik dulu. Dia bilang perutnya sakit dan udah bolak-balik kamar mandi 5 kali," sahut Pak Parman dengan bahasanya yang medok. "Brother Eugene... Maksudnya, Nicholas?" Deg! Elena baru sadar. Tiba-tiba saja kakinya terasa lemas seperti mau copot, badannya langsung terasa meriang. Ia merasakan keringan dingin mulai keluar dari tubuhnya. "Duh ... Gimana nih?" Elena berjalan mondar-mandir di depan kost nya. Ia mencoba tenang tapi justru membuat dia berpikir berlebihan. Elena tak dapat berpikir jernih di situasi menegangkan seperti ini. Semuanya gara-gara Elena yang sudah membuat Nicholas di larikan ke rumah sakit. "Klinik mana, Pak?" "Yang terdekat aja sama hotel. Klinik Ammariz, Mbak Feb." "Saya ke sana sekarang, Tunggu,ya !" Elena bergegas meraih sweater di balik pintu lalu meraih tas dan mengamankan ponselnya di sana. Dan hampir terjatuh ketika memasang sendalnya. Sembari berlarian kecil keluar gang ia memesan ojek online. Beruntung ojek yang di pesannya cepat tanggap, hanya hitungan menit Elena sudah berada di jalan menuju klinik. "Cepetan pak, Ini menyangkut hidup dan mati karierku," ujar Elena sudah tak sabar.Pipinya sudah berasa dingin " Sabar Mbak Cantik. Jalannya licin, Mbak. Kan tadi hujan," jawabnya si ojek Online Elena merutuki dirinya sendiri dalam hati, betapa cerobohnya dia. Tidak seharusnya dia memesan ayam geprek, kenapa tidak ayam penyet saja. Ia kembali menuliskan pesan untuk Pak Parman. Jemarinya bergetar setiap mengetik huruf di layar ponselnya. [ Bagaimana keadaan Mister Nicholas sekarang?] [ Sudah diinfus, katanya dia kekurangan cairan.] { Sebentar lagi saya sampai, tolong jaga dia sebentar!] [ Siap, Mbak Feb] Elena membuang nafas kasar. "Ya... Tuhan, ampuni aku!" *** Setibanya di parkiran rumah sakit, Elena langsung disambut dengan raut wajah panik dari pak Parman. "Mister Nicholas di kamar no 24, Mbak Feb," katanya tanpa basa-basi. Elena bergegas berlari menuju ruangan rawat inap. Tak mempedulikan apa kata Pak Parman, bahwa celananya tergulung sebelah. Elena melakukannya karena sepanjang jalan, celananya basah akibat kecipratan genangan air. Sesampai di depan kamar yang di maksud Elena langsung membuka tanpa permisi hingga Nicholas terkejut. "Elena!" Nicholas terkejut melihat Elena yang datang dengan napas tersengal. "Kenapa kamu diam saja? Kau kan bisa menolaknya!" umpat Elena. "Ssssst...." "Tapi kamu sampai kayak gini gara-gara aku. Aku sengaja ngerjain kamu biar kamu..." Perempuan itu langsung mencecar Nicholas dengan bermacam kata kasar , dan ia mulai terisak antara takut dan lega melihat lelaki itu tidak kurang suatu apa. Hanya saja, infus yang berdiri tegak di sampingnya membuat Elena takut. "Elena, calm down. I am okey." Nicholas yakin ,ini perasaan yang berbeda pada biasanya. Nicholas ingin sekali menarik tubuh kecil Elena ke dalam pelukannya. Ia ingin membelai rambut panjang itu dan menenangkannya. Debaran aneh itu datang lagi. Padahal Nicholas sebenarnya laki-laki yang sangat suka permainkan wanita. Baginya sudah biasa mengajak perempuan tidur di hotel dan membayarnya. Tapi kali ini perasaan yang muncul justru ingin melindunginya bukan untuk menghancurkannya. "Duduklah." Suara Nicholas lembut menyuruh Elena duduk. Elena menurut, berjalan menuju kursi yang berada di dekat meja pasien. Lalu duduk dan wajah menunduk. Ia seperti seorang pesakitan sekarang. Tangannya tak berhenti bertautan satu sama lain. "Aku baik - baik saja. Hanya dehidrasi sedikit. Mungkin besok sudah bisa pulang," ujar Nicholas . Dia berusaha bangkit untuk duduk dan menghadapi Elena. "Minumlah!" Nicholas menyodorkan sebotol air mineral yang baru saja ia buka tutupnya. Perempuan itu menerima dan meminumnya beberapa teguk. Nicholas memperhatikan dengan seksama gadis di sebelahnya. Ia tetap cantik walaupun ketika tanpa baju kantoran. Elena mengenakan piyama, dengan dilapisi sweater rajut. Rambutnya yang tadi siang tergerai rapi kini terikat simpul memperlihatkan lehernya yang jenjang. Wajahnya tak ada polesan make up, tetapi sangatlah membuat Eugene menelan air liur. Perempuan ini terlihat sangat berbeda dari pada gadis-gadis yang pernah dikencaninya. Pandangan Eugene seketika terpaku ketika melihat celana yang digunakan Elena. Celana tergulung seperti orang sedang kebanjiran. "Apakah kamu mengkhawatirkan aku?" tanya Nicholas setelah berhasil menetralisir rasa gelinya. Elena berusaha menatap wajah yang berada di depannya, ia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan demikian. Rasanya begitu gila kalau ia benar-benar menghawatirkan bule itu. Tidak. Aku mengkhawatirkan pekerjaanku," jawab Elena berusaha terlihat tidak peduli meskipun dalam hati ragu mengakui. Nicholas menghela napas, gadis ini ternyata kepala batu. "Aku tidak sampai hati untuk menolakmu tadi pagi, aku tahu kau agak keberatan menemaniku makan. Aku tidak ingin meninggalkan kesan tidak menyenangkan," lanjut Nicholas menerangkan. Mereka saling bertatapan, seperti ada sensasi menggetarkan d**a. Elena kalah telak kali ini. "Sebaiknya kau pulang sekarang." "Tidak, aku akan menunggumu, Mister! Nicholas mendekatkan bibirnya ke telinga Elena, hingga dia bisa mencium farpum yang di pakai Elena. Gadis itu sontak menarik diri sedikit menjauh ketika hangat napas Nicholas terasa di sebagian wajahnya.. "Bukankah aku sudah memintamu untuk memanggil namaku saja?" kata Nicholas setengah berbisik. Dia lalu bangkit, berdiri tepat di hadapan Elena yang setengah mendongak ke arahnya. "Aku tak mau membuat Galih kehilangan sekretarisnya karena kelelahan menungguku di rumah sakit, pulanglah!" ucap Nicholas. Elena terkejut melihat perubahan sikap Nicholas barusan, sangat berbeda dengan di kantor tadi siang. Elena merasa sedikit terintimidasi, tetapi dia tidak mempunyai pilihan lain. "Good night, Elena. Lain kali perhatikan celanamu yang timpang sebelah," kata Nicholas . Dia tersenyum, lalu melambaikan tangan. Elena serta merta melihat ke bawah celananya memang timpang karena lupa menurunkan lagi setelah menggulungnya ketika di jalan menuju klinik. Ya Tuhan .... *** Setelah kejadian itu, Nicholas merasa semakin dekat dengan Elena. Ternyata Elena sebenarnya sangat enak diajak diskusi,tentang masakan, impian dan yang lainnya. Terutama travelling, Nicholas menyukai Elena yang selalu exited ketika di ajak bicara tentang negara yang pernah di kunjunginya. "Kau tahu ... aku selalu ingin bepergian keliling dunia. Terutama turki. Aku ingin ke Hagia Sophia, " gumam Elena seolah sedang membocorkan sebuah obsesi rahasianya. Nicholas tersenyum mendengarnya. Ia ikut terpacu bahagia melihat Elena senang. "Hagia Sophia sekarang kembali menjadi masjid setelah lama di jadikan museum. Arsitekturnya sangat keren. Aku sudah 2 kali kesana," ujar Nicholas. "Aku yakin kau pasti bisa, Elena," sambung Nicholas menyemangati. "Aku harus banyak mengumpulkan uang untuk itu. Tiket ke turki tidak murah," ujar Elena terlihat uring-uringan "Bekerja keraslah seakan kau mati besok." ujar Nicholas berkelakar. "Kau mendoakan aku mati, heh? Dasar bule gila!" ujar Elena mendorong pipi Nicholas. "Bukan begitu! Maksudku kau harus bersemangat. Andai kau mati besok maka kau akan bekerja keras mewujudkan impianmu," sahut Nicholas dengan tawa menggelegar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN