Dua hari setelah makan siang pertama mereka , Ganesha mendapat kabar bahwa gadis itu sedang sakit . kini ia sudah berada di depan pintu rumah gadis itu sambil membawa beberapa buah tangan. Ia mengetuk pintu kemudian mengucapkan salam. Pintu terbuka dan menampakan sosok wanita paruh baya dan tak lama di susul sosok wanita yang beberapa hari belakangan ini membuatnya tidak bisa berhenti untuk memikirkannya. Ia tersenyum dan bersalaman dengan wanita paruh baya itu, sementara wanita berpipi chubby itu hanya memandangnya heran dan mencecar banyak pertanyaan padanya.
"Mau apa anda ke sini?,kenapa anda bisa tahu rumah saya?,dan apa tidak bekerja?"cecar Mutia pada Ganesha
"Kamu ini ada tamu bukannya di suruh masuk dulu,terus di suruh duduk,gak sopan tahu" wanita paruh baya itu seraya memukul Ringan lengan putrinya itu
"Ayo masuk dulu nak"pinta wanita itu dan mempersilahkannya duduk,setelah duduk Mutia kembali mencecar Ganesha dengan pertanyaannya tadi.
"Kok gak dijawab?"ujar Mutia kesal
Ganesha menghela napas "tadi saya ke tempat kerja kamu dan kata teman kamu,kamu nya tidak bekerja karena sedang sakit,saya bekerja kok tapi kan ini waktunya makan siang"jelas Ganesha sabar
"Udah puas “ sindir wanita paruh baya itu pada putrinya “Oh iya,gimana tangan kamu,masih sakit nak"tanya wanita paruh baya itu lagi pada Ganesha
"Alhamdulillah, sudah tidak Bu"jawab Ganesha sopan
"Ibu kenal dia? dimana?" tanya Mutia tidak suka
Flashback on (tiga hari yang lalu)
Ganesha baru saja keluar dari kantor dan hendak pulang . Tapi saat hendak menuju parkiran , tiba-tiba ia mendengar teriakan minta tolong. Ganesha mencari sumber suara itu.Teriakan itu berasal dari seorang ibu-ibu yang sedang berusaha menarik tasnya dari tangan seorang pria yang mencoba mengambilnya . Ganesha segera berlari dan Tanpa basa-basi langsung menendang pria yang memegangi ujung tas satunya dan membuatnya tersungkur. Rupanya pria itu pantang menyerah ia bangkit dan langsung membalas serangan Ganesha dengan menggunakan pisau. Untungnya Ganesha masih bisa menghindar, namun senjatanya sedikit melukai tanganku. Tapi dengan cepat pula Ganesha menendangnya lagi dan membuat pria itu terjatuh lagi. Ganesha menarik kerah bajunya untuk membantunya berdiri dan mencoba bernegosiasi dengannya. ia setuju dan langsung pergi begitu saja. Ganesha langsung mengambil tas yang sudah tergeletak di bahu jalan itu dan mengembalikannya pada wanita paruh baya itu.
"Ini Bu tasnya"ucapku sambil memberikan tasnya
"Oh ya nak,terima kasih" ucap wanita paruh baya itu
"Iya Bu sama-sama"jawabku sambil tersenyum
"Itu,tangannya gak apa-apa?"tanya wanita itu khawatir
"Oh ini tidak apa-apa hanya luka kecil"ucapku mencoba menenangkan wanita itu.
“Kebetulan Ibu mau ke rumah sakit,kita obati aja ya ke sana ya nak,nanti biar Ibu yang bayar biaya pengobatannya” tutur Wanita paruh baya itu cemas
“Ebggak bu,gak apa-apa kok bu,terima kasih,tawaran bantuannya nanti saja ya Bu”tolak Ganesha lembut
“Oh,gitu,yakin gak apa-apa nak,ya sudah ini no hp Ibu ,kalo ada butuh bantuan tinggal hubungi saja ya nak” pinta wanita paruh baya sambil memberikan kartu nama
“Iya Bu,terima kasih”jawab Ganesha lembut dan menerima kartu nama ibu
Flashback off
"Oh jadi dia, cowok yang selalu ibu ceritain dan ibu bilang pahlawan itu" tutur Mutia
"Iya,kalo gak ada dia ah mungkin ibu udah di copet dan gak bakalan bisa jemput kamu dari rumah sakit"terang sang ibu
"Oooh gitu"ucap Mutia malas
"Udah,mendingan sekarang kamu siapin makan siang,kasian nak……." Sang ibu menoleh ke arah Ganesha
"Ganesha Bu"sambung Ganesha
"Ah iya pasti belum makan,"tambah sang ibu
“Kenapa dia harus diajak makan,memangnya siapa dia?” ujar Mutia ketus
“Kamu ini,nak Ganesha itu tamu,jadi dia harus kita jamu sebaik mungkin” ujar Ibu lagi. “sudah sana ke dapur masak,siapkan makanan terbaik kamu” pinta sang ibu pada putrinya
“Iya….iya….”jawab Mutia memberengut tapi pergi juga ke dapur. Saat sudah Mutia pergi dari situ,Ganesha mengambil kesempatan ini untuk bertanya pada wanita paruh baya itu tentang yang menyebabkan putrinya jatuh sakit.
"Eem...Bu maaf sebelumya kalau boleh saya tahu,Mutia itu sakit apa ya?"tanya Ganesha sopan
"Oh itu,alerginya kambuh,padahal ibu sudah sering wanti-wanti ke dia agar hati-hati makan makanan, tapi dia masih ngeyel juga makan makanan itu, katanya untuk menghargai teman barunya,padahal dia bisa nolak dan ngomong terus terang kan" terang wanita itu panjang lebar
“Alergi,alergi apa ya bu?”tanya Ganesha penasaran
“Dia itu alergi sama makanan laut khususnya udang, dia kalo makan udang sedikit aja,bisa sampai sesak napas, kayaknya waktu itu dia makannya lebih dari satu,soalnya bisa bikin dia pingsan sampai di infus dan keluar ruam-ruam merah di wajah dan kulitnya” terang wanita itu lagi
“Tapi saya tadi tidak melihat ada ruam merah di wajahnya bu” ujar Ganesha sedikit heran
“Itu kan dari tadi dia pakai hodie jadi gak keliatan, coba perhatikan nanti saat dia gak pakai hodie,pipinya agak bengkak dan di kulitnya ada ruam-ruam merah” tambah wanita itu lagi
Mendengar penjelasan dari ibu si gadis , Ganesha sedikit terkejut. Pasalnya jika diingat lagi,dirinya mengajak gadis itu lunch dengan menu nasi goreng pattaya adalah hari sebelum gadis itu sakit. Jadi bisa dikatakan dirinyalah penyebab gadis itu sakit, walaupun dirinya bukanlah seorang chef tapi tahu betul bahwa salah satu bahan pembuat nasi goreng itu adalah udang. Dan memang pada nasi goreng itu kala itu banyak sekali udangnya. Ganesha mulai merenung dan merasa bersalah karena kurang memperhatikan gadis itu, namun seketika ia tepis di kala mengingat penjelasan ibu gadis itu yang mengatakan bahwa putrinya itu tidak bisa menolak makanan karena ia pergi dengan teman barunya, berarti si gadis sudah menganggapnya teman.
Entah kenapa hatinya merasa senang saat mengetahui itu. Dan Ganesha pun merasa semakin yakin tentang apa yang dirasakan hatinya saat bertemu dengan gadis itu pertama kalinya. Tak berapa lama gadis yang baru saja ia pikirkan kini sudah berada di hadapannya.
“Bu,makanan udah siap”ujar mutia pada sang ibu
“Sudah nak,oh iya,ayo makan nak”ajak sang ibu pada Ganesha sambil berlalu ke dapur,saat Ganesha hendak mengikuti ke dapur ia berputar dan kembali ke tempat berdiri Mutia yang sedang menggerutu.
“Bukannya basa-basi,ini malah langsung bilang iya aja lagi, gak sopan”gerutu Mutia dan terkejut saat Ganesha kini berada dihadapannya
“Gak usah ngomel,lagipula aku diajak sama ibu kamu,kamu tahu alasannya apa?”tanya Ganesha sambil berseringai
“Apa?”tanya Mutia sambil memelototkan matanya pada Ganesha
“Karena aku gak bisa menolak permintaan orang tua,apalagi orang itu calon mertua sendiri,dan karena….”
“Karena apa?apa”tanya mutia tidak sabaran dan semakin marah
“Masa aku mau melewatkan untuk mencoba makanan dari calon istri sih”jawab Ganesha kemudian langsung pergi begitu saja ke dapur dan diikuti Mutia yang menggerutu kesal. Mutia semakin kesal saat melihat Ganesha hendak duduk di kursi paling pojok,dimana kursi itu adalah kursi yang biasa di duduki sang bapak.
“Stop,jangan duduk di situ”larang Mutia tegas
“Gak apa-apa kok nak…”ujar sang ibu lembut
“Enggak,gak ada yang boleh duduk di kursi itu selain bapak” terang Mutia tegas
“Tapikan nak….”
“Enggak,kalau mutia bilang enggak ya enggak “ Mutia marah
“Enggak apa-apa kok bu,saya pindah saja”tutur Ganesha menengahi dan kemudian duduk di kursi yang lain. Mutia pun mulai menghidangkan makanannya. Sang ibu meminta maaf karena menunya sangat sederhana,namun Ganesha tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya merasa tidak ada masalah mau makan dengan menu sederhana atau mewah,baginya yang terpenting adalah dengan siapa ia makan. Perkataannya mengukirkan senyum di wajah sang ibu dan tanpa pada wajah gadis itu tapi sayangnya Ganesha tidak melihatnya. Selama makan sesekali ia melirik pada gadis itu dan memperhatikannya. Kini gadis itu sedang melepas hodienya,benar memang tampak pipinya yang agak bengkak, bukan karena pipi gadis itu yang chubby,namun menurutnya hal itu tidak mengurang kecantikan alami dari gadis itu. Rasa bersalahnyapun berkurang saat gadis itu melahap buah tangan yang dibawanya.