“Astaga Vin!” seru dokter Samuel sambil menggusur Peter dari sisi lain Kelvin yang duduk di atas brankar dan sudah ditempatkan di salah satu bilik, lantas meraih lengan sang sahabat yang dibungkus sobekan kemeja, “Loe kenapa ini? Siapa yang mencelakai loe?” tanyanya sambil melepas kain pembungkus tersebut, lantas dicek bagian yang terluka, “Astaga!” serunya kaget karena luka yang dulu sudah susah payah dijahitnya, diberikan perawatan dengan obat, sekarang kembali terluka.
Kelvin melihat semua ini menghela napas, akibat action ekstrim membuat lukanya kembali luka.
“Kelvin, jawab pertanyaan gue itu!” dihardik si sahabat yang tampak menghela napas melihat kepanikannya, sedangkan disisi sang sahabat ada Lotta yang mengernyit menahan rasa mengilu melihat luka di lengan si dokter.
“Gue dicekal begal lagi, Sam.” Terdengar sahutan Kelvin.
Dokter Samuel melongo mendengar ini, “Loe dicekal begal lagi? Di mana dicekalnya? Lantas mana para begal itu?” dicecer sang sahabat dengan banyak pertanyaan.
“Di tempat kemarin itu, Sam.”
“Tempat kemarin? Maksud loe di tempat yang dulu loe dicekal begal?”
“Iya.”
“Kok bisa? Bukannya kata Peter, Ruben berhasil membuat para begal itu mendekam di penjara.”
“Kata Peter?!” Kelvin terkejut mendengar ini, lantas memandang ke Peter, “Peter memang para begal itu berhasil dibekuk Ruben?” diberi pertanyaan ke asistennya tersebut.
“Iya Tuan muda.” Sahut Peter, “Maaf saya belum melaporkan itu ke saya, karena anda meminta saya menemukan alamat rumah dan alamat tempat kerja nona Lotta.” Imbuhnya sambil menunjuk Lotta.
Tuing, Lotta terkesiap mendengar penuturan Peter, masa sih Kelvin melakukan itu? Untuk apa mencari tahu alamat rumah dan alamat kantor sang gadis? Kelvin tersentak kaget mendengar penjelasan polos asistennya, lantas dia berakting,
“Kapan saya memintamu menemukan alamat rumah dan alamat tempat kerja Lotta?”
“Seminggu lalu kan, Tuan.” Sahut Peter, lantas mengeluarkan dompet dari saku belakang celana panjangnya, lantas menarik sehelai kertas terlipat yang kemudian diberikan ke si bos, “Ini surat tugas dari anda.” Imbuhnya.
Kelvin terkesiap menerima kertas itu, segera saja dibuka lipatannya, lantas terlihat gugup karena dikertas itu ada gambar Lotta yang digambarnya. Dia juga menjadi gregetan karena Peter membuat gambar sang gadis tercetak garis lipatan, merusak wajah cantik si gadis toh.
Lotta melihat gambar di kertas itu, lantas menegur Peter,
“Itu..Itu gambar saya kan?” tanyanya gugup.
“Bukan nona, itu gambar tuan muda.” Sahut Peter tidak mudeng dengan maksud pertanyaan Lotta yang adalah gambar di kertas adalah gambar dirinya, bukan siapa yang menggambar dirinya di kertas tersebut, bukan pula menanyakan itu gambar punya siapa.
“Peter,” terdengar suara dokter Samuel, “Maksud nona Lotta, itu gambar di kertas adalah dirinya. Bukan dia menanyakan gambar itu punya siapa, atau siapa yang menggambarnya.” Dia mengerti pertanyaan sang gadis, lantas dijelaskan ke Peter.
“Iya itu maksud saya, dokter!” sahut Lotta senang.
“Iya itu gambar anda, nona.” Terdengar suara Peter, “Tuan muda Kelvin yang membuatnya, lantas minta saya menemukan alamat rumah dan alamat tempat kerja anda dengan berbekal gambar itu.”
Dhuar, Kelvin merasa diledakan granat, lantas ingin bersembunyi di kolong meja, menyembunyikan rasa malu karena Peter mengatakan asal muasal gambar itu yang berarti isi hati dia ke Lotta.
Lotta tersentak kaget mendengar penjelasan Peter, dipandangnya Kelvin dengan sorot mata bertanya benarkah yang dijelaskan si asisten tadi?
“Aduhhh!” mendadak terdengar suara erangan Kelvin, “Aduhh!” dia sambil memegang lengannya yang terluka yang sedari tadi hanya dipangku tangan dokter Samuel,”Sam!” serunya ke sang sahabat yang terkesiap mendengar erangannya,”Aduh bukannya loe buruan obatin luka gue ini.” Diomelin si sahabat sambil memamerkan lengannya itu. Dia juga cepat mengantongin gambar si gadis di saku depan celana panjangnya.
Lotta dan Peter terkesiap mendengar erangan sang dokter menjadi cemas lagi.
“Vin!” Lotta menegur Kelvin, “Kamu merasa lukamu sakit lagi ya?” tanyanya meraih tangan si dokter, “Astaga!” desaunya melihat luka di lengan sang dokter cukup dalam, lantas pelan ditiup-tiup luka itu, seolah membantu meredakan rasa sakit yang dialami si dokter.
Kelvin, dokter Samuel, dan Peter melongo melihat ini, lantas tampak sang dokter tersenyum haru. Padahal dia itu berakting untuk mengakhiri tema seputar gambarnya, tetapi malah membuat Lotta tersentuh.
“Aduhh!” Kelvin melanjutkan aktingnya, “Sam, loe buruan obatin luka gue!” jeritnya meminta dokter Samuel segera mengobati luka itu.
“Lha itu lagi diobatin Lotta, Vin.” Sahut dokter Samuel polos menunjuk Lotta yang masih dengan sabar meniup-niup permukaan luka.
“Hais dia hanya meredakan rasa sakit saja.”
“Jadi elo merasa sakitnya tidak reda dengan tiupan sayang dia?”
Tuing, Lotta tersentak kaget mendengar ini, spontan saja melepas tangan Kelvin, berakibat tangan itu terbanting ke permukaan perut sang dokter.
“Astaga!” terdengar jeritan si dokter, “Hais Lotta kenapa kamu main lempar tanganku?” diomelin Lotta yang kembali tersentak kaget mendengar erangannya.
“Habisnya dokter itu bertanya ke kamu,” sahut Lotta menunjuk dokter Samuel yang tersenyum geli melihat Kelvin tersentak rasa sakit betulan, “Apa tidak reda rasa sakitmu dengan tiupan sayang dariku.”
“Apa pertanyaan itu salah, hmm? Kamu meniup lukaku karena kamu ingin meredakan rasa sakitku kan? Keinginanmu itu adalah sayang.”
“Ihh aku hanya tidak tega kamu merasakan sakit.”
“Berarti kamu sayang ke aku kan?”
“Tidak. Perduli ama sayang beda!”
“Aduhh!” Kelvin menjerit lagi karena merasa dokter Samuel membanting lengannya yang luka ke permukaan perutnya, “Samuel!” jeritnya memandang kesal ke sahabatnya yang cengegesan, karena memang sengaja melakukan itu demi membuat Lotta kembali perduli ke dia, “Loe kenapa banting tangan gue? Sakit pea!”
Lotta menjadi kembali cemas, segera saja dia mengambil troli medis yang ada di dekat dokter Samuel, dibawa ke sisi lain Kelvin, lantas dengan hati-hati mengambil lengan si dokter. Diamati sejenak luka itu, lantas diletakan di sisi pinggang sang dokter, baru memakai sepasang sarung tangan medis yang diambil dari troli tersebut.
“Lotta.” Kelvin menegur Lotta yang kini menyiapkan obat, perban, plester, sampai alat menjahit luka, “Kamu ngapain?” tanyanya terheran mengapa si gadis mengerjakan semua ini.
“Luka kan perlu diobatin segera, Vin.” Sahut si gadis mengambil kapas yang sudah dibasahi cairan NaCl dengan pinset steril, lantas mulai membersihkan luka di lengan Kelvin, “Tahan sedikit ya,Vin. Biar lukamu bersih, jadi bisa dibubuhkan obat luka, lantas di jahit.”
“Nona,” Peter menegur Lotta, “Anda memang bisa mengobati luka, tuan muda? Itu bukan luka biasa loh.”
“Sebisanya, Peter.” Sahut Lotta tanpa melihat ke si asisten karena konsentrasi membersihkan luka di lengan Kelvin.
“Lotta,” terdengar suara dokter Samuel, “Dari caramu mempersiapkan keperluan pengobatan luka, lantas membersihkan luka,” ujarnya mengamati si gadis sedari tadi, “Apa kamu ini perawat?”
“Bukan dok, hanya pengantar paket.”
“Lantas kok seperti perawat profesional?”
“Kakek saya punya perguruan, kerjasama dengan klinik dan rumah sakit. Lantas setiap muridnya selain diajarkan kungfu, juga disuruh magang di IGD klinik dan rumah sakit agar bisa mengobati darurat luka seperti yang dialami Kelvin ini.”
“Untuk apa disuruh magang?”
“Dokter, kami para murid seringkali terluka seperti ini, sering pula memilih kembali ke perguruan kakek untuk melapor lantas minta diobatin lukanya.”
“Tidak dibawa ke klinik atau rumah sakit terdekat?”
“Kadang iya, jika luka tidak bisa kami tangani darurat.”
“I see.” Kelvin paham, “Jadi kamu tinggal sama kakekmu yang punya perguruan kungfu?”
“Iya Vin. Kakek sedari muda guru kungfu, lantas melanjutkan mengelola perguruan kungfu milik ayahnya. Begitu yang Aku dengar dari ceritanya.”
“I see.” Dokter Samuel paham, “Maaf mengapa kamu tinggal sama kakekmu? Maaf orang tuamu tinggal di luar kota kah?”
Lotta terkesiap mendengar pertanyaan ini, sekilas teringat peristiwa yang menewaskan orang tuanya di masa lalu.
“Lotta.” Kelvin menegur Lotta, melihat raut wajah si gadis menjadi sedih, “Ada apa?” tanyanya sambil mengangkat pucuk dagu si gadis dengan ujung jemarinya agar mereka saling melihat.
“Orang tua aku sudah lama meninggal, Vin. Dari aku berusia 2 tahun.” Terdengar suara lirih si gadis di mana terlihat menahan tangis sedih yang akan menyeruak keluar akibat teringat peristiwa tragis itu.
“Astaga!” desau Kelvin, “Maaf Lotta, maaf. Aku tidak tahu itu. Maafkan juga Sam yang menanyakan di mana orang tua kamu sehingga kamu tinggal sama kakekmu.” Dia meminta maaf membuat Lotta mengatakan masa lalu sedih itu.
“Tidak mengapa.” Lotta memasang senyum, “Dah aku lanjutin mengobatimu ya.” Dia segera melanjutkan mengobati luka di lengan Kelvin.
Kelvin menghela napas, merasa ikut sedih setelah mendengar Lotta sudah yatim piatu. Dia meski sudah yatim, tetapi masih ada Emma sang ibu. Lantas juga dia dan ibundanya masih hidup mewah dari kekayaan milik William.
Dokter Samuel dan Peter juga menghela napas berbarengan, ikut merasa sedih mengetahui Lotta adalah yatim piatu.
‘Tuhan,’ Kelvin bicara dalam hatinya, ‘Aku baru tahu gadis secantik ini sudah yatim piatu, tetapi begitu tegar, mandiri, dan berhati baik. Sedangkan aku, hanya menjadi yatim saja, ternyata manja, arogan, dan suka perhitungan.’ Dia menjadi menyadari siapa dirinya setelah Arman meninggal dunia, “Ah betapa beruntungnya aku dulu ditolong gadis pendekar ini. Aku tidak akan melepas dia untuk siapa pun, untuk hal apa pun.’ Dia segera membuat janji dalam hatinya.
Lantas terdengar suara deringan panggilan masuk dari dalam tas Lotta yang tertaruh di meja bed IGD ini. Lotta berhenti sejenak mengobati luka Kelvin, lantas menerima panggilan telpon tersebut.
“Iya tuan guru.” Disapa sang penelpon yang adalah Dellon.
“Kamu di mana, Lotta?” terdengar suara adik Mirna itu, “Katamu berhasil melarikan diri dari rumah, lantas menuju ke tempat latihan, mengapa belum juga sampai? Apa kamu tertangkap pamanmu itu? Atau kena macet dalam perjalanan? Atau terjadi sesuatu yang buruk mengenaimu?”
Lotta terkesiap mendengar sederet pertanyaan ini, merasa Dellon begitu perduli ke dirinya. Namun memang adik Mirna ini menjadi perduli ke si gadis, bukan semata ingin memanfaatkan kemampuan sang gadis kelak dalam liga judi tarung tinju.
“Maaf tuan guru.” Terdengar suara si gadis meminta maaf sudah membuat Dellon cemas, “Lotta ada sedikit hal darurat, jadi belum juga sampai ke tempat latihan.”
“Hal darurat?” Dellon terkaget mendengar ini, “Kamu kenapa? Kamu sekarang di mana? Biar aku susul kamu.” Dia mendadak mencemaskan Lotta.
“Lotta di Dallas Hospital, menolong teman yang dicelakai begal.”
“Astaga!” jerit Dellon sangat kaget, “Hais! Aku segera ke sana!” diakhiri panggilan telponnya merasa panik akibat mendengar jawaban Lotta. Dipikirannya si gadis yang celaka.
“Lha?” Lotta tercengang karena Dellon main mengakhiri panggilan telpon, “Aku belum selesai cerita, tuan guru malah mengakhiri telpon, lantas mau menyusulku kemari. Apa dia pikir aku yang terluka ya?”
Kelvin mendengar semua perkataan ini tampak sorot matanya dimasuki kecemburuan,
“Ehem!” dia berdehem minta perhatian Lotta yang memasukan ponsel ke dalam tas, “Ehem!” dehemnya lagi, “Lotta, barusan siapa yang menelpon kamu?” diberi pertanyaan ke si gadis yang melihat ke dia.
“Tuan Dellon.” Sahut si gadis singkat lantas melanjutkan mengobati lengan Kelvin, “Tahan sedikit ya Vin, aku hendak menjahit lenganmu ini, agar lukanya bisa cepat sembuh.” Dia belum menyadari bahwa si dokter mulai terasuki rasa cemburu.
“Aduhhh!” terdengar suara pekikan Kelvin, “Aduhh!” ingin Lotta melihat ke dia.
“Aku belum mulai menjahit lukamu, Vin.” Lotta memandang Kelvin keheranan karena si dokter kok menjerit, padahal dia belum menjahit luka itu. Ditangannya tampak jarum dan benang khusus menjahit luka manusia.
“Iya tahu.” Sahut Kelvin berakting, “Obat luka yang kamu bubuhkan terasa perih banget di lukaku.” Rengeknya manja, “Sepertinya lukaku harus di operasi, bukan dijahit manual.”
“Mengapa begitu?”
“Sepertinya ada syaraf di lenganku yang putus karena celurit itu.”
Lotta terkaget mendengar ini, lantas menjadi panik, “Syaraf bagian mana yang putus, Vin?” tanyanya menaruh alat jahit ke mangkuk steril, lantas mengamati lengan si dokter yang sudah terbubuhi obat luka, “Kelvin!”
“Mana sini biar aku cek,” dokter Samuel menaruh curiga ini akting Kelvin agar memaksa Lotta nanti tidak mau dijemput Dellon si penelpon sang gadis, karena dia melihat raut wajah sahabatnya tersirat kecemburuan dan ketakutan ditinggal si gadis. Dia mengambil lengan si dokter, tetapi cepat sahabatnya itu mengeplak tangannya, “Kelvin?!”
“Aduh loe ini!” keluh Kelvin sedikit memainkan kedua matanya memberi isyarat agar dokter Samuel mendukung aktingnya, “Lotta hanya membubuhkan obat, tidak melihat ada syaraf yang putus. Kalau dia langsung menjahitnya, gue akan terus kesakitan.”
“Lantas?”
“Ya loe operasi lah.”
“Disambung gitu syaraf yang putus?”
“Iyalah.”
Lotta mendengar semua ini terlihat cemas bukan main, membayangkan benaran ada syaraf di lengan Kelvin yang putus. Lantas musti di operasi.
+++
Emma memandang heran Castelo yang baru melaporkan berita mengenai Kelvin yang didengar dari Sanusi salah satu art di rumah William. Mereka berada di Emalan Boutique seperti biasanya.
“Kelvin jatuh cinta?” tanya perempuan itu terheran. “Sama perempuan pengantar paket yang pernah menolong dia dari begal?”
“Iya nyonya, begitu kata Sanusi.”
“Yang menolong Kelvin seorang perempuan?”
“Iya nyonya, seperti laporan Sanusi.”
“Profesi perempuan itu pengantar paket?”
“Betul nyonya.”
Emma lantas tampak berpikir, “Kelvin bisa secepat itu jatuh cinta? Lantas mengapa dia jatuh cinta sama perempuan level rendah lagi? Dulu Riana adalah kasir di Dallas Hospital, sekarang sama perempuan pengantar paket. Mengapa selera dia tidak seperti papanya sih?”
“Nyonya, sebenarnya tidak mengapa tuan muda jatuh cinta sama perempuan level mana pun,” Castelo memberanikan diri mengemukan pendapatnya, “Lagipula tuan muda usianya sudah kepala tiga, jika anda tetap memaksakan beliau menikah sama perempuan selevel kalian agar bisa membantu anda mengendalikan beliau untuk mau melengserkan tuan besar dari Dallas Company, apa tidak keterlaluan?”
Emma tersentak kaget mendengar semua perkataan Castelo tadi.Putranya memang sudah berusia 30 tahun, selayaknya segera menikah, tetapi dia mau perempuan yang selevel mereka agar bisa membujuk sang anak membantunya melengserkan William dari Dallas Company demi misi Arman dulu yang hancur gegara tragedi 23 tahun silam.
“Nyonya.”
“Coba kamu cari tahu siapa perempuan pengantar paket itu, lantas bawa kemari biar saya lihat seperti apa dia. Apakah bisa memenuhi kualifikasi saya untuk dijadikan sekutu saya, atau tidak.”
“Lantas bagaimana dengan tugas saya menemukan nona Lotta putrinya tuan Agung?”
“Tetap kamu lakukan!”
“Lantas kalau diketahui lagi oleh tuan William, gimana nyonya?”
Emma tersentak kaget mendengar ini, lantas tampak gregetan kesal.