Peter tampak nyengir kuda seperti Donkey melihat para ajudan grogi diminta menyerang Kelvin dalam sosok begal. Sudah tentu grogi karena sang dokter adalah keponakan kesayangan William atasan tinggi mereka. Lantas juga para ajudan itu menyerang si dokter bukan dengan kungfu saja, tetapi dengan senjata tajam yang biasa dipakai begal.
“Hais!” terdengar jeritan kesal Kelvin untuk kesekian kali, “Kalian menyerang saya yang benar dong!” untuk kesekian kali pula dia mengomeli para ajudan itu yang karena grogi menyerang asalan banget. Bahkan seringnya mengarahkan pukulan atau mengayunkan senjata ke angin, bukan ke dirinya.
Hais dokter, kalau anda memar atau terluka karena mereka, bisa-bisa William mengirim mereka ke alam abadi. Tuan besar itu sedari Kelvin kecil tidak boleh ada yang menyakiti dalam bentuk apa pun. Kelvin jatuh dari sepeda saat belajar menggoes kuda besi tanpa mesin itu, si tuan langsung mengomeli para pengasuh keponakannya itu. Mengapa sampai si keponakan bisa jatuh lantas terluka.
Ini membuat Emma menjadi over protektif ke Kelvin, maka selalu mengupdate keadaan putranya melalui Peter khususnya.
“Tuan muda.” Terdengar suara Vian salah satu ajudan, “Baiknya anda minta kamu mencari nona penolong anda sampai ketemu ya.”
“Betul..betul..betul.” sahut Ryan ajudan yang lain, “Kalau kami diminta beraksi seperti begal, lantas nona itu tidak datang juga, yang datang malah warga gimana? Kita semua celaka. Ditambah pula kena strap tuan William.”
Kelvin terkesiap mendengar ini. William meski protektif ke dia, tetapi tidak segan memberi hukuman strap sekiranya ketangkap basah oleh sang paman berbuat satu kesalahan, apalagi yang konyol berbahaya seperti ini.
Aksi ini tidak diketahui William, karena Peter merahasiakannya. Peter hanya bilang Kelvin minta dikawal ke Dallas Hospital karena merasa kurang nyaman menyetir sendiri saat masih terjangkit virus si dewa Cupid itu.
“Tuan muda.” Terdengar suara Vian, “Please ya biar kami cari si nona itu untuk memenuhi malarindu anda.” Direngekin si dokter arogan yang lagi ngawur demi bisa mendapat keajaiban Tuhan mendatangkan Lotta si pengobat virus dewa Cupid itu.
Kelvin terkesiap mendengar ini, lantas tampak gemas, diberi hadiah satu jitakan di kening Vian. Mengapa ajudan ini tahu dia terkena virus dewa Cupid yang membuatnya menderita malarindu? Jelas tahu karena Peter kan seminggu kemarin meminta bantuan para ajudan membantunya menemukan alamat rumah dan alamat kantor si nona penolong itu.
Vian tampak ciut mendapat hadiah jitakan.
“Ya sudah!” terdengar suara Kelvin, “Kalau kalian tidak mau beraksi seperti begal!”
Para ajudan mendengar ini berbarengan menghembuskan napas lega.
“Saya akan mencari begal benaran!” imbuh si dokter.
Para ajudan tersentak kaget mendengar ini, berbarengan pula memandang sang dokter.
“Untuk apa, tuan muda?” tanya mereka berbarengan pula.
“Untuk menyerang saya lah!”
Para ajudan langsung melipat bibir masing-masing sambil gegarukan kepala, pusing mereka harus bagaimana mengatasi kerewelan keponakan atasan tinggi mereka yang sedang jatuh cinta sepihak.
Lantas sebuah bus berhenti di halte tidak jauh dari tempat Kelvin dan orang-orang ini berada. Tidak lama turun Lotta karena si gadis sudah dekat dengan tempat yang ditujunya. Pusat pelatihan milik Dellon berada di seberang Halte dan tempat Kelvin berada saat ini.
Peter yang lebih dulu melihat Lotta, merasa si gadis sama persis seperti gambar Kelvin, lantas segera saja dia mendekati atasannya,
“Tuan muda!” serunya semangat, “Tuan muda!”
“Apa Peter?” Kelvin yang masih uring-uringan menyahut kesal.
“Itu tuan muda, itu!” Peter menunjuk Lotta yang masih di Halte karena si gadis sedang menelpon dengan ponsel. “Itu tuan muda liat ke Halte!” rengeknya karena sang dokter memandangnya keheranan.
“Ada apa di halte?” tanya Kelvin polos.
“Hais udah anda lihat saja ke sana!”
Kelvin lantas memutar pandangan menuju ke halte. Sejurus kemudian kedua matanya tampak berbinar-binar senang.
“Itu nona penolong anda kah?” tanya Peter ingin memastikan benarkah gadis yang dilihatnya itu adalah Lotta di gambar Kelvin.
“Benar Peter.” sahut Kelvin bersemangat, “Ayo-ayo kalian mulai lagi!” serunya memandang para ajudan yang ikutan melihat ke halte, karena penasaran pengen tahu ada apa di sana karena Peter memberitakan dengan semangat.
“Mulai apa tuan muda?” tanya Vian tidak paham seruan si bos.
“Ayo kalian jadi begal lagi yang menyerang saya.”
“Untuk apa tuan? Anda lebih baik mendekati nona itu saja.”
“Hais biar dramastis, Vian!” sahut Kelvin entah kenapa menjadi sableng, padahal benar kata Vian sebaiknya dia mendekati saja Lotta. Lantas si dokter meraih tangan Vian yang memegang celurit, kemudian dibikin seolah hendak menebas lengannya, “Aduhhh!” serunya lantang pura-pura kesakitan, “Astaga!” jeritnya lantang sambil melihat ke Lotta, berharap si gadis mendengar jeritannya, “Hais begal-begal ini bengal ternyata!” jeritnya lebih lantang.
Peter dan para ajudan menahan tawa geli melihat kesablengan si bos yang pengen diberi pertolongan sama nona cantik di halte tersebut.
Sebenarnya Kelvin menjadi sableng selain karena virus cinta, jika Lotta datang sesuai harapannya, maka harus membuat gadis itu tidak melarikan diri lagi dari dia.
Lotta memang mendengar jeritan-jeritan Kelvin, menyudahi menerima panggilan telpon dari William, karena ayah asuhnya itu gregetan tidak menemukan dia di penthouse.
Peter melihat Lotta segera memandang ke arah mereka, segera pura-pura memukul tangan Vian yang masih dipegang Kelvin,
“Bertahan tuan muda!” serunya berakting pula seperti Kelvin, demi menggugah nurani si gadis untuk menolong si bos, tangan lainnya memberi isyarat agar para ajudan membantu misi bulus sang dokter.”Yang serius aktingnya!” bisik dia pula, “Biar sang nona kemari menolong tuan muda!”
“Beres.” Sahut para ajudan setuju karena melihat Lotta yang dirindukan keponakan tuan besar mereka.
Alhasil terjadilah drama action berjudul dicekal begal demi ditolong bidadari.
Lotta melihat drama itu merasa cemas, tetapi dia ingat saat Kelvin memarahinya agar tidak ikut campur urusan si dokter yang dicekal begal. Dia menghela napas, harus bagaimana saat ini. Akhirnya dia memutuskan tidak menolong Kelvin, bergegas hendak menyeberang jalan.
“Tolong!” terdengar seruan Kelvin yang melihat si gadis hendak meninggalkan halte tidak menolongnya, “Akhh!” jeritnya terpaksa membuat lengannya yang pernah terluka kena hadiah senjata tajam yang dipegang Ryan.
Ryan terkaget, hendak meminta-minta maaf, tetapi Peter cepat menariknya, membisikinya bahwa ini aksi si bos agar sang nona tidak jadi menyeberang jalan.
Lotta tersentak kaget mendengar pekikan kesakitan sang dokter, lantas matanya melihat ada red liquid menghias lengan kemeja si dokter. Terpaksalah dia segera memberi bantuan ke Kelvin, disikat para ajudan itu. Namun dia merasa aneh karena para ajudan itu menghindar-hindar saja saat diserang olehnya.
Sudah tentu, karena mereka tahu sang gadis idaman si dokter. Kalau mereka membalas serangan si gadis, lantas tidak sengaja membuat memar atau luka di tubuh dewi penolong ini, dijamin Kelvin akan mengamuk.
Vian lantas menjentikan dua kali jari telunjuknya memberi isyarat ke rekan-rekannya agar melarikan diri, seolah menyerah kalah kena serangan Lotta, lantas memberi kesempatan si bos melepas tropikangen malarindu ke sang gadis.
“Kelvin!” seru Lotta cepat mendekati Kelvin tampak kesakitan.
Salah si dokter, kenapa menghadiahkan senjata tajam ke luka di lengannya yang belum sembuh sempurna. Akibatnya jahitan di luka tersebut rusak, meleleh pula red liquid.
“Tuan muda.” Peter menjadi cemas betulan, karena dia baru tersadar si dokter melukai lengan yang pernah terluka, “Tuan muda, tolong bicara sesuatu ke saya.” Rengeknya karena Kelvin terlihat kesakitan.
“Vin, Kelvin!” Lotta pelan menepuk-nepuk salah satu pipi si dokter, “Kamu!” serunya kemudian segera memandang ke Peter, “Ayo bantu saya bawa Kelvin ke rumah sakit dekat sini! Ini luka dia yang terdahulu sobek lagi!” imbuhnya meminta si asisten membantunya membawa sang dokter ke rumah sakit terdekat.
Lotta melingkarkan satu lengannya ke pinggang Kelvin, sedangkan Peter melingkarkan lengan si dokter ke lehernya, lantas mereka membawa sang dokter ceroboh ini ke mobil. Saat itu hidung Kelvin mengendus wangi dari tubuh sang nona. Dia merasa wangi itu sangat sensual berbaur parfum fruty yang segar.
‘Terima kasih Tuhan, biarlah lenganku terluka lagi asalkan aku di dekat dewi penolongku ini.’ bisik hatinya merasa tidak mengapa lengannya kembali terluka asalkan bisa membuatnya sedekat ini disisi si gadis.’Hei ada apa denganku? Mengapa melakukan hal sableng demi bisa bertemu gadis ini. Benarkah aku terjangkit virus si dewa Cupid?’ dia membatin merasa dirinya aneh, yang kadang dia pikir karena terjangkit virus cinta, tetapi kadang dia meragukan itu.
Dia juga terus mengamati sang gadis yang duduk di sebelahnya di mana si gadis cepat menggulung lengan kemeja yang dikenakan ia. Lantas si gadis menarik keluar bagian bawah kemeja sang dokter, lalu disobeknya,
“Sorry Vin,” terdengar suaranya meminta maaf main mengeluarkan bagian bawah kemeja si dokter, lantas menyobek bagian tersebut, “Aku terpaksa menyobek kemeja kamu agar membebat lukamu biar red liquid tidak terus meleleh.” Dia menjelaskan mengapa melakukan semua itu tanpa minta izin ke sang dokter.
Sedangkan Peter duduk di kabin kemudi, segera melajukan mobil atasannya ini ke Dallas Hospital, karena hanya di sana yang bisa memahami kerewelan sang dokter saat diobatin.
“Tidak mengapa.” sahut Kelvin tersenyum merasa terharu dengan yang dilakukan Lotta, “Makasih kamu masih perduli ke aku.” Dia mengucapkan terima kasih dengan tulus, “Jangan bilang tumben aku rajin mengucapkan terima kasih.” Imbuhnya saat melihat si gadis hendak bersuara menanggapi ucapannya tadi.
“Hehehe.” Lotta tersenyum geli mendengar perkataan Kelvin, “Aku tidak ada mau bilang yang kamu katakan. Aku mau bilang, sama-sama.”
“Kirain.”
“Maaf ya waktu itu aku judes ke kamu.”
“Dimaafkan karena memang itu salahku.”
“Maafkan juga aku meninggalkanmu hanya dengan sehelai pesan.”
“Kalau itu aku tidak memaafkan.” Kelvin memandang Lotta dengan ekspresi kesal, “Aku juga tidak memaafkan kamu yang berani menyuruh warga membawaku ke polisi.” Imbuhnya mengingat bagaimana si gadis melarikan diri dari dia sebanyak 2x.
“Mengapa?”
“Kamu sudah janji tidak melarikan diri dariku, hanya ke Toilet saja.” Sahut sang dokter, “Lantas mengapa kamu memanfaatkan warga agar melarikan diri dariku? Memangnya aku ini penjahat yang sengaja menabrakmu agar menculikmu setelah itu?”
“Vin, aku terpaksa melakukan itu karena sudah harus kembali ke tempat kerjaku. Hal lain aku tidak enak sama Tuan Dellon, kamu main membawaku pergi, meski sudah minta izin ke dia.” tutur si gadis merasa bersalah ke Kelvin,”Lantas hari itu, aku sangat letih, terpaksa memanfaatkan warga untuk membuatku melarikan diri dari kamu.
Kelvin mengamati kedua mata si gadis, lantas menghela napas, diraih tangan sang gadis,
“Oke, aku maafkan kamu. Namun janji ya tidak mengulang hal itu lagi.”
“Lihat situasi ya.” Sahut Lotta melepas tangan Kelvin dari tangannya, kemudian melanjutkan membebat luka sang dokter.
“Lotta, tadi kamu menyebut pria yang bersamamu tuan Dellon, apa dia bukan pacarmu?”
“Bukan. Beliau adik Nyonya Mirna atasanku. Aku sedang dimutasi kerja di tempat Tuan Dellon.”
“I see. Tapi baik sekali adik atasanmu mengajakmu maksi di Naga Mas. Apa betul dia itu adik atasanmu?” terdengar nada suara Kelvin berbau kecemburuan.
“Memangnya adik atasan tidak boleh mengajak maksi karyawannya?” Lotta sudah selesai membebat luka di lengan Kelvin. “Vin, kamu bawa air mineral di dalam mobil ini?”
“Kamu haus?”
“Tidak. Kamu perlu minum air putih untuk meredakan sedikit rasa sakit yang gemerusung ke kepalamu saat ini.”
Kelvin lantas menunjuk ke arah saku sarung jok di depannya,
“Kamu simpan di sana air mineralnya?” tanya Lotta melihat yang ditunjuk sang dokter.
Kelvin menganggukan kepala. Lotta cepat mengambil sebotol air mineral dari saku sarung jok itu, lantas dibantu sang dokter meneguk sejenak air tersebut. Si dokter meminumnya sambil mengamati sang gadis.
‘Tuhanku,’ bisik hatinya, ‘Cantiknya perempuan ini. Mana hatinya sungguh baik. Meski dia kesal ke aku, tetapi tidak tega membiarkanku celaka. Bahkan sekarang mengurusku.’ Dia menilai siapa Lotta saat ini.
Kelvin menyudahi meneguk air, “Terima kasih.”
“Sama-sama.” Lotta kembali menyimpan air tersebut ke dalam saku sarung jok, “Kamu kok bisa dicekal begal lagi? Mana siang hari pula?”
“Mana aku tahu, Lotta. Begal itu beredar kapan pun di mana pun. Aku aja yang apes, lewat tempat itu eh dicekal begal lagi.”
Peter di kabin kemudi sedikit merasa lega sebab mendengar suara sang atasan mengobrol sama Lotta, berarti rasa sakit itu sudah hilang. Sudah pasti hilang karena sang bidadari menolongnya dengan tulus, di mana kali ini mereka duduk bersebelahan bisa mengobrol, tidak seperti beberapa hari silam mereka bertengkar.
Tidak lama mereka sampai di IGD Dallas Hospital, di mana dokter Samuel terbirit menangani Kelvin yang dilihatnya terluka. Dia ini sama seperti William terlalu menyayangi si dokter sahabatnya, bisa panik saat melihat sang dokter datang dalam keadaan terluka.