Koh Ahong melotot melihat anak buahnya terjatuh ke mana-mana karena dihajar Ruben dan Dadan. Dia pun menjadi ciut saat kedua pria tersebut mendekatinya, lantas menelan salivanya ketika Ruben meletakan telapak kaki di tepi meja kerjanya. Apalagi wajah Ruben terlihat bagaikan singa yang siap menyantap mangsa.
“Anda,” terdengar suara Ruben di mana menunjuk Koh Ahong, “Liem Suk Hong alias Koh Ahong?” ditanya si rentenier tersebut.
“Betul tuan.” Sahut Koh Ahong gugup, “Kok anda tahu nama lengkap saya?”
Ruben menggeprak keras meja kerja Koh Ahong, sambil dipelototin rentenir tersebut,
“Tidak perlu anda tanya itu!” serunya galak.
Koh Ahong terjingkat kaget mendengar ini. Sedangkan Dadan diam-diam tersenyum geli melihat si rentinier itu terjingkat kaget. Ruben meski lebih muda dari Koh Ahong, nyalinya super tinggi. Kemampuan kungfunya setara Sueb.
“Ba, baik tuan.” Terdengar suara Koh Ahong sedikit gemetaran, “Lantas anda berdua ini siapa? Mengapa datang-datang langsung menghajar anak buah saya?”
“Masih berani bertanya, hmm?” Ruben kembali menghardik sambil menggebrak meja, “Anda itu mbahnya lintah, menghisap uang manusia dengan menjeratnya berjudi, lantas dikalahkan agar meminjam sejumlah uang ke anda.”
“Kok tahu itu?” Koh Ahong merasa surprise mendengar perkataan Ruben, padahal modusnya itu tidak diketahui orang luar.
“Sudah dibilang tidak perlu ditanyakan!” Ruben sekali lagi menghardik dan menggebrak meja.
“Ba, baiklah.” Koh Ahong paham, “Lantas ada keperluan apa kemari? Hanya memberi tahu kalau saya itu mbahnya lintah?”
“Beberapa hari lalu,” Ruben tidak mengindahkan pertanyaan si rentenir, “Orang-orang anda datang keperguruan Sueb Jamaludin kan?”
Koh Ahong terkesiap mendengar ini, lantas mendengus, “Jadi anda orangnya si Sueb?” tanyanya baru paham siapa Ruben dan Dadan, “Mana dia? Apa sudah ada uang dari cucunya untuk mengembalikan pinjamannya?” tanyanya galak memandang asisten William ini.
“Hais berani sekali anda bersikap galak ke saya!” Ruben menghardik Koh Ahong, “Saya kemari untuk menjebloskan kamu dan para pekerjamu ke penjara!”
“Penjara?” Koh Ahong terkejut, tidak lama tertawa geli, “Mana mungkin? Saya ini kebal hukum, karena bisnis yang saya jalanin ada izin resmi.”
“Resmi kata anda? Hais ini bukan Las Vegas, bung, di mana bisnis perjudian dan pinjam meminjam ilegal diberikan izin resmi!”
“Anda jangan main-main ke saya ya,” Koh Ahong mulai memberanikan diri melawan Ruben, “Saya ini punya jenderal yang bisa menggelandang anda ke penjara karena kurang ajar dari tadi ke saya.”
“Hooo?” Ruben merasa surpraise, lantas menepukan dua kali tangannya di udara, kemudian masuk pria gagah berseragam polisi dengan tanda pangkat Jenderal. Bersama pria itu ada banyak polisi, “Tuan Liem Suk Hong,” ditegurnya Koh Ahong yang terbelalak kaget melihat orang-orang tersebut, “Mari saya perkenalkan anda dengan pria gagah berpangkat Jenderal ini. Nama beliau, Kusnadi Asegaf, kepala polisi yang bertugas khusus meringkus lintah-lintah seperti anda, berikut membredel bisnis perjudian para lintah itu.”
Setelah Ruben mengatakan semua itu, Jenderal Kusnadi memamerkan lencananya, lantas para polisi yang bersamanya menodongkan senjata api. Koh Ahong terkesiap melihat semua ini, menelan salivanya, mengapa Sueb yang pendekar slengean tukang berjudi dan tukang mabuk itu bisa ada koneksi dengan para polisi ini.
+++
William tergesa masuk ke dalam rumah karena Kalida menelponnya, mengabari bahwa Kelvin mengurung diri di kamar. Tidak mau makan, tidak ke Esvanza Company, bahkan tidak praktek di Dallas Hospital. Kemudian saat Kalida menemui si keponakan manja itu, tampak sang keponakan duduk meringkuk di atas tempat tidur.
Ditanya ada apa, hanya menjawab,
“Mengapa kamu melarikan diri dariku sih?” rengek si dokter kesal.
Kalida tentu terheran, ditanya lagi,
“Siapa yang melarikan diri dari kamu, Vin?”
Si keponakan menjawab, “Hais Peter payah banget sih? Masa tidak bisa menyelesaikan tugas? Hadoh aku bisa tambah terjangkit ini!” rengeknya.
Nah begitu keadaan si dokter ganteng yang membuat Kalida segera meminta William menemui sang dokter yang sepertinya terjangkit virus cinta dari pesona nona Lotta.
“Lida!” William menemukan Kalida yang menantinya di ruang keluarga, “Kelvin kenapa sebenarnya? Apa dia mabuk-mabukan lagi? Lantas mana mamanya?”
“Hais Will, Emma kan wanita super sibuk, beda sama aku yang ibu rumahtangga saja.”
“Iyalah. Lantas kenapa sama Kelvin? Katamu dia aneh sikapnya. Itu dari kapan?”
“Dari Peter menemuinya.”
“Memang Peter ngapain dia?”
“Kamu tanya saja ke Peter kenapanya.” Kalida menunjuk Peter yang terlihat tidak panik seperti perempuan itu dan William.
Peter belum juga menemukan di mana alamat rumah dan kantor si nona calon petinju itu, lantas memberi laporan ke Kelvin. Si dokter sontak kesal, lantas uring-uringan. Sang dokter sendiri pun sudah seminggu ke tempat lokasi pertama dia dan Lotta bertemu, ke Naga Mas, juga ke tempat dia nyaris menabrak si gadis, berharap si dewi penolong datang. Tidak lama atasannya ini meringkuk duduk di tempat tidur, lantas terlihat murung.
“Peter!” William menegur Peter, “Tuan kamu kenapa? Kata Lida, dia jadi aneh setelah ditemui kamu. Apa dia masih memikirkan pengkhianatan Riana?”
“Anu tuan.” Peter tampak sedikit bingung bagaimana memberi jawaban ke tuan besar tersebut mengenai Kelvin yang terjangkit virus sejak berkenalan sama Lotta.
“Anu apa? Bilang saja, biar saya bisa menolong Kelvin.” William terlihat cemas luar biasa, karena dia dan Kalida terlalu menyayangi Kelvin.
“Anu tuan, ini soal anak muda.”
“Soal anak muda gimana?”
“Kalau anak muda terjangkit virus kiriman dewa Cupid maka akan menderita tropikangen malarindu, dengan gejala seperti uring-uringan, murung, ditanya apa menjawab lain. Bahkan tidak mau makan, tidak mau ke tempat kerja pula. Ingin bertemu sang dewi pengobat virus tersebut.”
William menyimak jawaban Peter sambil dipikirkan dengan otak cerdasnya, lantas memandang surpraise pria itu,
“Kelvin lagi fallin in love?”
Peter cengegesan mendengar pertanyaan William yang tepat sekali memahami perkataannya tadi.
“Kelvin fallin in love?” tanya Kalida terheran, “Kok bisa? Bukannya dia baru patah hati?”
“Anu nyonya, soal itu saya tidak tahu mengapanya. Yang saya tahu, tuan muda sejak ditolong seorang nona pendekar dari begal, langsung terjangkit virus jatuh cinta.”
“Apa dia jatuh cinta sama gadis penolong itu?” tanya William menjadi penasaran sekaligus cemas, kalau itu benar, berarti rencana menjodohkan Kelvin dengan Lotta gagal lagi.
“Rasa saya benar, tuan.”
“Hais!” seru sang tuan besar, “Haduh kenapa dia jatuh cinta mulu saat saya merencanakan merealisasikan menjodohkan dia dengan Lotta?”
“Hais Will,” sela Kalida, “Udah kuno tahu jodoh menjodohkan anak. Biarin aja Kelvin dapatkan jodohnya sendiri. Mengenai rencanamu, kamu kan bisa mencarikan jodoh lain untuk Lotta.”
Peter mendengar nama Lotta disebut merasa curiga, meski tidak mustinya juga karena di dunia ini banyak perempuan bernama Lotta.
“Peter!” terdengar suara lantang Kelvin dari lantai dua, tepatnya dari dalam kamar sang dokter, “Peter!”
“Sayah, tuan muda!” sahut Peter dengan suara lantang pula, “Sebentar Tuan, ini ada tuan besar!”
“Minta izin aja kale ke beliau agar kamu ke saya!”
Peter mengerucutkan bibirnya, memang bisa sih minta izin ke William demi ke Kelvin, tetapi big bos dan sang istri masih memerlukan informasi mengenai virus yang menjangkiti si dokter.
“Sudah sana temui Kelvin.” Terdengar suara William menyuruh Peter menemui Kelvin, “Nanti laporkan ke saya kenapa anak arogan itu memanggilmu.”
“Baik tuan. Terima kasih tuan.” Peter merasa lega karena belum juga minta izin, bos besar sudah menyuruhnya menemui dokter arogan itu, “Peter datang tuan muda!” serunya lantang, membuat William dan Kalida spontan saja menutup telinga mereka, lantas pria itu segera melesat ke kamar Kelvin, “Peter datang, tuan muda!” serunya lagi begitu sampai di kamar sang dokter.
“Bagus.” Kelvin merasa lega si asisten datang, “Kamu panggil beberapa ajudan om Will.”
“Untuk apa, tuan?” sela Peter sebelum si bos selesai berbicara.
“Saya belum selesai bicara, Peter!”
“Lanjutkan kalau begitu, tuan muda.”
Kelvin menarik bibirnya ke dalam merasa gemas dengan asistennya yang konyol ini, tetapi sahabat yang baik untuknya.
“Lantas suruh mereka berpenampilan begal curanmor.” Kelvin melanjutkan perkataannya, “Kemudian minta mereka menunggu saya di lokasi saya dicekal begal dulu itu.”
Peter bertambah melongo mendengar semua perkataan Kelvin, mulutnya menjadi terasa gatal ingin segera bertanya mengapa si bos menurunkan perintah seperti itu.
“Kamu tidak tanya untuk apa saya menurunkan perintah?” Kelvin menegur Peter karena asistennya hanya melongo saja.
“Apa anda sudah selesai bicaranya?” Peter memberikan pertanyaan ke sang dokter.
“Belum sih.”
“Kalau begitu anda lanjutkan sampai selesai, baru saya bertanya.”
“Ya sudah kamu kerjakan yang saya suruh itu.”
“Untuk apa memangnya, Tuan?” Peter merasa Kelvin sudah selesai berkata-kata, jadi mengajukan pertanyaan.
“Saya mau mereka berakting mencekal saya seperti aksi para begal itu.”
“Hah?!” Peter terkaget mendengar itu, “Apa anda mau saya datangkan polisi juga?”
“Untuk apa?”
“Sepertinya anda mau repost reels mengenai anda dicekal begal. Biar polisi menangani kasus itu.”
“Alah ngga usah, karena om Will pasti sudah menyuruh Ruben mengerjakan itu.”
“Lantas untuk apa para ajudan beraksi seperti para begal ke anda?”
“Biar Lotta datang menolong saya!”
+++
Lotta terbirit masuk ke dalam lift, dia berhasil melarikan diri dari penjagaan Maemun bibi pengasuh yang diberikan William di penthouse miliknya ini. Dia tetap ingin menjadi petinju wanita, terlepas masih karena kepalang bikin janji sama Dellon dan Mirna. Kemudian dia merasa tidak siap menjadi presdir Loani Company, mengingat dia saat kuliah tidak mengambil fakultas untuk memanajemen perusahaan.
Sudah seminggu dia berada di penthouse, setiap hari belajar mengenai manajemen perusahaan dan company profile Loani Company, bikin dia mengalami pegal linu hati bad mood. Apalagi William mengawasinya terus. Nah saat ini si tuan besar sedang pergi, maka ada kesempatan melarikan diri.
“Fiuh!” desaunya merasa lega sudah sampai di basement penthouse, lantas bergegas menuju tempat motornya terparkir. Namun malang tidak ada motornya di sana, padahal dia ingat betul William menyuruh Dadan membawa motor itu saat mereka berada di penthouse.
“Ampun deh!” keluhnya, “Pasti tuan Will tahu aku akan melarikan diri, jadi motorku disembunyikan olehnya.” Dia feeling itu motor disembunyikan William lewat tangan Dadan. Meski kunci motor masih sama dia.
Dia rupanya lupa Dadan punya kunci serep. Bahkan Sueb pun punya kunci serep. Karena saat Sueb membeli motor itu, langsung menyuruh Dadan membuat duplikat kunci sebanyak dua buah, jadi sewaktu-waktu perlu, tanpa menunggu izin Lotta, bisa langsung memakainya.
“Hayu terpaksa pakai bus ini.” Keluhnya kesal, “Ihh tuan Will ini kenapa sih perempuan tidak boleh jadi petinju? Di dunia ini banyak perempuan menjadi petinju.”
Masalahnya William cemas Dellon kelak mempertaruhkan Lotta di liga judi. Jika itu benar, lantas menjadi penghuni alam abadi, bagaimana dengan Loani Company dan Kelvin?
“Nona!” terdengar suara lantang Dadan dari pintu teras basement, “Nona Lotta!” serunya terbirit menyusul si nona yang raib dari penthouse seperti yang dilaporkan Maemun, padahal tadi sebelum dia ke mini market membeli kemilan untuk sang nona belajar, itu nona masih ada.
“Hais gawat!” pekik Lotta langsung mengeluarkan jurus lari seribu kaki alias ngibrit kabur menghindar dari kejaran Dadan.
“Hais nonaku ini!” jerit Dadan menjadi gemas karena si nona malah melarikan diri, “Nona! Hais balik Nona! Kalau tuan Will tahu anda ke tempat latihan tinju, anda bisa dihukum beliau seperti peraturan yang kemarin beliau berikan ke anda!” serunya meminta si nona kembali ke penthouse, karena William memang membuat aturan akan menghukum sang nona jika masih berani melanjutkan aksi untuk menjadi petinju.
“Maafin Lotta, paman!” sahut Lotta kini memanjat tembok di sebelah kanan pintu basement, padahal dia bisa keluar melalui gerbang utama, hahaha. “Lotta udah janji untuk jadi petinju sama Tuan Dellon! Kalau Lotta melanggarnya, Lotta kualat 7 turunan 7 tanjakan!”
“Astaga!” jerit Dadan semakin gemas karena si nona dengan lincahnya memanjat tembok, “Tuan Agung, Nyonya Arini,” disebut nama orang tua sang nona, “Lihat anak kalian? Dikasih jabatan menjadi presdir perusahaan internasional, malah maunya jadi petinju. Mengenai perjanjian pantang dilanggar itu betul, tetapi sebenarnya anak kalian menyukai dunia tinju selain kungfu.” ocehnya memandang tembok saksi bisu aksi melarikan diri nonanya itu.”Apa yang harus aku katakan ke tuan Will ini? Beliau pasti ke penthouse, karena nona masih bimbingannya dan mister Kwee Cheng.”
Sementara di luar apartment, Lotta segera melesat lari menuju halte bus. Dia beruntung karena William tidak menyita dompet yang berisi kartu ATM rekening bank, ktp, dan sejumlah uang miliknya. Saat bus yang bertujuan ke arah tempat pelatihan tinju milik Dellon datang, saat itu pula mobil jaguar milik William melintas. Lotta segera naik ke dalam bus, tampak lega, sekaligus menyesal.
Dia tahu William melakukan semua ini demi kebaikan dirinya yang pewaris Loani Company, bukan karena ingin mengambil hak kebebasannya memilih pekerjaan apa pun. Namun dia harus menepati janji ke Dellon, sekaligus mulai menyukai olahraga tinju.