Kelvin menggambar wajah wanita cantik di sehelai kertas gambar di meja kerjanya di Esvanza Company. Dia tampak menggambar sepenuh hatinya. Pria sedari kecil suka menggambar dan melukis.
“Peter datang, Tuan muda.” Peter menegur Kelvin sang presdir Esvanza Company. “Tuan muda.” Terdengar lagi suaranya menegur si atasan sambil sedikit memanjangkan leher agar melihat apa yang sedang digambar sang bos. ‘Tuan muda menggambar perempuan?’ tanya hatinya setelah melihat apa yang digambar bos gantengnya.
“Ada apa Peter?” terdengar suara Kelvin, “Ada yang aneh kah saya menggambar perempuan?” tanyanya mengetahui si asisten melihat gambarnya lantas merasa aneh.
“Tidak ada yang aneh, Tuan.” Kekeh si asisten cengegesan, “Gambar anda sangat indah.” Imbuhnya.
“Perempuan ini yang cantik, Peter.”
“Iya sih. Maaf Tuan muda, anda memanggil saya untuk apa?”
Kelvin belum menjawab, hanya melepas kertas yang sudah tergambar dari binder kertas, diserahkan ke Peter.
“Kamu temukan di mana gadis ini tinggal secepatnya.”
Peter melongo mendengar ini, “Anda ingin saya menemukan gadis yang anda gambar ini?”
“Saya mau tahu di mana dia tinggal, dan di mana tempatnya bekerja.”
“Baik tuan muda.” Peter paham, “Maaf Tuan muda, siapa nama gadis ini?”
“Itu ada datanya di bawah gambar dia.” Kelvin memberi jawaban sambil menunjuk sederet tulisan di bawah gambar.
Peter segera menemukan sederet tulisan tangan si bos, dibacanya dengan suara pelan.
“Lotta, usia sekitar 25 tahun, cantik, jago kungfu, pengantar paket merangkap pengantar perhiasan.”
Kelvin menyimak semua yang dibacakan Peter sambil berharap dalam hatinya bisa segera bertemu kembali sama Lotta.
“Baik tuan muda.” Peter selesai membacakan sederet tulisan tersebut, “Maaf Tuan muda, siapa nona Lotta? Apakah yang pernah menolong anda dari begal? Karena dokter Sam bilang anda tadi baru bertemu nona itu di resto Naga Mas.”
“Kamu telpon dia untuk memberi info ke mama?”
“Bukan Tuan muda. Tuan Sam menelpon saya menanyakan apa saya melihat anda, karena anda tidak juga kembali ke Dallas Hospital.”
Kelvin mendengus, baru teringat dia meninggalkan sang sahabat begitu saja.
“Nanti saya telpon dia.” Terdengar suaranya mengatakan akan memberitahu dokter Samuel di mana dia saat ini, “Sudah lekas kamu kerjakan tugas dari saya itu.” Ujarnya sambil berdiri, “Lantas kamu kerjakan tugas saya di Esvanza ini.”
“Anda mau ke Dallas Hospital?”
“RSCM!” Sahut si dokter singkat, lantas bergegas pergi.
“Tuan muda apa benaran tersirep mantra cinta dewa Cupid ya?” tanya Peter merasa kelakuan Kelvin seolah sedang jatuh cinta, apalagi tadi dia mendengar cerita dokter Samuel mengenai si bos bertemu gadis penolong sang bos, lantas mereka bertengkar seperti sepasang kekasih.
+++
Sueb cemberut saat Lotta datang menjenguknya di penjara Salemba, masih merasa kesal karena si cucu tidak membelanya di depan William, bahkan tidak merengekin William untuk tidak menjebloskannya ke penjara.
“Kakek.” Lotta menegur sang kakek yang cemberut seperti bocah kecil yang tidak terima diberi hukuman oleh orang tuanya. Dia selepas berlatih tinju, menyempatkan diri menjenguk si kakek di penjara.
Meski dia kesal dengan kejahatan Sueb yang mengkorupsi semua uang kiriman dari William selama 23 tahun, tetapi tetap si kakek yang membesarkannya. Sang kakek juga tidak pernah bersikap kasar ke dia, meski dalam keadaan mabuk berat sekali pun. Lantas si kakek mengajarinya kungfu, sehingga dipercaya menjadi salah satu guru kungfu senior di perguruan.
“Kamu masih menganggap kakek, hmm?”
“Iyalah.”
“Lantas mengapa kamu malah menyalahkan kakek kemarin? Bukan kah kamu juga menikmati uang kiriman dari tuan William? Kamu masih makan 3x sehari, masih bersekolah tanpa telat bayar spp, bahkan bisa kuliah sampai lulus.”
Lotta menghela napas, semua yang dikatakan Sueb benar adanya, tetapi hatinya sakit karena sang kakek tidak pernah mengatakan dari mana semua uang itu berasal. Bahkan membuatnya hidup super sederhana, lantas saat smu terpaksa bekerja untuk menopang biaya hidup mereka sehari-hari.
“Tidak bisa menjawab, hmm?” terdengar suara Sueb bernada kesal.
“Kakek, mengapa marah ke Lotta? Kakek merahasiakan semua itu, bahkan mengancam paman Dadan pula agar tidak memberitahu mengenai kiriman tuan William itu ke Lotta.”
“Karena kakek yang dipercaya tuan William mengelola keuangan itu!”
“Pada kenyataannya tidak kakek kelola dengan baik!”
“Kamu menyebalkan seperti ayahmu!”
“Terserah kakek lah.” Terdengar suara kesal Lotta, lantas diletakan satu shopping bag ke meja, “Kek, ini Lotta bawakan Siomay ama Sate Padang kesukaan kakek.”
“Sogokan nih agar kakek tidak sewot ke kamu?”
“Ihh kakek ini, dikasih malah nyelekitin orang yang memberi.”
“Bukan nyelekitin, tetapi bicara kenyataan.”
“Sudahlah.” Terdengar lagi suara Lotta, “Lotta kemari mengantar makanan saja, karena kakek masih sewot ke Lotta.” Ujarnya merenggutkan wajah memandang Sueb.
“Ya sudah sana pulang.”
“Iyalah.” Lotta semakin merenggut karena Sueb tidak menahannya pulang atau meminta maaf ke dia, “Lotta pulang, kek." imbuhnya sambil mencium pucuk tangan kanan si kakek, lantas bergegas meninggalkan tempat ini.
Sueb memandangi kepergian cucunya dengan pandangan penush sesal.
“Lotta, maafin kakek ya. Kakek salah memanfaatkanmu.”
Sedangkan Lotta sudah berada di luar kantor polisi, segera saja menyeberang jalan hendak ke parkiran di RSCM, karena motornya di parkir di sana, tetapi karena hatinya masih jengkel hampir saja sebuah mobil jip Mercy menabraknya. Beruntung si pengemudi yang ternyata Kelvin cepat mengerem jip tersebut. Lantas sang dokter bergegas keluar dari mobilnya karena melihat yang hampir ditabraknya adalah gadis penakluk hatinya.
“Lotta!” terdengar seruannya ke Lotta yang sedang mengatur napas karena terkaget hampir ditabrak mobilnya, “Lotta!” dia cepat memegang kedua sisi lengan sang gadis, “Kamu tidak apa-apa? Adakah yang terkena mobilku?” dia mencemaskan gadis ini.
Lotta mulai stabil pernapasannya, terkaget melihat sang dokter.
“Kelvin?!”
“Iya aku Kelvin. Maaf aku tadi hampir menabrakmu.”
“Hais makanya kalau menyetir mobil konsentrasi.” Lotta menjitak sedikit kening Kelvin sambil diomelinnya sang dokter.
“Maaf Lotta, maaf.” Kelvin menghela napas, “Ayo kamu ikut aku sekarang.” Diraih salah satu tangan gadis ini.
“Ish ikut kemana?” Lotta cepat melepas pegangan tangan si dokter tersebut, “Aku mau pulang wat istirahat.” Imbuhnya.
“Ya sudah aku antar kamu pulang.”
“Ngga perlu.”
“Lotta, please, tadi kamu kabur dari aku, hanya meninggalkan sepucuk surat.”
Lotta terkesiap mendengar ini, lantas melihat beberapa warga sekitar mendekati mereka,
“Mbak.” Tegur salah satu warga, “Mbak tidak apa-apa?” tanyanya karena tadi melihat si gadis nyaris ditabrak mobil Kelvin.
“Ngga pa pa, Mas.” Sahut Lotta ramah, “Ah ya tolong kalian bawa orang ini ke kantor polisi ya, karena mengemudi tidak konsentrasi.” Ditunjuk Kelvin, “Biar orang ini dikasih pelajaran mengenai pentingnya konsentrasi saat mengemudi.” Imbuhnya segera meninggalkan sang dokter.
“Hais!” Kelvin terkesiap dengan yang dilakukan sang gadis, “Lotta tunggu!” jeritnya hendak menyusul si gadis tetapi dihalangi beberapa warga, “Lotta tunggu! Hais jangan perlakukan aku seperti ini! Lotta!” jeritnya merasa jengkel si gadis ternyata cerdik sekali lagi bisa melarikan diri dari dia.
+++
Dadan menutup pintu gerbang belakang setelah Lotta masuk dengan mengemudikan motor ke halaman belakang, baru setelah itu dia mendekati nona mudanya ini yang melepas helm dan jaket, diamati si nona yang tampak murung.
“Nona kenapa?” dia pun menjadi bertanya setelah melihat sang nona murung, “Apa ada yang tidak beres di tempat kerja?”
“Lotta tidak apa-apa paman, hanya letih.” Sahut Lotta seperti biasa tidak mau mengatakan bahwa hatinya sangat sedih sebab Sueb masih marah ke dia, lantas dia pun jengkel bertemu Kelvin pula.
Dadan menghela napas, lantas mengambil helm dan jaket dari tangan Lotta.
“Nona, ada tuan William di rumah.” Dia memberitahu ada William saat ini.
“Tuan William?” Lotta terheran mendengar ini, lantas segera menuju ke rumah.
Dadan menghela napas lagi karena sudah tahu mengapa William datang menantikan Lotta. Dia segera menyusul sang nona ke dalam rumah. Tampak di ruang keluarga, si nona dibawa William ke teras dalam, lantas duduk di kursi teras. Sedangkan Ruben mendekati Dadan.
“Dan,” ditegur Dadan, “Kamu bisa antarkan saya ke Koh Ahong?”
“Bisa, Tuan. Kapan anda hendak ke sana?”
“Sekarang juga, agar malam ini urusan hutang Tuan Sueb bisa selesai, sehingga tidak membebankan nona.”
“Baik, tuan.” Dadan paham, “Saya simpan dulu helm dan jaket ini ya.” Dia memamerkan helm dan jaket yang masih ditentengnya.
Sementara di teras, Lotta terlihat waspada karena feeling William hendak membicarakan sesuatu yang penting karena Ruben dan Dadan tidak ada bersama mereka.
“Lotta.”
“Saya, Tuan.”
“Kamu dari tempat kerjamu kah?”
Lotta terkesiap mendengar pertanyaan ini, merasa William mengetahui bahwa dia tidak dari kantor jasa ekspedisi milik Mirna.
“Lotta, mengapa kamu menerima tawaran untuk menjadi petinju wanita?” terdengar suara lagi William.
Dhuar, Lotta merasa dihantam granat mendengar pertanyaan William. Mengapa William bisa mengetahui prihal dia menerima tawaran menjadi petinju wanita.
William menghela napas, “Lotta, apa pun yang kamu kerjakan, saya pasti mendukung, selama itu murni keinginanmu. Namun jika karena sesuatu yang bukan keinginanmu, tentu saya mencaritahu mengapa itu bisa terjadi.”
Lotta kembali menggigit bibirnya, feeling William pun mengetahui mengapa dia menerima tawaran untuk menjadi petinju wanita.
“Tuan,” terdengar suara Lotta, “Apakah salah saya menerima tawaran tersebut? Tinju kan olahraga, bisa menghasilkan uang lebih baik daripada menjadi pengantar paket.”
William menghela napas, lantas, “Di mana kamu kehilangan perhiasan itu?”
Lotta mengernyitkan keningnya, mengapa William mengetahui mengenai perhiasan yang hilang.
“Sudahlah,” desau William pelan mengusap sayang kepala Lotta menyadari putri asuhnya enggan memberi jawaban, “Setelah makan malam, kamu dan Dadan ikut saya.”
“Ikut ke mana, Tuan?”
“Ke penthouse kamu.”
“Penthouse?!” Lotta terkaget mendengar ini, karena selama 23 tahun tidak pernah punya penthouse. Jangankan punya, datang ke room mewah itu saja tidak. “Lantas gimana sama jadi petinjunya, tuan? Lotta sudah bikin perjanjian ke,”
“Lupakan semua itu!” William menyela cepat dengan suara tegas, “Saya sudah minta polisi mencari perhiasan itu, paling tidak ketemu siapa yang mengambilnya. Setelah itu saya akan selesaikan masalah itu ke pimpinanmu.” imbuhnya, “Saya tidak mau kamu mengganti perhiasan itu dengan mempertaruhkan nyawamu bertarung tinju.”
+++
Kelvin masuk ke dalam IGD Dallas Hospital dengan wajah bersunggut-sunggut. Dia sangat kesal karena Lotta harus mendengarkan ceramah polisi lalu lintas di kantor polisi. Ingin rasanya sang dokter mengucel-ucel rambut di kepala si gadis, sudah memberinya virus cinta, eh tiap ketemu pasti sang gadis selalu bisa melarikan diri darinya. Lebih tidak enak, ditimpakan hal yang jelek pula, seperti tidak jadi makan tekwan, lantas sekarang diceramahin polisi lalu lintas.
Suster Dena yang melihat kedatangan Kelvin, cepat mencolek-colek lengan dokter Samuel.
“Dok, dokter, dokter!”
“Apa Dena?” sahut dokter Samuel yang asyik chatting sama dokter Sinta dokter spesialis jantung anak. Ceritanya dia sedang berusaha mendapatkan hati si dokter yang berstatus janda seksi. Dia sendiri duda keceh.
“Itu dok, itu.” Suster Dena menunjuk-nunjuk ke Kelvin yang menuju ruang kepala IGD, “Hais dokter ini.” Diambil ponsel dari tangan dokter Samuel, lantas mengetik sebaris pesan ke dokter Sinta, kemudian dipelototin sahabat Kelvin ini, “dokter, saat bertugas dilarang pacaran via chat ya.” Ujarnya tegas gemas.
“Lha kamu panggil saya hanya wat itu?” untungnya dokter Samuel tidak mudah tersinggung, sudah kebal dengan kelakukan suster Dena yang pemberani ini sekaligus konyol.
“Ngga.”
“Lantas tadi kamu itu, itu, ngapain?”
“Itu dokter Kelvin udah datang dengan wajah ful thunder strom.”
Dokter Samuel terkesiap mendengar ini, “Kelvin ful thunder strom?”
“Iya.”
“Hais ada apalagi sama anak ini.” Dokter Samuel bergegas berdiri sambil mengambil ponselnya dari tangan suster Dena, segera ke ruangannya.
Saat berada di dalam ruangan, tampak si sahabat meremat-remat kedua tangan dengan wajah jengkel.
“Vin.” Dia pun memanggil Kelvin sambil duduk di sofa tepat disebelah sahabatnya itu, “Loe kenapa?”
“Kesal.”
“Kesal kenapa?”
“Loe tahu ngga?”
“Ngga.”
“Gue lom kasih tau elo!” Kelvin mendengar ini menjadi sewot. Lha salah dia karena memang belum memberitahu apa pun ke sahabatnya, lantas bertanya apa si sahabat mengetahui apa yang terjadi sama dia saat ini.
“Ya kasih tahu sekarang.” Dokter Samuel menukas kesewotan pria ganteng itu dengan ekspresi wajah serius.
“Gadis itu,” Kelvin bicara dengan ekspesi gregetan, “Gadis itu sungguh mengesalkan!” serunya kesal sambil menonjok keras satu kepalan tangannya ke telapak tangan lainnya.
“Gadis yang mana, Vin?” dokter Samuel merasa heran mendengar perkataan sahabatnya, “Hais kenapa nanya itu? Sejak gagal nikah mank Kelvin ada ketemu gadis?” imbuhnya menyadari sang sahabat sejak gagal menikah mana bersama perempuan.
“Ada Sam, ada!” tukas Kelvin kesal, “Itu Lotta yang nolong gue dari begal!”
“Astaga loe benar!” dokter Samuel baru menyadari sahabatnya memang ada bertemu perempuan sejak gagal menikah yaitu Lotta, “Lotta yang bertengkar sama loe di Naga Mas?” tanyanya seolah meragukan kesadarannya itu.
“Iya!” sahut Kelvin judes bin sewot dengan suara agak tinggi, “Ish kenapa sih gue apes banget kenal dia gegara para begal itu!” imbuhnya mengecek-gecek kepalan tangannya di telapak tangannya yang lain.
“Emang tadi loe ketemu dia lagi di Naga Mas? Bukannya kata Peter, loe ke Esvanza Company, lantas kemari?”
“Iya.” Sahut Kelvin judes bin sewot lagi, “Bayangkan Sam, tadi di Naga Mas, dia kabur dari gue. Sekarang kabur lagi dari gue. Kesel kan gue.”
“I see.” Dokter Samuel paham, “Lantas sekarang ketemu di sana lagi?”
“Ngga, ketemu pas gue mau ke RSCM mengambil berkas rontgen Pak Slamet pasien gue di sana.”
“Hah?!” dokter Samuel terkejut, “Loe ketemu dia di sana? Dia sakit kah? Apa karena luka akibat fighting sama begal tempo hari? Hais kenapa loe ngga menolong dia? Aduh loe kelewatan Vin.”
Kelvin mendengar semua perkataan sahabatnya menjadi gregetan, dijitak sedikit kening sang sahabat,
“Dia sehat aja, Sam!” tukasnya kini memandang gemas dokter Samuel, “Gue ketemu dia saat menuju RSCM. Gue nyaris menabrak dia yang sedang menyeberang jalan.”
Dokter Samuel menyimak semua itu lantas menghembuskan napas lega, akhirnya meminta sahabatnya bercerita dari awal sampai akhir agar jelas mengapa si sahabat kesal sama Lotta. Setelah itu dijitak kening tuan ganteng itu sambil dipandang dengan gregetan.
“Bagus dia suruh warga bawa loe ke polisi wat diceramahin!” Terdengar suara sahabatnya itu, “Untung Lotta tidak tertabrak mobil. Coba kalau iya, apa loe ngga meratapi makam dia selama 7 turunan 7 tanjakan?” diomelin sang dokter.
“Sam, gue kesal karena dia menggunakan cara itu wat melarikan diri dari gue!”
Dokter Samuel terkesiap mendengar ini, lantas, “Kesian.”