Ternyata Kelvin membawa Lotta ke outlet pakaian wanita yang terkemuka di pusat perbelanjaan ini.
“Kelvin.” Lotta menghentikan langkah mereka sebelum memasuki outlet tersebut, “Kenapa kamu membawaku kemari?” tanyanya memandang si dokter yang melihat ke dia.
“Udah kamu ikut saja lah.” Kekeh sang dokter kembali memasang senyum termanisnya untuk Lotta, lantas membawa diri mereka masuk ke dalam outlet.
“Ah Tuan muda!” terdengar suara seorang perempuan yang sepertinya manager on duty di outlet ini, “Senang anda mampir ke outlet kami.” ujarnya ramah ke Kelvin.
“Makasih Rere.” Kelvin mengucapkan terima kasih ke perempuan itu yang bernama Rere. “Re, tolong kamu bawakan semua koleksi pakaian yang modis, casual, tetapi feminim, untuk nona ini.” Imbuhnya memberi tahu apa tujuannya kemari sambil melirik ke Lotta disisinya.
Rere melihat sejenak ke gadis itu, lantas tersenyum, seolah merasa sang gadis kekasih baru Kelvin.
“Baik Tuan muda.” Dia setuju dengan permintaan si dokter, “Silahkan anda ke private room untuk menanti kami membawakan apa yang anda pesan.”
“Thanks.” Kelvin kembali mengucapkan terima kasih, “Ah ya tolong minta messager memesan dua porsi tekwan dari restoran Naga Mas yang ada di lantai empat pusat perbelanjaan ini.”
“Baik Tuan Muda.”
“Pesankan juga dua gelas jeruk dingin, dan dua gelas air mineral.”
“Siap Tuan muda.”
“Pakai saja dulu uang kamu, nanti saya bayar berikut dengan belanjaan saya di outlet ini.”
“Siap Tuan Muda.”
“Makasih.” Kelvin tersenyum, lantas membawa Lotta ke private room outlet ini, tempat di mana para tamu super ekslusif semacam dia untuk berbelanja pakaian dengan tenang.
Lotta menghela napas merasa mimpi apa semalam karena ternyata Kelvin seolah seorang sultan, karena bisa dilayani selayaknya sultan di outlet bergengsi ini.
Mereka sampai di private room, lantas duduk berdampingan di sofa super nyaman. Keduanya tidak berbicara apa pun, hanya tangan Kelvin tetap merangkum jemari tangan Lotta.
‘Tuhanku,’ bisik hati Kelvin, ‘Ada apa sama aku saat ini? Bukan kah aku baru patah hati?’ dia kebingungan sendiri karena pada kenyataannya baru patah hati, lantas sekarang mabuk kepayang ke Lotta.
‘Mimpi kah aku bisa sedekat ini sama dewi penolongku yang pernah memukuliku dalam mimpiku? Ah meski saat aku bertemu tadi, dia galak banget ke aku. Namun aku tidak tersinggung sama sikap galaknya, malah gemas ke dia.’ Ocehnya sendiri sambil diam-diam melirik ke Lotta, ‘Hais kamu cantik sekali, Lotta.’ Dia merasa si gadis sangat cantik.
Lotta sadar Kelvin diam-diam meliriknya, tetapi dia tidak perdulikan itu. Pikirannya berkecamuk karena sang dokter membuatnya meninggalkan Dellon begitu saja, sedangkan dia masih terhutang perjanjian untuk menjadi petinju. Pelan dilepas tangan tuan ganteng ini dari tangannya,
“Ada apa Lotta?” Kelvin terkesiap Lotta melepas genggaman tangannya, cepat dia hendak meraih kembali, tetapi si gadis cepat menyembunyikan ke belakang punggung sang gadis, “Lotta!” desaunya seolah kecewa tidak bisa merasakan kehangatan diri si gadis dengan menggenggam jemari sang gadis.
“Kelvin, maaf, aku ke toilet dulu.”
“Aku antar kalau begitu.” Entah mengapa Kelvin feeling Lotta hendak melarikan diri darinya dengan cara itu.
“Tidak perlu, aku berani sendirian ke toilet.”
“Oke, tapi janji ya lekas kembali kemari, tidak melarikan diri dariku.” Kelvin memberi perintah tegas agar Lotta tidak melarikan diri darinya.
“Memang kalau aku melarikan diri darimu mengapa?”
“Oke kalau kamu lakukan itu, maka aku akan terus mengejarmu, kujamin pasti bisa kutangkap kamu.”
Lotta mengecurutkan bibirnya,
“Memang aku ini buronan kamu, hmm?”
“Anggap saja begitu.” Kekeh Kelvin dengan senyum geli di wajah melihat kekesalan Lotta mendengar perkataannya itu, “Sudah sana ke toilet.”
“Iyalah.” Lotta cepat berdiri, segera meninggalkan si dokter arogan yang saat ini sangat aneh sikapnya ke dia. ‘Maafkan aku, Kelvin.’ Bisik hatinya sambil sekilas melirik ke Kelvin yang ternyata mengawasinya.
+++
Dellon merasa senang melihat Lotta kembali ke pusat pelatihan tinju dengan selamat lahir batin.
“Lotta, akhirnya kamu kembali.”
“Iya saya kembali, tuan guru, karena saya sudah berjanji menjadi petinju wanita demi mengganti perhiasan yang hilang itu.” Terdengar sahutan Lotta sambil ngeloyor pergi menuju loker para atlet di sini.
Dellon menghela napas, merasa menyesal sudah membuat si gadis terpaksa mengikuti keinginannya untuk mendapat petinju berkemampuan super demi memenangkan setiap pertarungan di liga judi tinju.
Dia segera menyusul sang gadis, lantas terkesiap melihat gadis ini melepas kaos di badan, kemudian tampak tank top sports membalut kedua melon ranum. Dia juga terkesiap melihat Lotta melepas jeans panjang, kemudian tampak short pants sport membalut bagian bawah sampai ke pinggang si gadis. Membuat terlihat jelas keseluruhan bentuk tubuh si gadis yang bagai gitar Spanyol dengan hiasan sepasang melon ranum.
Pria ini menelan salivanya. Dia banyak bertemu gadis seksi semacam Lotta, tetapi entah mengapa merasa keseksian si gadis begitu membuatnya terpesona, mendebarkan hatinya yang tidak pernah tersentuh cinta.
“Ada apa, Tuan guru?” Lotta tersadar Dellon terdiam mengamatinya, lantas mengunci lokernya, kemudian dengan santai menyimpan kunci itu di dalam bra miliknya yang tersembunyi dibalik tank top sport.
Dellon melihat ini menelan saliva, andaikan dia adalah kunci tersebut, betapa nikmatnya berada di kedua melon ranum milik Lotta.
“Tuan guru!” terdengar suara Lotta sedikit lantang menegur Dellon yang masih khusyuk membayangkan menjadi kunci yang bersemayam nyaman di kedua melon miliknya, bahkan mendekati pria itu, dikeplak lengan adik Mirna tersebut, “Tuan guru!”
Dellon tersentak kaget, lantas memandang Lotta dengan kebingungan,
“I..iya Lotta?”
“Ayuk kita latihan lagi.”
“Latihan apa?”
“Astaga tuan guru! Latihan tinju.”
“Latihan tinju?” Dellon merasa aneh mendengar jawaban Lotta, “Latihan tinju gini?” dia sedikit memperagakan gerakan bertinju olahraga, “Atau tinju yang lain?” imbuhnya spontan saja menarik si gadis agar menempel dihadapannya, lantas ditatap mesra.
Lotta menjadi jengkel, segera menyikut perut Dellon dengan keras, membuat pria itu terjengkang jatuh ke lantai, lantas dipandang dengan galak,
“Tuan guru kalau nakal, maka perjanjian kita batal!” ujarnya berbicara tegas ke adik Mirna tersebut, “Selanjutnya anda akan berurusan dengan polisi karena berani nakal.”
Dellon menelan saliva, baru mengetahui bahwa Lotta perempuan yang berani membela kehormatan diri, lantas menghela napas,
“Iyalah aku tidak akan nakal lagi.” Dia setuju dengan permintaan tegas Lotta, “Dah yuk kita latihan tinju di tempat latihan.” Imbuhnya sambil berdiri, mendekati si gadis, “Lotta, maaf aku tadi nakal ke kamu.” Dia dengan sportif meminta maaf tidak sengaja menakalin sang gadis.
“Iya Lotta maafkan selama anda tidak mengulangnya lagi.”
+++
Kelvin duduk termenung sendirian di salah satu bangku teras depan kamarnya. Tampak pria ini murung karena Lotta berhasil melarikan diri darinya, hanya menitipkan sehelai pesan ke satpam outlet.
‘Lotta,’ bisik hatinya, ‘Mengapa kamu mengesalkan begini sih? Aku tulus ingin membuatmu senang. Lantas mengapa kamu melanggar perkataanmu yang tidak akan melarikan diri dariku hanya ke toilet saja?’ desaunya merasa kesal dan kecewa, tetapi kali ini tidak dilampiaskan dengan uring-uringan ke dokter Samuel atau ke Peter.
‘Sekarang aku kehilanganmu lagi.’ Dilanjutkan berbicara dalam hatinya, ‘Kemana aku mencarimu?’ tanyanya, lantas memejamkan kedua matanya, tidak lama terlihat olehnya saat bersama Lotta.
Meski pun saat tersebut dia dan si gadis bertengkar, tetapi dirasa indah baginya. Dia juga merasa tidak segan mengejar dan membuat nyaman sang gadis bersamanya. Bahkan dengan berani mengambil gadis tersebut dari Dellon.
‘Tuhanku,’ bisik hatinya, ‘Sebenarnya apa yang terjadi sama aku? Mengapa sejak bertemu gadis itu, aku terus memikirkannya. Lantas saat bertemu, kami bertengkar, tetapi bagiku itu indah, seperti pertengkaran sepasang manusia yang saling mencintai. Ketika dia meninggalkanku hanya dengan sehelai tulisan tangannya, aku merasa hampa.’
Dia pun membuka kedua matanya, lantas merogoh saku depan kemejanya, ditarik keluar sehelai kertas bertuliskan tangan Lotta, dibacanya lagi, kemudian mengusapi tulisan itu sambil membayangkan wajah cantik si gadis.
Sementara di lantai satu rumah ini, Emma pulang dengan wajah masam seperti rasa cuka. Setelah William mendatanginya, dia tidak mood melanjutkan pekerjaannya, memutuskan pulang.
“Emma!” terdengar suara Kalida menegur perempuan itu dari arah sofa di ruang keluarga demi mencegah jandanya Arman menaiki tangga.
Emma terpaksa memutar badan ke arah istri kakak iparnya itu yang setali tiga uang sama si kakak ipar yaitu tegas, cerdas, tetapi sayangnya mereka tidak punya keturunan sampai hari ini.
“Ada apa kak?” tanyanya ke Kalida yang tampak mengambil satu shopping bag dari atas meja lantas mendekatinya.
“Ini paket untukmu.” Kalida menyodorkan shopping bag itu ke adik ipar sang suami, “Tadi Mirna sendiri yang mengantar kemari.”
Emma terheran segera mengambil shopping bag itu lantas mengecek isinya. Dia segera tersadar memang memesan satu set perhiasan untuk dipakainya dalam pesta pernikahan Kelvin.
“Makasih kak.” Diucapkan terima kasih ke Kalida, “Kak, mengapa Mirna yang mengantarnya? Bukannya pengantar paket?”
“Dia bilang sudah memecat si pengantar paket karena perhiasan ini sempat hilang saat hendak mengantarnya kemari.”
“Perhiasan ini sempat hilang? Kok bisa adalagi?”
“Mana kakak tanya itu, bukan urusan kakak.” Sahut Kalida tegas, “Apa itu perhiasan yang kamu rencanakan pakai di pesta pernikahan Kelvin?”
Emma terkesiap diberi pertanyaan itu, lantas menghela napas, “Iya kak.”
“Kamu membelinya dari black card yang dari Will?”
Emma tersentak kaget dengan pertanyaan berikut, lantas menghela napas,
“Kak, kan kak Will sudah menyuruhku mempersiapkan semuanya, jadi,”
“Bisa membeli perhiasan mahal ini dengan black card darinya? Hei kamu ini selama 23 tahun mengelola Emalan Boutique apa tidak malu masih belanja barang mahal dengan black card itu? Lantas penghasilanmu dari bisnis itu untuk kamu foya-foyakan bersama teman-teman sosialitamu?”
Emma menelan saliva mendengar ini karena memang itu kenyataan yang terjadi selama 23 tahun, membuat Kalida kesal gedek. Kalida yang istri William diberi black card tidak pernah memanfaatkan untuk belanja barang mewah seperti perhiasan yang dipesan Emma tersebut. Kalau William menyuruhnya belanja, pasti dari uang sang suami, bukan dari black card.
Black card itu untuk hal-hal emergensi di luar uang jajan setiap bulan, bukan untuk dihamburkan belanja ini itu yang mewah. Meski William billionaire, dia ketat mengelola keuangan keluarga. Setiap bulan sudah diperhitungkannya dengan cermat. Dia pun hidup sederhana meski semua rumahnya dibangun super luxury dan mewah. Itu karena untuk simpanan masa depan sekiranya dia meninggal lebih dulu.
“Ah ya kak,” Emma terdengar suaranya, “Kak Will tidak pernah mempermasalahkan aku belanja barang mewah dengan balck card darinya karena semua tagihan dibayar dari penghasilan Arman’s Company milik suamiku.”
“Masih berani mengatakan perusahaan itu milik suamimu? Perusahaan itu sudah milik Will, dikelolanya untuk menghidupi bukan hanya kamu dan Kelvin saja, tetapi kita semua termasuk direksi dan staf yang bekerja untuk kita. Jadi kamu harusnya tau diri, dan menghargai kerja keras Will untuk tidak memakai black card diluar hal emergensi. Kalau kamu mau beli perhiasaan mahal ini, pakai dari penghasilan bisnismu itu, karena Will tidak mengambilnya dari kamu.”
“Cukup kak!” Emma sedikit naik pitam, “Aku sedang letih, tidak mood berdebat sama kakak. Aku tahu kakak cemburu karena Kak Will memanjakanku, sebab bisa membuat Kelvin menjadi anaknya.” Ujarnya lantas bergegas meninggalkan Kalida.
“Emma!” seru Kalida lantang, “Kelvin ada di rumah saat ini! Baiknya kamu temuin anakmu itu! Sejak kamu berhasil membuatnya gagal menikah, kamu sedikit pun tiada perduli sama dia!”
Emma mendengar ini terkesiap karena memang yang dikatakan Kalida benar. Bahkan dia sampai ditegur Castelo untuk menelpon Peter menanyakan kabar Kelvin yang beberapa waktu lalu pergi begitu saja setelah dari pernikahan Riana dan Jaka. Perempuan itu merasa tidak perlu membujuk si anak yang patah hati karena ada tugas yang lebih penting yaitu mengelola bisnisnya, lantas terus menemukan jejak Lotta kecil.
Dia segera ke kamar putranya ini demi menghargai Kalida yang selama 23 tahun berusaha membuatnya dekat dengan sang anak, meski kenyataannya si anak lengket ke Kalida. Kalida juga punya bisnis tetapi perempuan ini mengutamakan mengurus William dan Kelvin.
Dia pun sampai di dalam kamar si anak, melihat pintu teras terbuka, lantas ada putranya duduk termenung sendirian di sana. Segera saja dia mendekati.
“Kelvin!” ditegur si anak yang masih terlihat diam saja, “Kelvin Esvanza!” serunya lagi dengan suara sedikit lantang.
Namun Kelvin tidak merespon sedikit pun masih terlarut dalam alam pikirannya yang dijatuhkan Cupid dan Aprodithe ke dunia cinta.
Emma mengamati putranya ini merasa sudah terjadi sesuatu atas diri sang anak.
“Kelvin!” dipanggil kembali Kelvin, “Kelvin anak mama!” dia lantas sedikit mencubit lengan putranya itu.
Kelvin terkesiap terkena cubitan itu, segera mencari siapa yang mencubitnya, lantas menghela napas begitu menemukan Emma disisinya, buru-buru dikantungi surat dari Lotta ke dalam saku kemejanya.
“Ada apa, ma?”
Emma duduk di bangku lain, “Kamu tumben pulang siang. Apa tidak ada jadwal praktek atau bertugas di IGD? Apa masih sedih dikhianati Riana?”
“Mama sendiri tumben ada di rumah siang begini.” Kelvin balik memberi pertanyaan, “Vin sudah melupakan Riana, ma.” Imbuhnya mengatakan tidak lagi patah hati karena pengkhianatan Riana tersebut.
Emma terkesiap mendengar perkataan Kelvin, tersadar bahwa selama ini hampir tidak pernah ada di rumah saat siang hari. Dia sibuk mengelola butik, sambil merencanakan ini itu untuk menyingkirkan William agar si putra menjadi presdir Dallas Company dan Loani Company.
“Tadi ada Mirna minta bertemu mama di rumah.” Terdengar suara Emma memberikan jawaban, padahal yang bertemu Mirna adalah Kalida.
“Mirna teman sosialita mama?”
“Bukan. Mirna pemilik outlet perhiasan terkemuka di Jakarta, Singapura, dan Perth.”
“Mama mau pesan perhiasan lagi? Apa perhiasan-perhiasan mama sudah usang?”
“Kelvin, mama ini pesan perhiasan untuk dipakai di pesta pernikahanmu itu.”
Kelvin terkesiap mendengar ini, lantas tersenyum sinis,
“Perasaan tante Kalida yang menjadi wali dalam acara itu tidak ada memesan perhiasan. Mengapa mama yang hanya hadir sebagai pelengkap orang tua Kelvin memesan perhiasan? Apa semua perhiasan mama tidak ada yang cocok untuk gaun mama itu?”
“Hais anak ini menyamakan ibunya dengan tantenya.” Emma merasa tersinggung dengan perkataan Kelvin, “Hais sudahlah mengenai itu tidak usah kita bahas. Mama pusing mendengarnya.”
“Jelas mama pusing karena untuk kesekian kali kena tegur dari tante Kalida karena memakai seenaknya black card dari om Will.”
“Dari mana kamu tahu Kak Kalida menegur mama?”
“Pasti beliau melihat mama menemui Mirna itu, lantas segera menegur mama karena ternyata Mirna mengantarkan perhiasan yang mama beli dengan black card itu.”
Emma sedikit lega mendengar jawaban Kelvin, berarti kebohongannya tadi aman.
Kelvin menghela napas, lantas berdiri,
“Vin berangkat dulu ke Dallas Hospital, mam.” Dia segera berpamitan ke sang ibu lantas dicium sayang kedua pipi ibundanya ini, kemudian bergegas pergi.
Emma melihat kepergian itu dengan kesal, merasa hari ini dibikin kesal sama William, Kalida, dan Kelvin.
‘Awas kamu William, Kalida,satu saat aku balas semua perlakuan kalian itu.’