*** Pergi dengan perasaan dongkol dari ruangan kerja Prabu, Alaska masuk ke ruangannya. Membanting lalu mengunci pintu, dia menghempaskan tubuhnya di sofa. Meredam emosi, Alaska mengatur deru napasnya hingga setelah beberapa detik berlalu, helaan napas kasar terdengar. "Papi selalu bilang kalau apa pun yang dia lakuin, semuanya demi gue," ucap Alaska—bermonolog. "Padahal semuanya demi dia sendiri. Egois. Yang Papi pikirin cuman dirinya tanpa peduli gimana gue dan apa yang bikin gue nyaman." Terus bergerutu, itulah Alaska hingga ucapan Prabu tentang Skayara, melintas di benaknya tanpa permisi. Tidak diam saja, dengan perasaan yang tiba-tiba saja berdebar, dia menghubungi sang mantan bodyguard. Namun, hingga beberapa detik berlalu panggilannya pada Skayara tidak terhubung. Tidak menyera

