*** "Bi Lina." Pukul dua siang—di tengah kegiatan Skayara beristirahat, sebuah panggilan masuk. Bukan berasal dari orang lain, yang meneleponnya adalah Lina—sang bibi yang sudah dua hari tidak menelepon. Setelah diusir bahkan dimintai uang tiga puluh juta untuk mengganti biaya hidup, Skayara sebenarnya malas menjawab telepon. Namun, karena sisi baik di dalam hatinya tidak bisa diabaikan, dia tetap menggeser gambar gagang telepon berwarna hijau di layar. "Halo, Bi," sapa Skayara, setelah panggilan terhubung. "Skay, kamu di mana?" tanya Lina. "Bibi dengar kamu masuk rumah sakit. Itu benar?" Skayara mengerutkan kening. "Iya," ucapnya. "Bibi tahu darimana?" "Tahu aja," kata Lina—membuat Skayara heran. "Gimana kondisi kamu sekarang? Udah baikan?" Semakin heran, itulah yang Skayara rasak

