Embun menetes pelan di balik cendela besar, cahaya lembut menembus tirai kamar rawat bocah kecil berumur tiga tahunan. Cahaya keemasan itu membias di dinding, menyapu wajah Sekar yang baru saja terbangun dari lelapnya dan bocah kecil yang masih terpejam. Aroma antiseptik yang khas rumah sakit menyeruak, berpadu dengan dingin pendingin ruangan. Tubuhnya terasa berat, namun pandangan matanya segera tertumbuk pada pemandangan yang membuat dadanya sesak tanpa tahu alasannya. Raka. Pria itu tertidur di kursi, kepalanya bersandar di tepi ranjang pasien kecil itu — Rana, putra mereka. Lengan kokohnya terulur, seolah memastikan tubuh kecil itu tetap berada dalam jangkauannya. Rambut hitamnya sedikit berantakan, wajahnya yang biasanya tegas kini terlihat damai. Sekilas, lelaki itu tampak seperti

