Suara air menghantam lantai kamar mandi markas, memantul di antara dinding beton yang dingin. Bau anyir dari darah milik Bagas yang baru saja dia bersihkan masih samar di udara. Raka berdiri di bawah pancuran, membiarkan air mengalir deras menuruni tubuhnya, menelusuri lekuk otot yang menegang karena amarah. Setetes air menuruni garis rahang tajamnya, jatuh ke d**a bidang yang naik turun dengan berat. Bahunya yang lebar tampak memantulkan kilau air, dan di punggungnya melewati tato hitam besar berbentuk sayap mekanik, setengah rusak di sisi kanan. Air itu juga turuh ke bawah, di mana tayo yang ada di pinggang dan perut sebelah kanan. Memang untuk menutupi bekas luka yang ada di sana. Sisa dari kecelakaan empat tahun lalu. Luka itu bukan sekadar goresan di tubuhnya — tapi pengingat akan

