59

1283 Kata

Lampu neon redup berpendar samar di ruangan bawah tanah itu. Bau logam, debu, dan darah yang mengering bercampur jadi satu. Ruang interogasi milik Raka Raksadana—tempat di mana setiap pengkhianat berakhir dengan satu kata yaitu hancur. Bagas tergeletak di lantai tanpa alas dengan tangan terborgol, luka tembak di lengannya dan juga betianya, entah bagaimana kondisinya. Mengering atau malah membusuk? Raka tak ingin ambil pusing. Bahkan sepertinya kurang bukan? Napas Bagas terdengar berat, dadanya naik turun cepat. Pintu besi berat itu berderit terbuka. Dua langkah sepatu kulit menjejak lantai pelan—berat, tenang, tapi seakan mengandung ancaman. Raka muncul. Jas hitamnya masih terpakai, tapi dasinya sudah longgar. Wajahnya yang datar, tanpa memperlihatkan kemarahannya yang sangat ingin dia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN