Cahaya redup dari lampu di kamar rawat itu jatuh lembut di wajah Sekar. Ia duduk di kursi kecil di samping ranjang rumah sakit, jari-jarinya tak berhenti membelai rambut halus di dahi Rana yang masih terbaring lemah. Suara detak monitor medis terdengar pelan—ritmis tapi menyesakkan d**a Raka. Dari ambang pintu, Raka berdiri mematung. Pandangan matanya kosong, namun di dalamnya berputar ribuan emosi—rasa bersalah, rindu, dan keinginan untuk sekadar menyentuh istrinya, menghapus jarak yang kini terasa lebih dingin daripada ruang ICU itu sendiri. Rana… anak itu sudah melewati masa kritis. Tapi luka di pundaknya masih terbalut perban tebal, dan tubuh mungilnya belum juga sadar penuh. Ia lebih banyak tidur, seolah lelah menanggung semuanya. Raka menarik napas dalam. Hingga pesan dari Willia

