Mobil itu melaju di waktu malam dengan kecepatan yang membuat jarum spidometer hampir menembus batas. Raka memutar kemudi tajam, melewati tikungan sempit dan jalan berlubang tanpa peduli pada suara klakson dari mobil lain. Nafasnya berat, rahangnya mengeras, dan tatapan matanya memantul dari kaca spion ke arah kursi belakang—ke arah Sekar yang tengah memeluk tubuh kecil Rana yang semakin lemah. “Rana, sayang... buka mata, Nak. Mama di sini,” suara Sekar pecah, tangannya terus menekan luka di pundak anaknya. Darah sudah menembus seragam sekolahnya, menodai hingga seragam warna kuning itu berubah menjadi merah. “Jangan tidur, sayang. Dengar suara mama, ya? Lihat mama, Nak... lihat mama.” Sekar menggigil, tubuhnya kaku di antara tangis dan ketakutan. Rana yang pucat hanya mengeluarkan guma

