56

1437 Kata

Lorong rumah sakit malam hari itu sunyi, hanya diisi suara langkah pelan dan deru mesin pendingin yang monoton. Lampu neon di atas kepala berkelip samar, menyoroti sosok pria dengan wajah letih, kulit pucat, dan lengan yang masih dibalut perban bekas jarum transfusi. Raka berjalan pelan—setiap langkah terasa berat. Bukan karena kelelahan fisik, tapi karena beban yang menggunung di dadanya. Setelah semua yang terjadi pada dirinya, istrinya dan terutama pada putranya. Dari kejauhan, ia melihat Sekar. Wanita yang empat tahun terakhir ia cintai dalam diam, dia seret dalam obsesi terpendamnya sebagai orang lain—dalam bayang kematian palsunya—duduk di kursi tunggu dengan wajah kosong. Air matanya sudah kering, tapi sorot matanya… masih sama seperti beberapa waktu lalu ia dihadapkan dalam keka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN