Gudang itu sunyi, hanya suara tetesan air dari atap bocor yang memecah keheningan. Bau karat bercampur debu menusuk hidung. Lampu-lampu redup menggantung, sebagian berkedip tak stabil, memberi nuansa menyeramkan pada ruangan kosong yang luas itu. Langkah Sekar bergema di lantai semen, perlahan namun tegas. Gaunnya berayun pelan, sementara jantungnya berdegup tak karuan. Ia tahu Raka menunggu di luar, tapi rasa cemas pada Rana membuat tubuhnya hampir gemetar. Dari kegelapan, muncul sosok Bagas. Wajahnya pucat tertimpa cahaya lampu redup, senyumnya mengembang lebar penuh obsesi. Kedua tangannya direntangkan seolah ingin menyambut seseorang yang sangat ia rindukan. “Akhirnya…” suaranya bariton, serak penuh ambisi. “Akhirnya adik iparku yang cantik ini mau mengunjungiku.” Sekar menahan nap

