Raka duduk di kursi belakang mobil hitam yang terparkir tak jauh dari pintu masuk sebuah bangunan yang nampak seperti gudang terbangkalai. Matanya tak pernah lepas dari layar kecil yang terhubung dengan alat penyadap yang ia selipkan di kalaung Sekar. Hadiah yang dia berikan saat mereka menikah. Setiap detik suara Bagas terdengar jelas di telinganya. “...kau ingin lihat Rana bukan? Aah, dia nanti akan jadi putraku.” Gigi Raka bergemeletuk, rahangnya mengeras. Suara itu bagai memantik bara yang selama ini ia tahan. Urat di tangannya menonjol, jemarinya mengepal begitu kuat hingga bunyi berderak terdengar dari persendian. “Berani kau...” gumamnya rendah, hampir seperti geraman binatang buas yang ditahan di dalam kandang. Dari earbud-nya, suara Sekar terdengar penuh penolakan. “Kau gila!”

