Sudah seminggu lebih sejak Rana diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Anak kecil itu kini kembali ceria, memenuhi setiap sudut mansion Raksadana dengan tawa dan rengekannya. Namun, bagi Raka dan Sekar, seminggu itu terasa seperti keseimbangan yang rapuh—tenang di permukaan, tapi menyimpan bara yang setiap saat bisa menyala. Terlebih lagi Sekar yang tak jarang seakan memberi jarak di antara mereka. Meski Sekar sudah mengetahui sebab yang terjadi di empat tahun lalu. Mereka masih tinggal di kamar yang sama, masih berbagi meja makan, masih berbagi pandangan di ruang tengah setiap malam. Tapi selalu ada jarak tak kasat mata yang mengambang di antara mereka. Sekar memang sudah mulai menerima, mulai mencoba memaafkan. Ia bahkan tak jarang keliru memanggil nama suaminya. Terkadang “Mas Adyatm

