Uap hangat masih menari di antara mereka. Air yang jatuh dari pancuran terasa bagai tirai tipis yang memisahkan dunia luar dan ruang kecil di mana hanya ada mereka berdua — Raka dan Sekar. Sekar masih berusaha menahan napas, tapi tubuhnya bergetar bukan karena dingin. Sentuhan tangan Raka di pinggangnya terasa familiar… seperti sesuatu yang pernah hilang, lalu tiba-tiba kembali, lengkap dengan semua luka yang mengiringinya. “Mas…” bisiknya lirih, nyaris tenggelam oleh suara air. Ada guncangan dalam suaranya — antara marah, rindu, dan takut kehilangan. Tubuhnya semakin menegang dan lemas disaat yang bersamaan. Namun semua itu seakan tersamarkan oleh kenikmatan yang Raka berikan padanya. Remasan lembut antara d**a dan pinggangnya, Raka berikan seolah dirinya ingin mengukir kembali empat t

