66

2059 Kata

Uap hangat masih menari di antara mereka. Air yang jatuh dari pancuran terasa bagai tirai tipis yang memisahkan dunia luar dan ruang kecil di mana hanya ada mereka berdua — Raka dan Sekar. Sekar masih berusaha menahan napas, tapi tubuhnya bergetar bukan karena dingin. Sentuhan tangan Raka di pinggangnya terasa familiar… seperti sesuatu yang pernah hilang, lalu tiba-tiba kembali, lengkap dengan semua luka yang mengiringinya. “Mas…” bisiknya lirih, nyaris tenggelam oleh suara air. Ada guncangan dalam suaranya — antara marah, rindu, dan takut kehilangan. Tubuhnya semakin menegang dan lemas disaat yang bersamaan. Namun semua itu seakan tersamarkan oleh kenikmatan yang Raka berikan padanya. Remasan lembut antara d**a dan pinggangnya, Raka berikan seolah dirinya ingin mengukir kembali empat t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN