Sekar mengusap sisa remah kue di sudut bibir putranya, lalu mengecup pelan kening Rana yang kini mulai kembali terlelap. Setelah memastikan selang infus dan posisi bahu kecil itu tak terganggu, ia berdiri perlahan. Pandangannya beralih pada sosok di sofa — Raka — yang tengah duduk santai sambil memijat pelipisnya. Tatapan Sekar mengeras. Tubuh itu penuh luka, tapi entah kenapa lelaki itu tetap bisa bertingkah pongah seolah semuanya baik-baik saja. Langkah Sekar menghampiri tanpa suara, lalu berhenti tepat di depannya. “Buka bajunya,” ucap Sekar datar. Raka mendongak pelan. Alisnya bertaut. “Hah?” Respon itu membuktikan jika dirinya benar-benar tidak siap dengan perintah semacam itu. Sekar menatapnya tajam, kedua tangan terlipat di d**a. “Buka bajunya, Mas budeg?” Nada ketusnya membuat

