BAB 1 Hampir dilecehkan
“Apa? Dijodohkan?” Ami mendengar secara langsung perjodohan yang direncanakan oleh Om Marcel, ayah Rama, yang merupakan pacar Ami, perjodohan antara Rama dengan Gauri, anak teman bisnisnya.
'Tidak mungkin' gerutu Ami sendiri.
Bagaimana mungkin Rama berani melamarnya jika sebenarnya dia justru telah dijodohkan oleh orang tuanya dengan wanita lain.
Ami adalah gadis mandiri yang tangguh. Bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan ekspor impor. Ia kebetulan sedang menemani bosnya menemui kliennya di sebuah restaurant bernuansa Jepang. Perusahaan tempatnya bekerja memang perusahaan yang juga bergerak dibidang yang sama dengan Rama, sang pacar yang 2 bulan lalu sudah melamarnya di hadapan ayahnya.
Pekerjaannya hari ini, justru mengantarkannya pada kenyataan bahwa sang calon suami, Rama, telah dijodohkan oleh orang tuanya dengan gadis lain.
“Apakah kalian sudah menanyakannya pada Rama, Yaya?” Ibunda Gauri yang masih memancarkan aura kecantikan itu bertanya dengan penuh penekanan.
“Rama selalu setuju apapun kata kami, Iya kan Pa?” mendengar kata-kata itu, Ami langsung merasakan sesak di d**a.
Om Marcel adalah relasi besar tempat Ami bekerja dan memang selama berpacaran dengan Rama, Ami belum pernah bertemu langsung dengan orang tua Rama, sang calon mertua. Hal itu dilakukannya karena selama ini jarak mereka berjauhan. Rama bekerja di Bali dan Ami menyelesaikan studinya di Jakarta. Saat Ami sudah bekerja sejak beberapa bulan di perusahaan Galang, sang Bos, Rama memang belum pernah mengajak Ami ke rumah keluarganya. Hal ini karena kesibukan masing-masing dan tentu saja ada alasan tersendiri bagi Rama.
“Iya, mama tau semua tentang Rama” sambung ayah Rama, Om Marcel.
“Lalu bagaimana denganmu, nak Gauri?” tanya Om Marcel pada Gauri.
“Saya terserah mama dan papa juga Mas Rama, Om, dan Saya perlu bicara dengan Mas Rama” Gauri memang terbiasa memanggil Rama dengan sebutan mas. Hal ini karena Gauri sudah sering bersama dengan Rama sejak kecil.
Rencana perjodohan ini memang sudah lama berhembus, namun Rama berkali-kali mengatakan kepada Gauri bahwa dia hanya menganggap Gauri sebagai adiknya dan ia sudah memiliki kekasih. Namun Gauri yang memang sudah terpikat dengan Rama sejak dahulu, berfikir terlalu egois bahwa dia kali ini tidak akan mengalah, karena hatinya ternyata sangat menginginkan Rama.
“Kalau begitu tinggal menunggu Rama saja” kata Marchel, ayah Rama.
Gauri sebenarnya sudah mengenal Ami, dia pernah melihat Rama membawanya saat makan siang di kantor. Namun Gauri memilih berpura-pura tidak kenal. Hal ini agar dia tidak merasa bersalah terlalu dalam kepada Ami, karena kali ini dia akan merebut lelaki itu dari Ami.
Hati Ami rasanya remuk, bagaimana tidak? Rama bahkan telah melamarnya secara langsung kepada orang tuanya, walaupun belum membawa serta orang tua Rama. Lamaran itu bahkan sudah membicarakan tanggal resmi lamaran dengan orang tua, tinggal seminggu lagi harusnya Rama datang bersama orang tuanya untuk melamar kembali secara resmi. Kini, sepertinya semuanya tinggal harapan saja atau mungkin hanya tinggal kenangan. Ami menunggu kelanjutan cerita kisah cintanya.
Seminggu telah berlalu, Rama tak kunjung datang dan Ami menyibukkan diri dengan pekerjaan. Gurat kegagalan berkali-kali kembali muncul dalam benaknya, 6 tahun merajut kasih dengan Dirga dan berakhir dengan kegagalan kemudian lebih dari dua tahun bersama Rama, apakah akan berakhir juga?. Pikiran-pikiran seperti itulah yang muncul dalam benak Ami.
Rama pun tidak bisa dihubungi, dan nomor ponselnya tidak aktif. Sebuah notifikasi pesan memang sudah muncul yang mengatakan bahwa Rama sedang mengurus proyek besar di Lombok.
“Arghhhh” Ami membuang cincin berlian yang diberikan Rama untuknya saat lamaran pertamanya itu. Ami sangat kesal.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya di sebuah restaurant tempat mereka bertemu dengan relasi bosnya, Ami memilih pulang terlebih dahulu dan kembali ke kantornya. Dia sangat terpukul dan menghabiskan banyak waktunya di ruangan sempitnya dengan sangat kesal.
“Baiklah Rama, kali ini aku tidak akan menyesal. Bye” Ami sekali lagi merobek foto mereka yang terpajang di meja kerja Ami. Lalu membuangnya ke dalam tempat sampah yang berada dekat dengan meja kerjanya.
Ami sangat menyesali beberapa tahun waktunya yang terbuang percuma, merencanakan pernikahan, namun justru kegagalan dan kegagalan yang harus di dapatnya. Semua ini lagi-lagi karena mereka berjauhan, hingga semua ini terjadi. Entah karena miskomunikasi atau memang ada rahasia dalam hubungan mereka yang Ami belum ketahui.
Hari ini Ami pulang terlaru larut, hal ini karena dia yang terlalu menghayati rasa sakitnya karena kebohongan Rama, kemudian dia juga yang menyadari bahwa keluarga Rama ternyata tidak mengetahui Ami sebagai kekasih Rama dan kemungkinan terbesar adalah walaupun Rama memaksa menikah dengan Ami, maka orang tuanya pasti tidak menyukainya sebagai menantunya itu.
Dalam kesibukannya setelah membereskan semua urusannya hari ini, Amipun pulang. Namun Ami mengalami sebuah kejadian yang mengerikan. Ia merasa di ikuti oleh beberapa orang sejak keluar dari kantor tempatnya bekerja, walaupun Ami tetap berusaha bersikap tenang. Benar saja, dia mengalami kejadian yang sangat tidak menyenangkan, hampir saja ia dilecehkan oleh pria tak di kenal dalam sebuah perjalanannya pulang dari kantor. Jika saja tidak ada pria tampan yang menolongnya.
“Lepaskan aku. Lepas” sarkasnya kepada pria yang tak dikenal itu.
“Kamu ingin menggagalkan perjodohan adikku kan? Maka sebelum itu kamu harus merasakan deritanya” lelaki itu langsung menarik tangan Ami dengan kasar, merobek bajunya hingga menampilkan gundukan yang lembut. Ami ketakutan namun di malam yang gelap itu tidak akan ada yang mendengar teriakannya. Ami menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi benda sensitifnya itu.
“Ya Allah, hanya kau penolongku. Ibuku di surga, tolong anakmu” rintih Ami dalam hatinya. Kali ini air matanya membasahi pipinya dan tidak bisa di bayangkan ketakutan yang Ami rasakan karena lelaki itu memandangnya dengan buas dan kasar.
Matanya merah dan pandangannya yang sangat menakutkan, membuat Ami hanya bisa menangis. Ia merasa hidupnya malam ini mungkin saja akan hancur.
“Tolong, jangan sakiti aku. Tolong” pinta Ami padanya.
“Apa? Menolongmu? Lalu apa imbalannya?” kata-katanya menakutkan Ami.
“Apapun itu? Tapi tidak dengan kehormatanku” secepatnya Ami mundur ketika wajah lelaki itu sudah sangat dekat dengan dirinya.
“Bulshit dengan kehormatan. Aku tidak perduli, yang aku inginkan kau bisa menepati janjimu untuk membiarkan Rama dengan Gauri. Aku ingin kau menjauhinya” teriaknya di samping telinga Ami dengan keras, hingga membuat Ami merasakan dengung yang menyakitkan.
“Ba baiklah, akan aku lakukan” jawabnya dengan helaan nafas dan tentu saja dengan sedikit rasa takut. Bibirnya gemetar dan pandangannya penuh dengan ketakutan.