“Bagus, ternyata kau gadis yang menyenangkan. Akan lebih menyenangkan jika aku sedikit saja menikmati tubuh indahmu ini” secepat kilat dia menarik kembali tangan Ami kemudian mulutnya dengan kasar membungkam kasar mulut Ami hingga ia tidak bisa bernafas.
Ami menangis dan sesekali keluar teriakannya meminta tolong saat lelaki itu bernafas maka Amipun memiliki kesempatan untuk bernafas, namun Ami memilih untuk berteriak.
Kali ini lelaki itu menarik tangan Ami yang menutupi bagian d**a yang sudah tidak tertutupi baju, hanya bra hitamnya yang tertempel di sana. Ami sangat frustasi hingga berteriak dan bersiap berlari namun kakinya tersandung hingga terjatuh. Ami yang ketakutan itu berusaha berlari namun kemudian kakinya sudah ditarik lagi oleh lelaki bertubuh besar itu.
Tiba-tiba saja bayangan lain datang mendekatinya.
Plak.. bugghhh
Ternyata ada seorang lelaki yang kini memukul pria yang sedang berusaha kembali untuk mencumbui Ami dengan kasar itu. Ia menarik lelaki itu dan kembali memukulnya bertubi-tubi.
“Beraninya sama perempuan, kamu menyakiti orang yang tidak ada urusannya dengan kamu. Pergi sana” sembari memukul pria itu hingga terjatuh lagi.
Ami menutupi gundukan yang sudah terekspos karena bajunya sobek. Ia menundukkan pandangannya karena ketakutan, ia takut lelaki ini justru akan memanfaatkannya.
“Jangan takut. Bara. Kenalkan aku Bara” Bara mendudukkan dirinya di samping Ami dan kemudian melepaskan jaketnya serta memakaikannya kepada Ami agar sesuatu yang terekspos itu bisa tertutupi.
“A A Aku Ami” kemudian mengangkat wajahnya. Bara terkejut melihat sosok wanita yang ditolongnya ini. Dia kemudian meyakinkan dirinya bahwa wanita ini adalah sosok yang ia cari selama ini.
“Ami? benarkan itu kau? Amiku?” Bara memegang pipi tembem Ami dan melihatnya dengan detail wajah cantik Ami serta langsung memeluk Ami yang masih ketakutan.
“Kamu? Apakah aku mengenalmu?” Ami tampak bingung dengan perlakuan tiba-tiba dari Bara. Perlakuan yang lembut, menenangkan dan juga penuh perlindungan.
“Aku Bara, kakak kelas kamu sewaktu kita SMP dan SMA. Kamu ingat?” Ami tampak kebingungan melihat Bara, ia mencoba mengingat namun nihil, dia tidak mengingat apapun tentang lelaki ini.
"Siapa?" tanya Ami masih dalam kebingungan.
“Maaf kak, aku tidak ingat. Apa benar aku kenal kamu?” Ami hanya menenggelamkan wajahnya di antara lututnya karena dia masih ketakutan dengan kejadian yang baru saja menimpanya itu.
“Wajarlah kamu tidak ingat, aku terlalu mengagumi kamu. Kamu juga selalu dijaga ketat oleh Dirga, pacar kamu itu” dia menarik nafas perlahan. Ami tidak terlalu mendengarkan ocehan Bara, dia masih tenggelam dengan ketakutannya saat ini.
“Bagaimana kabar Dirga sekarang, kalian masih ada hubungan atau?” Bara mencoba mencairkan suasana takut dan tegang yang masih dirasakan oleh Ami.
“Hah? Kamu tau hubunganku dengan Dirga?” raut kebingungan masih ada di wajah cantik Ami.
“Tentu saja Mi, aku penggemarmu. Suer” sambil mengangkat kedua jari tangannya saat melihat ekspresi tidak percaya yang ditampilkan oleh Ami.
“Kami sudah putus, dia sudah nikah dengan wanita lain” Ami terlihat sangat sedih namun tetap tegar.
“Maaf, padahal kalian pacarannya dah lama banget trus terlihat sangat serasi” Bara kembali melanjutkan kata-katanya, namun kali ini semakin pelan dan nyaris tak terdengar. Bara kemudian mendudukkan dirinya di samping Ami agar suasana terlihat lebih santai dan Ami bisa perlahan keluar dari suasana ketakutan setelah melewati kejadian tadi.
“Nggak jodoh kak” sambil kemudian memperhatikan dengan lebih teliti wajah Bara, sosok yang sudah menyelamatkan dirinya.
“Pacar kamu sekarang?” tanyanya lagi. Sambil menatap lurus ke depan. Dia tidak ingin melihat ekspresi yang akan ditampilkan oleh Ami karena pertanyaan konyol darinya.
“Rama, kakak kelasku beberapa tahun. Tapi dia sedang sibuk banget di Lombok” Kata Ami menjelaskan. Walau tidak berharap bahwa pria penolong ini akan mengenal pacarnya, setidaknya dia sudah menjawab dengan apa adanya.
“Rama yang jadi CEO itu?” tekannya lagi.
“kak Bara kenal?” Ami menjadi bersemangat. Bara mengangguk dan kemudian menarik nafasnya perlahan.
“Maaf Mi, apa kamu tau siapa Rama? Keluarganya misalnya?” Bara bertanya lagi.
“Tidak banyak tau kak, hanya dia yang mengenal keluargaku, aku tidak” jawab Ami perlahan.
“Hmmmm, baiklah, kamu hanya perlu tau lagi tentang keluarganya” Ami mengangguk, dan Ami mulai menaruh curiga bahwa mungkin Bara tau tentang perjodohan itu, perjodohan antara pacarnya dengan wanita lain. Amipun tidak mau bertanya lebih dalam lagi, dia hanya ingin menanyakannya langsung pada Rama.
Masih dalam perbincangan yang hangat setelah kejadian itu, Bara kemudian berinisiatif mengantarkan Ami pulang ke rumahnya. Dengan mengendarai mobil HRV berwarna hitam, Bara mengajak Ami memasuki mobil itu dan membawanya pergi dari tempat itu. Ami tampak sudah tidak terlalu canggung dengan Bara, bahkan diam-diam dia memperhatikan wajah tampan pria itu saat mengendarai mobilnya. Bara juga seperti itu, melirik ke arah samping dimana wanita itu juga memperhatikannya.
"Terimakasih sudah mengantarkan aku pulang" ucap Ami pada Bara.
"Sama-sama, jangan lupa segera tidur"
"Tentu"
Bara memang hanya mengantarkan Ami hanya sampai di pintu gerbang rumahnya, belum ada keberanian untuk masuk ke dalam rumah Ami, dia akan menyusun strategi dulu untuk bisa mendapatkan sepenuhnya hati Ami juga keluarganya terutama ayah dan ibunya.
"Assalamualaikum" Ami masuk ke dalam rumah dan mendapati ibu dan ayahnya sedang duduk di kursi ruang tamu.
"Walaikumsalam" sahut mereka berdua.
"Dengan siapa?" tanya sang ayah dengan menatap tajam ke arah manik hitam milik Ami.
"Bara, yah"
"Siapa lagi, Bara? Ami, setidaknya kamu bisa mikir jika pulang dengan laki-laki lain?"
"Ayah, itu tidak seperti yang ayah pikirkan"
"Maksud kamu?" teriak ayahnya.
"Bara hanya menolongku yah, dari orang jahat"
"Kamu terlalu banyak berbohong, Ami. Jangan buat ayah bersikap kasar pada kamu dan sekarang cepat masuk ke dalam"
"Iya ayah"
Ami segera berjalan menuju kamarnya dan ingin segera beristirahat. Apa yang telah di laluinya beberapa hari ini membuatnya sangat lelah dan tidak bisa berfikir jernih. Dia butuh seseorang yang mampu menenangkannya, harusnya Rama sebagai sang pacar yang hadir dan menjadi tempatnya berbagi sedih, saat dia benar-benar terpuruk. Namun, lagi-lagi nomor Rama tidak bisa di hubungi dan alasan pekerjaannya yang berada di daerah dengan akses jaringan yang sulit di jangkau membuatnya harus memendam sendirian kekacauan yang di rasakannya.
"Ayah, jangan terlalu keras sama Ami, dia sudah besar yah" tegur sang ibu pada ayah Ami.
"Tapi ma, Ami harus di berikan lagi pemahaman karena menjaga nama baik lebih sulit daripada menjaga diri" jelas sang ayah, kemudian kembali fokus pada layar televisi yang ada di depan mereka. Tidak ingin suasana menjadi tidak baik, wanita itu memilih menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, agar ketegangan yang terjadi bisa mencair. Dia berfikir, besok akan berusaha memberikan pengertian kepada putri sambungnya itu.
Seminggu berlalu dari kejadian itu, mereka semakin dekat dan nyaman. Menghilangnya kabar dari Rama membuat Ami semakin nyaman bersama Bara. Apalagi saat ini Bara langsung menyampaikan niatnya kepada orang tua Ami untuk melamarnya.
Ami yang sudah sangat muak dengan hubungan pacaran yang selalu berakhir, memutuskan menerima ajakan Bara untuk segera menikah. Ami merasa inilah saat yang tepat baginya untuk bangkit kembali setelah selalu gagal dalam membina sebuah hubungan. Akhirnya Ami dan Bara merencanakan mendatangi rumah keluarga besar Ami dengan membawa serta orang tua Bara.
“Mama tidak setuju” kata Humaira, ibunda Ami menjawab dengan tegas.