“Ami sudah tidak mencintai Rama, Ma. Rama juga begitu” tegasnya. Ami tidak ingin memperkeruh suasana dengan mengatakan bahwa Rama ternyata telah dijodohkan oleh orang tuanya.
Menghela nafas kasar, Humaira kembali membentak Ami.
“Kamu tidak bisa seenaknya mengajak laki-laki lain dan langsung ingin menikah, sedangkan Rama sudah melamarmu. Dimana hati nurani kamu hah?”
Ami tak memperdulikan lagi ucapan sang mama, dia sangat kesal karena mama dan keluarganya secara terang-terangan mengatakan ketidaksukaan mereka pada Bara, kekasih Ami sekarang.
Dua bulan yang lalu, saat Ami sudah menyelesaikan studinya di sebuah universitas ternama di Surabaya, Ami mulai tidak sabar membicarakan pernikahannya dengan Rama. Namun Rama dengan segala kesibukannya yang tumben menerima proyek besar di Lombok memilih mengabaikan Ami. Rama yakin hubungan mereka yang sudah berjalan tiga tahun itu tidak akan berakhir hanya karena kesibukan Rama selama dua bulan. Namun dugaan Rama salah, Ami begitu ambisius dengan keinginannya. Sebagai wanita yang begitu banyak digandrungi pria tampan disekelilingnya, Ami merasa sangat diremehkan oleh sikap Rama yang begitu cuek padanya. Padahal Ami merasa dirinya sudah sangat siap untuk menikah.
Bara yang begitu mencintai Ami sejak SMP, saat mendapat sinyal dari Ami bahwa ia siap dilamar, langsung mendatangi keluarga besar Ami dengan sang Ibu dan Ayah.
“Apa maksudnya ini?” dengan sikap tidak suka, Humaira menanyakan perihal kedatangan keluarga besar Bara ke kediamannya.
“Maafkan kami Bu Humaira dan Bapak Anton. Anak kami Bara sangat mencintai putri ibu, Ami. Kami tidak ingin terjadi fitnah atau mereka akan melakukan zina, jadi kami bermaksud melamar Ami” Ayah Bara menyampaikan niat baiknya mendatangi kediaman Ami dan bertemu dengan ayah serta ibu Ami.
Sesak di d**a Humaira semakin dirasakannya, pasalnya menantu idaman yang diharapkannya sudah melamarnya dan ternyata sekarang anaknya sudah tidak menginginkannya lagi.
“Kenapa Ra” lirih Anton yang melihat istrinya menahan nafasnya. Takutnya penyakit jantung istrinya akan kumat lagi.
“Jangan memaksakan diri Ra” sambung sang ayah lagi.
“Maafkan kami Ibu dan Bapak. Kami bukannya bermaksud menolak, tapi anak kami sebelumnya sudah dilamar oleh Rama, dan tinggal menunggu tanggal pernikahan” jawab Anton dengan tenang.
“Maaf bu, Aku sudah memutuskan hubunganku dengan Rama” potong Ami. Emosinya kini mulai tidak stabil. Bara memandangnya dengan lembut dan memintanya untuk diam, Bara tidak ingin kekasihnya beradu mulut dengan ibunya sendiri.
“Tapi Rama menelfon ibu kemarin nak, dia akan segera pulang akhir tahun ini untuk segera melangsungkan pernikahannya denganmu sesuai janjinya pada kami. Dimana akan kami letakkan harga diri kami jika memutuskan hubungan secara sepihak?” terangnya lagi.
“Intinya kami menolak lamaran ini, bukannya menolak nak Bara, tapi kami sudah menerima lamaran nak Rama” Jawab sang ibu.
Keluarga Bara akhirnya memutuskan untuk pulang dan akan memikirkan bagaimana selanjutnya.
Ami berlari kencang menuju kamarnya, dia menangis karena lamaran Bara ditolak oleh sang ibu.
“Pa, kenapa anak kita menjadi seperti ini? Mama tidak kuat” lirihnya.
“Ma, jangan terlalu dipikirkan sayang. Nanti mama sakit. Besok papa akan berusaha bercerita kembali dengannya. Sekarang mari kita tidur. Papa pengen mama” katanya pelan.
“Pa, kita sudah lima puluhan tahun ma. Bahkan sudah mau punya cucu. Jika Ami dan Rama menikah” Rara menekankan kata Ami dan Rara, dia lupa bahwa anaknya Ami hanya menginginkan Bara sekarang.
Malam yang sangat mengesankan bagi Bara, Ami dan keluarga besar mereka. Pertama kalinya mereka ingin bersilaturahim dan ingin menantu dalam keluarga besar mereka, justru penolakan yang diterimanya.
“Sabar sayang, sebagai seorang ibu mama mengerti dengan posisi Ibunya Ami. Anaknya sudah dilamar dan itu merupakan beban terberat dalam kehidupan bermasyarakat Bar” ibunya memberikan penjelasan agar anaknya tidak kecewa. Bara memang pernah berjanji pada ibunya, dia hanya menginginkan Ami sejak ditinggal oleh Keira, pacar setengah abadnya itu. Keira memilih menerima perjodohan orang tuanya dengan pria lain dan meninnggalkan Bara dalam sedihnya. Hingga ia Kembali teringat akan Ami cinta pertamanya saat SMP. Sehingga Naya, ibu Bara sekarang akan menuruti keinginan anak pertamanya ini. Sang adik Lala justru sudah memiliki anak, namun Bara tidak ingin menikah selain dengan Ami.
“Papa tidak akan setuju sama seperti mamamu, sebelum Rama sendiri juga datang dan menyelesaikan semua permasalahan ini” Kali ini Ayah Ami sangat marah pada Ami dengan sikap anaknya yang sering bergonta ganti pacar dengan cepat jika dikecewakan sedikit saja.
“Kamu bahkan pernah pacaran dengan Dirga selama 6 tahun, lalu hanya karena Dirga memilih kuliah di Yogya kamu memilih putus dan pacaran dengan Dirga, mama tau itu nak. Lalu kamu secepat itu terpesona dengan Rama yang merupakan pria tampan dengan perusahaannya yang sedang berkembang saat itu. Bahkan kamu sudah dilamar, apakah kamu lupa hah?” kali ini sang mama dengan lantang bersuara disamping Ami. Ami tak menjawab semua perkataan ibunya. Ibunya tak pernah tau deritanya di tinggalkan oleh Dirga yang sudah 6 tahun menjadi pacarnya, kemudian di bohongi oleh Rama yang ternyata sudah di jodohkan dengan orang lain.
“Sekarang, kamu seenaknya memutuskan Rama dan meminta laki-laki lain melamar kamu. Apakah kamu semurah itu Mi?” membuat Ami mendongak tak percaya dengan ucapan sang mama.
“Mama?” Ami tak percaya dengan ucapan mamanya. Mereka tidak pernah tau bagaimana Ami yang selama ini disakiti oleh Dirga, dibohongi oleh Rama. Mereka hanya tau Amilah yang bersalah.
“Jangan membuat mama terlalu kecewa Mi, mama akan sangat membencimu. Jangan paksa mama mengingat asalmu itu” kemudian berlalu pergi meninggalkan Ami yang terus memohon untuk diberikan restu.
“Mama, jangan menyebut itu lagi. Cukup ma” Ami menjawab dengan kasar dan kemudian dia pergi dari rumah itu dengan membawa motor matic kesayangannya.
Malam ini Ami kembali menemui Bara, dia ingin segera menyelesaikan masalahnya. Ia ingin segera menikah dengan Bara sebelum Rama datang. Ami tidak meminta ijin ibunya ketika memutuskan untuk keluar. Ia sudah sangat tidak peduli lagi.
“Hamili aku Bar” pintanya lirih.
“Apa?. Kau jangan bodoh Mi, itu dosa. Bahkan Tuhan sangat membencinya. Jalan kita akan semakin sulit jika mengambil jalan yang tidak diridhoi Mi” jawabnya perlahan.
“Jika kau menginginkan aku, lakukan Bar. Hamili aku” kembali ia bermohon.
Dalam sunyinya malam itu, Bara tidak ingin salah langkah. Dia memutuskan untuk segera mengantarkan Ami pulang kerumahnya. Ia memang sangat mencintai Ami, tapi pikirannya masih sangat normal. Ia ingin pernikahan yang indah dengan tawa keluarganya dan keluarga istrinya disana.