Ami tidak ingin pulang kerumahnya, dia meminta untuk di antarkan ke rumah Suci sahabatnya. Ami mengirimkan sebuah pesan kepada sang mama bahwa Ia sedang dirumah Suci. Suci adalah sahabat Ami dan juga anak sepupu ibunya. Sang ibu kemudian membalas dengan mengiyakan kata-kata anaknya setelah ia memastikan sendiri dengan menghubungi Suci melalui panggilan w******p.
Setelah
Bara menolak melakukan keinginan Ami, kini Bara masih fokus bagaimana cara meluluhkan hati kedua orang tua Ami. Namun memang tidak mudah, karena Ami sudah dilamar oleh Rama dan keluarganya juga Ami saat itu sudah menerimanya. Keluarga
Ami pasti tidak ingin menjadi omongan warga karena membatalkan pernikahan secara sepihak apalagi setelah itu justru menerima lamaran dari laki-laki lain.
Bara kembali menyampaikan niatnya kepada orang tua Ami tanpa sepengetahuan Ami. Bara ingin perjuangannya adalah karena usahanya sendiri. Namun ternyata orang tua Ami justru membuatnya sakit hati.
“Tidak, kamu tidak layak untuk Ami. Lihat saja dirimu? Apakah kamu layak untuk dia? Apapun yang terjadi antara kamu dan anakku, restuku tidak akan ada untuk kalian” kemudian Humaira pergi meninggalkan Bara sendirian di ruang tamu rumah
mewah itu.
Ami memasuki rumahnya ketika pekerjaannya telah selesai dan melihat Bara ada di sana, sendirian.
“Kak Bara? Kenapa di sini?” pandangan mata Bara sudah merah, nampaknya dia marah, sehingga akhirnya mengajak Ami keluar dari rumah itu.
“Kemana?” tanya Ami.
“Permintaanmu masih berlaku kan?” Bara semakin emosi dalam berkata-kata.
“Yang mana kak?”
“Untuk hamil agar kita direstui?” saat ini ini Bara menghentikan laju kendaraannya di pinggir jalan yang di tumbuhi pohon mahoni yang membuat jalanan itu semakin rindang.
“Maaf kak, saat itu aku emosi. Aku tidak mau memperkeruh hubunganku dengan mama dan papa” Ami menjelaskannya lagi pada Bara.
Bara memikirkan caranya sendiri, kata-kata tante Humaira adalah sebuah motivasi dan tantangan tersendiri baginya. Dia akan mendapatkan Ami dengan jalan apapun dan akan dipaksanya tante Humaira setuju dan merestui hubungan mereka dan bisa jadi
ke arah yang menuju pernikahan mereka.
Bara menunjukkan sikap yang sangat baik pada Ami dan akan membuat Ami tunduk padanya. Dalam penantian Ami yang berbulan-bulan pada Rama tanpa kabar, kali ini Ami memang sudah mantap berlindung pada pria yang hadir saat dia hampir kehilangan harga dirinya, yaitu Bara.
Ketika hati Ami benar-benar sudah berpaling pada Bara dan bahkan berani merencanakan pernikahan dengan Bara, Rama datang lagi.
Sementara itu, Rama menghubungi Ami yang kemudian menjelaskan perihal menghilangnya ia selama dua bulan karena urusan proyeknya di Lombok. Namun Rama tidak tau jika Ami sudah mengetahui tentang rencana perjodohan mereka. Ia sudah sangat
membenci Rama yang berani membohonginya dan mengabaikannya selama 2 bulan.
“Dua bulan Ram, dan itu bukan waktu yang singkat untuk membuktikan bahwa cintamu tidak sekuat kata-katamu” sarkas Ami pada Rama melalui panggilan telfon.
Rama hanya menghembuskan nafasnya perlahan.
“Ami, kenapa kau tidak mempercayaiku” lirihnya lagi.
“Hatiku yang tidak mempercayaimu Ram, kamu tidak sungguh-sungguh sibuk dengan urusan pekerjaan. Hatiku sangat menolak kehadiranmu lagi di sisiku Ram. Tolong mengertilah” Entah keberanian dari mana, Ami mengungkapkan semua kecurigaannya
selama ini pada Rama, hingga berujung dengan tidak berkabarnya dia pada Ami selama dua bulan dan menggunakan alasan pekerjaan.
“Tapi Mi” dengarkan aku dulu.
“Alasan klasik Ram. Aku sudah sangat mengenalmu, dan kamu terlalu banyak membohongiku” sarkasnya lagi.
“Ami, kita akan segera menikah, aku tidak ingin ini berakhir” Rama tetap bersikukuh.
“Memang aku akan menikah tetapi aku akan menikah dengan orang lain, orang yang ternyata sungguh-sungguh mengharapkanku Ram, tolong pergilah” Ami memohon.
“Tidak Mi” Namun Ami kemudian memutuskan sepihak panggilan telfon itu. Dengan kesal Rama membanting HP bergambar apel itu ke lantai dan pecah. Terlalu keras lemparannya tadi sehingga sepertinya ponsel itu tidak bisa diselamatkan lagi.
Lili sekretaris Rama mendengarnya dan langsung masuk ke dalam, ia takut terjadi sesuatu pada Bosnya itu.
“Pak Rama” panggilnya. Lili segera menghampiri Rama yang sedang dalam keadaan emosi.
“Pergilah, tinggalkan aku” lirih Rama. Ia mengusap matanya dengan kasar, mengacak rambutnya sendiri dan berharap akan lebih baik setelah ini. Ia memejamkan matanya dan duduk dengan kasar di kursi pimpinan di kantornya itu.
“Tapi pak?”
“Pergilah, bikinkan saja saya kopi. Ingat Li, setelah itu tinggalkan saya sendiri, jangan menggangguku”
“Baik pak”
Tak ingin berdebat, Lili memilih pergi keluar meninggalkan sang Bos dengan segala kegelisahannya di dalam ruangan mewah itu.
Kesalahan yang dilakukan oleh Rama memang banyak. Meninggalkan Ami tanpa kabar dan kemudian kepergok bersama wanita lain oleh orang tuanya dan Gauri. Walaupun Rama hanyalah iseng dan mengaku tidak pernah serius dengan wanita-wanita yang lain, namun jika kabar itu sampai pada Ami dipastikan Ami tidak akan menerimanya lagi. Rama kemudian memijit pelipisnya dan kembali mengacak rambutnya dengan kasar. Ia memang mengingat saat orang tuanya memintanya untuk menikah dengan anak teman bisnisnya. Saat Rama menolak, mamanya mengancam akan menghancurkan keluarga Ami tanpa bersisa. Rama sadar bahwa pengaruh bisnis ayah dan ibunya sangat besar sehingga jika hal itu benar-benar terjadi maka bisa saja orang tua Ami akan bangkrut dan jatuh miskin.
Rasa sayangnya pada Ami masih sangatlah besar, dia pernah berjanji pada dirinya sendiri akan memperjuangkan Ami untuk bisa menjadi istrinya, namun Ami ternyata tidak mengerti dengan keadaan dirinya. Ami kini benar-benar akan pergi meninggalkan dirinya. Awalnya Rama sangat yakin, dengan dukungan orang tua Ami, maka dirinya akan mampu membereskan semua permasalahan yang ada dan membuat orang tuanya merestuinya dengan Ami serta menghentikan perjodohan yang direncanakan orang tuanya padanya.
'Ami, tolong maafkan aku, tolong kembalilah padaku' lirih Rama dalam mimpinya.
"Pak, pak Rama, bangun pak" Lili sang sekretaris membangunkannya dengan goyangan di bahu Rama sehingga diapun tersadar.
"Jam berapa ini?"
"Sudah hampir jam 5 pak, sudah waktunya pulang"
"Hmmmm, kamu duluan saja, saya akan segera pulang"
"Tapi pak" Lili memang sudah terbiasa pulang bersama Rama, namun kali ini nampaknya Rama benar-benar sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Lili sadar, Rama memang pernah mengatakan bahwa dia sangat mencintai Ami, kekasihnya dan juga calon istrinya itu walaupun jiwa petualangnya kadang masih juga membara dalam dirinya.
"Pulanglah, saya ingin ke rumah Ami setelah dari kantor" tegasnya.
"Baik pak, saya pulang dengan Axel saja pak"
"Iya, pulanglah" tegasnya.