"Waaahhh yang benar saja ... jadi di rumah ini, kita cuma berdua?"
"Kebetulan nih ...."
Heru tersenyum sambil mengerlingkan mata jahil. Alisnya dinaik turunkan untuk menggoda Aryanti, hingga membuat wanita itu tersipu malu. Untuk menutupi rasa malunya kemudian dia berkata perlahan, "Jangan macam-macam, Mas, bahaya jika nanti mertuaku tiba-tiba datang."
"Memang kenapa kalau mereka lekas datang? Bukankah kamu sudah mengambil keputusan bulat untuk kabur dari tempat ini?" ujar Heru, dan perlahan-lahan semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Aryanti. Heru begitu menikmati kegugupan Aryanti sehingga dia berencana menggodanya.
"Ya_ya ... bisa bahaya ...," ujar Aryanti dengan tubuh menegang. Sekilas dia teringat segala percakapan mereka di chat WA sebulan lalu sebelum dia menikah dengan Anthony. Chat mesra yang dia pikir adalah chat yang dikirim oleh suaminya, Anthony. Chat mesra yang sempat membuat hatinya berbunga, melambung terbang ke awang-awang. Chat yang setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik selalu dia tunggu dan dia rindukan kemunculannya. Kini pengirim chat mesra itu telah kembali dengan raga yang nyata. Tiba-tiba bulu-bulu halus di tubuhnya berdiri tanpa terasa. Debaran halus kemudian menguasai hatinya. Tubuhnya bergidik dia merasa seolah banyak kupu-kupu beterbangan dalam perutnya.
Aryanti menapakkan kaki mundur ke belakang selangkah demi selangkah mencoba untuk menjauhi Heru yang dari tadi semakin mendekat ke padanya. Dengan gugup dia berkata, "A_a_apa yang akan kamu lakukan, Mas."
Bibir Aryanti semakin bergetar. Keringat dingin tiba-tiba membasahi telapak tangan dan keningnya. Semua itu semakin membuat Heru tertarik dengan wajah polosnya itu. Kini, Heru terus mendekat sambil tersenyum.
"Aku hanya ingin mencium harum tubuhmu," ucap Heru serak.
Iris matanya tiba-tiba berubah kelam menatap mata Aryanti yang semakin dekat dengan wajahnya. Keisengan yang dibuatnya tadi berbalik arah. Ketika melihat wajah polos Aryanti dari dekat, hasratnya tiba-tiba timbul bergejolak. Sedangkan Aryanti hanya mampu menghentikan gerak mundurnya karena kini tubuhnya telah membentur sisi meja makan.
Dia akhirnya pasrah menunggu wajah Heru yang terus semakin mendekat. Heru menangkup wajah Aryanti dengan kedua telapak tangan, ibu jarinya meraba telinga Aryanti dengan lembut kemudian meremasnya. Pandangan matanya menelisik wajah Aryanti dari mata, pipi dagu dan kemudian pandangan itu berhenti di bibir ranum wanita itu. Tangannya kemudian pindah meraba setiap lekuk bibir Aryanti. Sementara itu Aryanti memejamkan mata dengan bibir bergetar menikmati setiap sentuhan yang di berikan Heru dari inci ke inci di wajahnya.
Namun tidak lama kemudian Aryanti membuka mata dan tersenyum malu ketika mendengar bisikan dari Heru tepat di telinganya, "Sabar ... kita akan melakukannya setelah kamu lepas dari Antony, dan tentu saja setelah kita halal."
Aryanti menggelinjang geli ketika dengan nakal Heru sempat menggigit pelan daun telinganya. Dia memukul bahu Heru dengan pelan. Sedangkan Heru berusaha menghembuskan nafas kasar dengan penuh frustasi untuk meredam gejolak bira**nya yang tadi sempet mencuat. Jelas sekali terlihat, tidak hanya Aryanti namun Heru pun berusaha melawan hasrat mereka yang sempat tidak terkendali.
"Masuklah kamar sebelum aku lepas kontrol! Jangan gegabah! Tunggu interupsi selanjutnya dari aku," ujar Heru mendorong pelan bahu Aryanti.
"Kamu jangan berubah pikiran, ya, Mas," sambung Aryanti khawatir.
"Percayalah padaku! Jika aku sudah berjanji pantang buat seorang Heru untuk ingkar."
Heru menatap Aryanti dengan tatapan meyakinkan. Kecupan lembut dia daratkan di kening wanita itu. Aryanti beranjak dari tempat berdiri dan akhirnya berpindah menuju kamar. Sedangkan Heru juga melangkahkan kaki ke kamarnya dengan pikiran menerawang. Dia terus berfikir rencana apa yang akan dia lakukan untuk membantu Aryanti kabur dari sini.
"Untuk sementara urusan Ibu dan adik-adik kupikirkan nanti," gumam Heru pelan.
"Urusan apa Her?" Heru kaget ketika tiba-tiba dia mendengar suara Pak dhe Ramly dari arah belakang.
"Loh Pak dhe ... sudah pulang? Sejak kapan Pak dhe berdiri di belakang Heru?" Sangking gugupnya Heru malah menjawab dengan melontarkan pertanyaan balik.
"Koe ki kebiasaan, lek ditakok i wong tuwo ora njawab malah ganti takok.'
("Kamu itu kebiasaan, Jika ditanya orang tua bukannya jawab malah bertanya balik.")
"Eh Bu dhe ... Pripun asile wau perikso teng dokter? Bu dhe sayah nopo?"
("Eh Bu dhe ... gimana hasil periksa dokter? Bu dhe sakit apa?")ujar Heru ketika melihat Bu dhe Ramly melangkah masuk rumah di papah Bu lek Ratih adik bungsunya.
'selamat aku, untung ada Bu dhe masuk jadi Pak dhe Ramly lupa sedang menayakan apa tadi,' pikirku lega.
"Tekanan getihku moro-moro mudun, Her. Kok iso yooo padahal aku ga tau nduwe tekanan rendah lo."
(Tekanan darahku tiba-tiba turun, Her. Kok bisa yaaa padahal aku ga pernah punya tekanan darah rendah lo," ujar Bu dhe Ramly yang kemudian dipapah adiknya duduk di ruang makan.
"Bu dhe kekatahen pikir menawi."
("Bu dhe banyak pikiran mungkin.")
"Helehhh nggyaaadur po koe. Pikiran opo, jal kok anggep? Lawong duwet Lo aku mbruah. Wong seng kakean pikir kuwi lek mangan wae sek ndadak mbliengi lek ate golek,"
("Helehhh asal bicara apa kamu. Menurutmu pikiran apa? Sedangkan uang saja aku tuh banyak. Orang yang kebanyakan pikiran itu jika makan aja masih susah mencarinya,")
Bu dhe Ramly bicara sambil berapi-api. Keliatannya dia tersinggung dengan ucapan yang di lontarkan Heru. Padahal ucapan itu biasa saja sehingga membuat Heru hanya mampu menggaruk-garuk kepalanya meski tidak gatal.
"Ndi mantu pilianmu, Mbak Yu?"
"Mana menantu pilihanmu, Mbak Yu?" tanya Bu lek Ratih dengan judes.
"Mbuh ah. Koe lak yo nggenah aku tas mlebu omah bareng awakmu,"
("Gak tau. Kamu kan juga tau kalau aku baru saja masuk rumah bareng kamu," jawab Bu dhe Ramly tak kalah judes.
Di kampung, semua keluarga Bu Dhe Ramly memang terkenal judes dan galak. Orang tuanya, adik-adiknya, kakak-kakaknya semua terkesan angkuh. Setiap berkata-kata tidak pernah dipikir dulu. Apakah akan menyakiti hati orang atau tidak. Prinsip Meraka yang penting hati mereka tidak mengganjal walaupun itu mengorbankan perasaan orang lain. Harta membuat mereka berpikir bahwa uang bisa menjadi tolak ukur derajat dan harkat setiap orang.
Sudah menjadi rahasia umum keluarga dari Bu dhe Ramly memang tidak ada satupun yang setuju Anthony menikah dengan Aryanti. Alasan pokoknya adalah berbeda keyakinan. Akan tetapi Bu dhe Ramly menentang keputusan itu. Bu dhe Ramly merasa, bahwa dia akan sanggup membuat Aryanti mengikuti ajaran keluarga mereka. Namun karena usaha Bu Dhe Ramly tak kunjung berhasil membuat seluruh keluarganya murka. Perkara itulah secara otomatis menjadi imbas untuk Aryanti. Semua keluarga pada akhirnya tidak ada yang menyukainya salah satupun. Terlepas apapun yang dikerjakan Aryanti baik ataupun buruk di mata mereka, mereka tetap tidak suka.
Bersambung ...