RENCANA MELARIKAN DIRI 2

1252 Kata
Sudah menjadi rahasia umum jika keluarga dari Bu dhe Ramly memang tidak ada satupun yang setuju Anthony menikah dengan Aryanti. Alasan pokoknya adalah perbedaan keyakinan. Akan tetapi Bu dhe Ramly menentang keputusan seluruh anggota keluarga. Bu dhe Ramly merasa, bahwa dia akan sanggup membuat Aryanti mengikuti ajaran keluarga mereka yang sudah sejak lama mereka anut. Namun karena usaha Bu Dhe Ramly sampai saat ini tak kunjung membuahkan hasil membuat seluruh keluarganya murka. Perkara itulah secara otomatis menjadi imbas untuk Aryanti. Semua keluarga pada akhirnya tidak ada yang menyukainya salah satupun. Sikap mereka sangat buruk. Terlepas apapun yang dikerjakan Aryanti baik ataupun buruk di mata mereka, mereka tetap tidak suka. Aku pamit pulang ke pada Pak dhe Ramly tiga hari sebelum Anthony kembali dari peternakan luar kota yang dia tangani. Namun aku tidak benar-benar pulang, aku tetap berjaga di sekitar rumah Pak dhe Ramly untuk menyusun rencana kabur bagi Aryanti. Mungkin kali ini pekerjaan di peternakan begitu sangat menyita waktu Anthony. Sehingga yang biasanya dia pulang tiga hari sekali, atau paling lambat seminggu sekali kini sampai hampir dua Minggu Anthony belum menampakkan batang hidungnya di rumah itu. Kali ini, dua Minggu Anthony tidak pernah pulang ke rumah dari peternakan. Namun sekali pulang, aku kaget ketika melihat seluruh wajah Aryanti terlihat lebam-lebam. Aku meradang, perasaan marah, kesal, khawatir, jengkel, bahkan cemburu pun ikut campur aduk menguasai pikiranku. Sejak Aryanti bercerita jika setiap lebam itu dia dapat, selalu setelah Anthony memberikan nafkah bathin untuknya, untuk itu aku jadi berfikir semenjak Anthony pulang pasti mereka selalu melakukan itu. Karena Aryanti pernah bilang, Anthony melakukan kekerasan itu hanya pada saat dia ingin melepas hasratnya saja. Sedang jika tidak lagi ingin melakukan hubungan suami istri sikap Anthony sangat baik padanya. Dua hari aku tidak melihat Aryanti keluar rumah. Semua itu membuat rinduku membuncah. Entah apa yang dia lakukan di dalam sana sehingga sudah dua hari ini dia tak menepati kesepakatan untuk menampakkan diri. WA dia tidak aktif. Bahkan sepertinya ponsel dia mati. Di tempat aku berdiri memantau, aku melihat tubuh Aryanti di bopong Anthony menuju mobil. Tak lama kemudian dari arah belakang mereka, dengan tergesa-gesa Pak Dhe dan Bu dhe Ramly mengikuti langkah-langkah mereka. 'Apa yang terjadi?' pikirku risau. "Bapak dan ibu di rumah saja, biar aku sendiri yang mengurus dia," ucap Anthony yang sempat aku tangkap. Aku segera mengikuti laju mobil yang di kendarai Anthony dengan motor Kang Maman sahabatku. Sepertinya mereka menuju rumah sakit terdekat. Karena tidak lama kemudian kami sudah berada di depan sebuah rumah sakit di daerah tempat kami tinggal. Setelah memarkir motor, dengan cepat aku menuju ruang gawat darurat . Namun sepertinya Aryanti sudah di tempatkan dalam suatu ruangan. Aku mencari info di resepsionis rumah sakit untuk menanyakan pasien baru masuk yang bernama Aryanti di tempatkan di ruang bagian apa. Setelah info aku dapat aku segera berlari menuju kamar yang di sebutkan salah seorang suster tadi. Kulihat dari kejauhan tubuh Anthony mondar-mandir gelisah. Untuk sementara aku memantau dari jauh. Menjaga kemungkinan dia mengenaliku, aku mengenakan jaket yang ada topinya tak lupa masker putih bertengger menutupi hidung dan mulutku. Ku awasi gerak-gerik Anthony dengan cermat. Aku tak ingin sedikitpun lengah. Kulihat seorang dokter keluar dari ruangan di mana Aryanti dirawat. Setelah dokter itu pergi tak lama kemudian Anthony memasuki ruangan itu. Entah apa yang mereka bicarakan karena dari sini, aku sama sekali tidak mendengar suara mereka. Apalagi suasana rumah sakit yang lagi ramai. "Kenapa masih kemari?" Aku terkejut saat Anthony bertanya gusar sambil menghadap ke arahku. 'Apakah dia mengenaliku?' "Bagaimana bisa ibu sama bapak santai di rumah jika tidak tahu sama sekali kelanjutan kabar dia." Aku sempat akan melangkah mendekatinya ketika ku dengar suara Bu dhe Ramly dari arah belakangku menjawab pertanyaan yang dilempar Anthony tadi. 'Haaahhh ...' Aku bernafas lega. Aku segera berjongkok pura-pura membenahi tali sepatuku untuk menjaga kemungkinan mereka menyadari keberadaan ku. "Sudahlah kalian pulang aja," lanjut Anthony kemudian. "Yo gak bisa begitu to, Le. Kami dah sampai sini. Ayo kita masuk, aku juga pingin tahu apakah dia tidak parah." Pak Dhe Ramly menimpali. Kemudian aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena selepas itu mereka bertiga masuk ke dalam ruangan. Kini aku duduk di kursi tempat keluarga pasien lain. Sambil mataku tak lepas memandang ke arah ruangan Aryanti dirawat. Setelah menunggu dengan bosan aku melihat Pak dhe, Bu dhe Ramly dan Anthony keluar di iring dokter. Sampat kaget juga karena aku tadi tidak melihat kapan dokter muda itu masuk ke ruangan. Mungkin karena sempat fokus berselanjar di dunia maya membuat aku tak terlalu memperhatikan saat Sang dokter masuk. "Tidak bisa, Dok. Dia istriku aku yang berhak menentukan. Pokoknya bikinkan surat besok dia harus keluar dari sini." "Maaf, Pak ... tapi luka istri Anda parah sekali. Saya tidak bisa mengijinkan dia keluar besok. Paling enggak biarkan dia menginap di rumah sakit semalam lagi," ujar dokter itu mendesah berat sambil melihat ke arah Pak dhe dan Bu dhe Ramly. "Iya lo, Le. Besok seharian acara kita ibadah kamu tidak bisa meninggalkannya hanya untuk menjemput Aryanti." Bu dhe Ramly berucap menengahi ketika melihat Anthony ingin membantah perkataan dokter. "Haaahhh ... sudah ku bilang, kalian tadi ga usah ke sini. Jadi ribet kalau kalian ada. Ayo kita pulang kalau begitu," ujar Anthony kesal. Setelah kepergian mereka, akhirnya aku menuju ruangan Aryanti. Kulihat wanitaku itu tergolek lemah. Kasihan sekali. Wajahnya biru, bibirnya bengkak sedangkan seluruh tubuhnya luka dan lebam. "Ahhh ...," rintih dia ketika aku menyentuh punggungnya. "Kamu datang," ucap dia pelan sambil terisak. Aku memeluk tubuhnya dengan erat. Walau sering aku mendengar dia merintih namun ketika aku ingin melonggarkan dekapan dia berusaha mengeratkan kembali. Seolah tak ingin melepaskanku barang sekejap. "Apakah Kamu bisa berjalan?" Dia mengangguk cepat. "Bersiaplah besok pagi-pagi sekali kita laksanakan misi ini. Apakah Kamu sudah siap?" Ku lontarkan pertanyaan lagi sambil berbisik. Sekali lagi dia mengangguk. Mungkin bengkak di bibirnya tidak memungkinkan dia berbicara banyak. "Oke ... beristirahatlah malam ini. Makan yang cukup jangan lupa minum obat. Kamu harus cepat pulih karena esok Kamu akan melakukan perjalanan jauh." Dia kembali mengangguk, tapi kali ini ada binar bahagia terpancar di matanya. Dia berusaha tersenyum saat aku mengacak rambutnya. "Aku pulang dulu ...," ucapku pelan sambil mengecup pelan bibirnya. Walaupun merintih namun sekilas senyum terukir di bibir bengkaknya. Sebelum beranjak sekali lagi ku peluk erat tubuh penuh luka itu. Kemudian aku melangkah manuju ke luar ruangan. Hari ini akan menjadi hari paling bersejarah dalam hidupku. Di mana pada hari ini aku mempertaruhkan kehidupan ibu beserta adik-adikku. Bagaimana lagi? Aku benar-benar tak sanggup melihat wajah gadis pujaan ku itu bersimbah air mata. Tak hanya itu setiap suaminya pulang lebam serta biru selalu menghiasi tubuh dan wajahnya. Aku tidak bisa lagi membiarkan dia tersiksa. Aku juga akan berusaha sebisa mungkin tidak mengorbankan kehidupan ibu dan adik-adikku. Dan aku harus bermain cantik. Dengan berbekal uang tak seberapa aku menyuruh Aryanti untuk mengikuti segala panduan kabur. Tempat sudah kusediakan di luar kota. Agar Anthony tak mudah melacak keberadaan dia setelah ini. "Untuk keperluanmu setelah ini, jangan khawatir, aku akan menanggungnya," ucapku sambil mengusap kepalanya. Dia tersenyum dan mengangguk. Aku sengaja tidak membersamainya untuk menghilangkan jejak jika semua ulah ini akulah dalangnya. "Percayalah ... aku akan melindungimu," ucapku sambil menggenggam tangannya yang terasa dingin. Semula Aryanti ketakutan keluar dari rumah sakit tempat dia dirawat. Perbuatan menegangkan itu memang belum pernah dia lakukan. Jangankan keluar jalan, di rumah, keluar gerbang saja tidak pernah dia lakukan jika tanpa didengani ibu mertuanya. Saat itu memang sudah kami rencanakan. Di saat seluruh keluarga berangkat untuk ibadah, aku menyuruh Kang Maman untuk menjemput Aryanti di perempatan jalan dekat rumah sakit. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN