PINJAMAN DARI BANK

1030 Kata
Part 26 Kini genap tiga bulan sudah setelah kejadian peminjaman uang tersebut. Setelah proses jual beli tanah sukses mereka sepakati. Akhirnya surat tanah itupun sukses juga mereka balik nama. Kemudian setelah itu mereka mencoba memasukkan surat itu untuk mendapat pinjaman. Hanafi dan Ida masih sibuk mengusahakan keluarnya uang dari Bank yang dia janjikan ke pada Heru dan Aryanti. Semua Bank yang mereka masuki mayoritas banyak yang kaberatan mengeluarkan pinjaman, apalagi dengan jumlah sebesar seratus juta. Ditambah lagi mereka baru memulai menjadi nasabah. Namun perlu diakui mereka memang begitu gigih berusaha. Apalagi Ida, dia bahkan masih dengan kata-kata penuh percaya diri akan mengusahakan di Bank lain. Tidak menunggu lama semua Bank mereka datangi. Namun semua hasil sama walaupun dengan alasan berbeda. Intinya Bank tidak bisa mengeluarkan pinjaman sebanyak itu apalagi dengan nasabah baru. 'Benar yang dikatakan Aryanti. Untuk meminjam uang dalam jumlah banyak, selain persyaratan harus terpenuhi memang harus menciptakan nama baik dulu agar Bank percaya,' pikir Ida kalut. Karena kegigihan, mereka akhirnya mendapat pinjaman dari sebuah Bank swasta. Namun mereka harus menelan kekecewaan karena pinjaman yang didapat bukan seratus juta seperti yang mereka harapkan. Namun Bank hanya mau memberikan pinjaman sebesar tiga puluh lima juta rupiah itupun dengan suku bunga yang sangat tinggi. "Bagaimana, Mas. Kita ambil, kah, yang ini?" ujar Ida meminta pendapat suaminya. "Terserah kamu aja, bukannya dari kemaren untuk mengambil keputusan sebesar ini kamu mengabaikan persertujuanku," jawab Sang Suami dengan acuh. "Mulai deh. Ngajakin berdebat tak tahu tempat," gumam Ida pelan, namun masih sempat terdengar di telinga Hanafi. Karena sudah banyak Bank yang dimasuki dan hanya Bank ini yang memberi pinjaman. Meskipun dengan bunga di atas rata-rata. Ida dan Hanafi pun akhirnya mengambilnya walau dengan perasaan terpaksa. Setelah menandatangani segala persyaratan yang ada. Mereka kemudian pulang ke rumah dengan langkah lesu membawa uang pinjaman yang tidak sesuai ekspektasi mereka. Wajah Hanafi serasa tersiram kotoran. Dia begitu malu membayangkan bagaimana respon yang akan dia terima dari sikap Heru, apalagi Aryanti yang dengan jelas dari awal tidak setuju dengan permintaan Ida, istrinya. Tentu saja mereka bingung harus menyusun kata-kata yang pas agar Heru dan Aryanti tidak kecewa. "Sudah dari awal kubilang, tak usah menurutkan ego. Jika memang belum bisa mempunyai rumah disabari dulu. Kamu bingung mengajak berhutang." Hanafi sudah tidak sanggup menahan emosi yang ada. Masih berada di depan rumah dia sudah mengomeli Ida yang tengah berjalan di belakangnya. Ida celingak-celinguk melihat sekeliling. Dia begitu khawatir jika ada tetangga yang mendengar omelan suaminya. Bergegas Dia membuka pintu dan menyerobot masuk ke dalam mendahului Hanafi. "Kamu menyalahkan aku, Mas?" Setelah sampai di dalam rumah Ida akhirnya meradang. Kekesalan yang dari tadi dia pendam mulai menyeruak "Bukan menyalahkan. Aku hanya memberi tahu bahwa ini kekhawatiran aku kemaren," jawab Hanafi membela diri. "Tidak bisa begitu. Berapa tahun kita menikah? Apa yang kita punya? Memang aku salah kalau mencoba jalan lebih baik?" "Lebih baik apa. Kalau kenyataannya malah membuat kita jatuh ke dalam lubang. Kalau begini akhirnya, tanpa disadari kamu bisa menghancurkan persaudaraanku dengan Heru." "Sudah sudah sudah jangan terus menyalahkan. Jangan seenak sendiri. Sekarang menyalahkan. Kalau kemaren rencanaku berhasil. Kamu juga ikut menikmatinya." Ida kemudian beranjak meninggalkan suaminya dengan kesal dia tak ingin lagi meneruskan perdebatan keputusan yang sebenarnya dia sesali. Brakkkk Ida mendengar barang dibanting dengan keras. Untung kini dia sedang ada di dalam kamar. Kalau tidak mungkin barang itu akan mampir di kepalanya. Dia sangat tahu bagaimana sifat keras Hanafi. Keberuntungan saja yang kemaren bisa dia dapat ketika Hanafi melemah dan menyetujui keputusannya. Namun keberuntungan itu ternyata tidak lama dia peroleh. Pihak Bank tidak memuluskan rencana yang telah disusunnya jauh-jauh hari sebelum Aryanti kembali dari Hongkong. "Tuhaan aku tidak ada niatan membohongi Aryanti. Namun kenapa urusan ini begitu susah," ratapnya penuh dengan penyesalan. Dihadapan suami dia mampu menutupi penyesalan yang dia rasakan. Akan tetapi saat sendiri begini dia benar-benar menyesali kaputusan dia yang gegabah. "Apa aku salah jika ingin seperti orang lain. Aku hanya ingin memiliki hunian. Semua teman sudah memilikinya. Sedangkan aku ...," Kembali dia menangis antara takut dan sedih. Tok tok tok tok Suara pintu yang diketuk membuat nyalinya menciut. Dia benar-benar bisa membayangkan jika sang suami marah. Dulu saat pertama kali menikah tak satu kali dua kali dia merasakan tendangan dan pukulan saat Hanafi marah. Semenjak anak keduanya lahir sikap itu sudah tidak pernah ditunjukkan Hanafi. Kini anak keduanya berumur sepuluh tahun. Jadi sudah bisa di hitung sepuluh tahun lamanya sifat kasar sang suami tidak pernah dia rasakan. "Buka pintu!" Suara Hanafi menggelegar di luar kamar. Ida begitu bingung bertindak. Akan membuka pintu atau membiarkan Hanafi berteriak-teriak di luar sana. Jika membiarkan Hanafi berteriak-teriak di luar hasil akhirnya akan tetap sama dia akan mendobrak pintu dan akan memukulinya seperti peristiwa beberapa tahun silam. "Buka pintu!' Kembali suara Hanafi menggelegar semakin membuat nyalinya menciut. Namun dia tidak bisa diam. Dia harus bertindak. Segera dia beringsut dan membuka pintu. Ida memejamkan mata saat pintu sudah dia buka. Sudah bisa di bayangkan apa yang akan terjadi dengan mukanya kali ini. Terakhir kali dia kena bogem mentah sang suami membuat gigi depannya tanggal. Sekarang entah apalagi yang akan dia alami. Sekian lama dia memejamkan mata, namun tak ada pergerakan apapun bahkan dia rasakan angin yang melewatinya. Ketika dia membuka mata secara perlahan. Sudah tidak dia dapati Hanafi berdiri di depannya. "Sini, duduklah!" Terdengar suara Hanafi di belakangnya. Rupanya kini Hanafi sedang berbaring di atas ranjang. Pandangannya menerawang. Sedangkan Ida perlahan-lahan mendekatinya masih dengan perasaan takut. "Apapun yang terjadi kita harus bicara sama Heru dan Aryanti," ucapnya memecah keheningan yang beberapa saat terjadi. "Ini salah kita, dan kita harus bertanggung jawab," lanjutnya kemudian. Sedangkan Ida masih diam saja karena perasaan takut masih menggelayutinya. Malam itu mereka berdua susah tidur. Tak ada obrolan yang terjadi di antara mereka. Diam dan hanya menatap langit-langit kamar sambil pikiran menerawang jauh. Sampai kokok ayam fajar terdengar mata mereka tak juga mampu terpejam. Hanafi turun dari ranjang dengan malas saat terdengar suara mengaji di musholla, menunjukkan bahwa sebentar lagi adzan subuh akan berkumandang. "Aku pergi ke musholla dulu," ucap Hanafi sambil melihat Ida yang masih gegoleran di atas ranjang. Sedangkan Ida hanya menatap sayu kepergian sang suami tanpa berniat beranjak dari tempat dia berbaring. Tubuh miring ke kiri dan ke kanan masih dengan pikiran menerawang. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN